PendidikanSalingka Nagari

Untuk Sampai di Sekolah, Anak-Anak Taratak Baru Harus Menyebrang Kali Berjuang Melawan Maut

×

Untuk Sampai di Sekolah, Anak-Anak Taratak Baru Harus Menyebrang Kali Berjuang Melawan Maut

Sebarkan artikel ini


SOLOK, JN– Perjuangan anak-anak nagari tertinggal di Kabupaten Solok untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sungguh luar biasa.


Dimana untuk mendapatkan pendidikan saja, mereka harus berjuang melawan maut setiap hari, menuju ke sekolah mereka.
Salah satu kisah nyata yang sampai saat ini masih ada anak-anak sekolah berjuang melawan maut untuk sampai di sekolah mereka adalah kisah anak-anak di daerah terisolir yang tinggal Jorong Taratak Baru, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok.Meski sudah pernah diberitakan,  namun kondisi mereka saat ini masih tetap sama,  belum ada perubahan pembangunan untuk sarana pendidikan. 

Sebagai gambaran,  Jorong Taratak Baru, berada dibagian Timur Nagari Sariak Alahan Tigo. Untuk melanjutkan ke sekolah SMP, anak-anak Jorong Taratak Baru, harus menyeberangi Sungai sepanjang 15 meter dengan meniti jembatan bambu yang hanya satu batang yang dibuat masyarakat setempat agar sampai di sekolah mereka yakni SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti, yang berjarak sekitar 3 Kilometer dari jorong Taratak Baru dengan berjalan kaki. 
“Habis bagaimana lagi, kita harus sekolah untuk lebih pinter agar bisa membangun Nagari,” tutir  Yuni (13) pelajar kelas VII, SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti, ketika ditanya usai meyeberang jembatan yang setiap saat menghadang maut  untuk menuju sekolah mereka. 
“Jalan sih ada yang memutar, tetapi untuk sampai ke sekolah butuh waktu sekitar 2 jam jalan kaki  memutar menuju arah Utara. Kalau ini hanya bisa ditempuh setengah jam saja jalan kaki,” tambah Yuliati, yang diamini temannya Dini (13).

Tokoh masyarakat Sariak Alahan Tigo yang juga mantan Walinagari Sariak Alahan Tigo dan saat ini menjabat anggota DPRD Kabupaten Solok,   Efdizal Mandaro Sutan menyebutkan bahwa anak-anak Taratak Baru memang  harus berjuang menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras. Mereka menyeberangi sungai kala berangkat dan pulang sekolah setiap hari. “Yang tambah susah adalah disaat musim hujan, air sungai naik dan arusnya semakin deras. Kondisi ini kerap membahayakan nyawa anak-anak yang menyeberang untuk bersekolah, tetapi apalah daya kita,” jelas Efdizal.

Baca Juga :
Bupati Solok Lakukan Penanaman 3000 Bibit Manggis Bersama Petani di Nagari Kinari
Baca Juga :
Bupati Epyardi Asda Lantik 80 Orang Kepala Sekolah SD dan SMP di Kabupaten Solok


Hasil dari peninjauan, jumlah anak yang setiap hari menyeberangi sungai untuk bersekolah mencapai lebih dari 20 anak. Mereka rata-rata anak  SMP. Sementara sekolah  SD yang terdekat ada di Jorong mereka.

Sebenarnya, selain di Nagari Sariak Alahan Tigo, masih banyak anak-anak di Nagari lain di Kabupaten Solok, yang harus berjuang melawan maut untuk sampai ke sekolah, seperti menyeberang sungai, menyeberang hutan dengan ancaman binatang buas atau juga berhadapan dengan babi hutan seperti di Garabak Data, Pasilihan, Siaro-Aro, Sungai Abu, Air Dingin dan juga Talang Babungo serta Nagari lainnya di Kabupaten Solok (wandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.