SOLOK, JN- Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada hambanya, diluar batas kemampuan hambanya.
Selain itu, Tuhan juga tidak akan merubah nasib seorang hambanya, kalau hambanya sendiri tidak mau merubah nasibnya.
Setidak-tidaknya begitulah prinsip hidup yang dianut oleh seorang wanita tangguh asal Padang kunik, Jorong Sawah Sudut, Nagari Selayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, yakni Sri Rahayu (32).


Semenjak resmi menyandang status janda 6 tahun lalu, Sri Rahayu, harus menjadi tulang punggung keluarga yakni menghidupi dua orang anak dan kedua orang tuanya.”Dua orang tua saya sudah tidak bisa bekerja dan sudah sakit-sakitan. Jadi beliau juga tanggungjawab saya,” tuturSri Rahayu, saat mengisahkan perjalanan hidupnya kepada Koran Padang, Minggu (6/7).

Meski single perent, tetapi Sri Rahayu memiliki cita-cita yang luar biasa. Selain itu, ditengah mencari nafkah, Sri Rahayu juga melanjutkan pendidikan S2 PAI UIN Imam Bonjol Padang dan sudah di wisuda dua tahun lalu.
Awalnya, Tahun 2010, Sri Rahayu kuliah S1 di STAI Solok SNI, sambil berjualan sayur si pasar Raya Solok. Bahkan Sri harus bekerja serabutan untuk tetap bertahan hidup dan menamatkan cita-citanya.Selain jualan sayur, Sri juga pernah honor diSD Negeri 30 Salayo, dan pernah juga honor di SMP 6 Kubung, juga pernah Honor di Pemda Kota Solok pada Dinas UMKM.

Orang tua Sri Rahayu

“Selain tulang punggung anak-anak, dan juga tulang punggung kedua orang tua, saya juga menjadi tulang punggung dari satu adik perempuan saya yang saat ini masih kuliah di UIN Imam Bonjol Padang,” terang wanita tangguh tersebut.

Sebelum pandemi, tanpa mengenal rasa lelah setiap hari sudah berjualan buah dari kantor ke kantor.Siap dzuhur pergi ngajar ngaji ke masjid Agung, kota Solok, rutin hingga sekarang.
“Walaupun saya sibuk, tetapi tanggung jawab pada kedua buah hati tetap dilaksanakan. Sekali sebulan kami tetap pergi piknik. Dan setiap selesai sholat magrib kami juga selalu baca Al Qur,an bersama sama. Intinya kami tetap bersyukur dan bekerja keras,” sebut Sri Rahayu.

Kunci sukses Sri Rahayu, hanya satu yakni tidak mengeluh. “Percayalah, Tuhan tidak akan merubah nasib kita, kalau kita sendiri yang tidak mau merubahnya,” tutur wanita cantik ini dengan sangat optimis.


Meski niat Sri Rahayu bekerja sangat mulia yakni untuk menyambung hidup dan melanjutkan kuliah, namun berbagai pengalaman sinispun sempat dialaminya. Diantaranya adalah ada juga ibu-ibu yang cemburu buta karena suaminya sering bertegur sapa dengan pihaknya. Mungkin karena  dia seorang janda, dan ibuk tersebut mungkin mengira atau menuduh dirinya seorang janda murahan
“Padahal saya seorang  janda yang bisa jaga diri dan kehormatan. Dan tidak segampang itu, namun senyum kita kepada sesama diartikan lain. Ya  begitulah kalau jadi janda, semua serba salah,” tutur Sri Rahayu.Menjadi janda itu memang serba salah. Kadang orang yang tidak mengerti, bisa salah faham. “Terlalu sering bertegur sapa, dibilang genit. Gak bertegur sapa dibilang sombong. Keluar malam beli sesuatu, lain lagi pandangan orang. Pokoknya serba salah,” sebut Sri Rahayu.


Saat ini kedua orang tua Sri sudah sakit sakitan, tidak bisa lagi bekerja.
Waktu kuliah mengambil S2, Sri honor di pemda, bekerja dari pagi sampai sore sehingga saya gak bisa berdagang seperti biasa. “Untuk mencukupi kebutuhan hidup, setiap hari Sabtu dan Minggu pagi-pagi saya keladang memetik daun singkong, daun pisang, lalu saya jual kepasar. Ya dengan itulah saya bisa beli  persediaan lauk di rumah untuk seminggu. Alhamdulillah setelah selesai S2, ada tes guru ngaji di masjid Agung dengan gaji 2000.000/bulan. Saya ikut tes alhamdulillah lulus,,sampai sekarang saya masih guru ngaji di masjid Agung Solok,” terang Sri Rahayu.
Usaha Sri Rahayu memang serabutan. “Sambil saya jualan baju kekantor kantor, kalau musim buah saya juga jualan buah setengah hari. Setiap  hari Minggu saya kadang jualan ke GOR H. Agus Salim, Padang. Alhamdulillah saya bisa membiayai anak dan keluarga. Wakau tidak hidup mewah, tetapi kami selalu bersyukur bisa berkumpul dan saling menyayangi,” tutur wanita cantik ini penuh optimis.
Sri Rahayu berprinsip,terkadang kita berpikiran hidup kota susah tetapi sebenarnya ada orang lain yang lebih susah dari kita.
Cita-citanya hanya ingin bekerja halal dan bisa membahagiakan kedua orang tua dan anaknya (wandy)

di masjid Agung kota Solok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here