Masyarakat Tigo Lurah Terus Menjerit Meminta Keadilan

0
736

SOLOK, JN-Meski sudah nyinyir dan hampir setiap saat diberitakan, namun hingga saat ini nasib Kecamatan paling tertinggal di Kabupaten Solok, tetap belum berubah.

Kondisi dan akses jalan dari Sirukam, yang merupakan satu-satunya pintu gerbang masuk utama ke Tigo Lurah, juga sangat memprihatinkan. Sudah jalan buruk, berlobang-lobang, sempit dan ditambah pula semak belukar setinggi tiga meter mengapit kiri kanan jalan.

Selain itu, jika terjadi kecelakaan, hampir tidak ada yang tau atau akan lama mendapat pertolongan, karena akses jalan yang berada di tengah hutan dan jarang yang melintas, terutama pada sore dan malam hari.

Diyakini warga sekitar, hingga saat ini Kecamatan Tigo Lurah di Kabupaten Solok, masih tetap menjadi kecamatan paling terisolir di Kabupaten Solok karena letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka.

Meski berada jauh dari pusat kota, namun Kecamatan Tigo Lurah akan berusaha bangkit untuk setara dengan daerah lain. Saat ini setiap nagari di Kecamatan Tigo Lurah sudah memiliki SD dan SMP. Bahkan di pusat kecamatan di nagari Batu Bajanjang, juga sudah ada sebuah SMA Negeri. “Kita akan terus berjuang agar Tigo Lurah tetap bisa sejajar dengan kecamatan lain di Kabupaten Solok,” jelas Camat Tigo Lurah, Sarmaini, Kamis (14/11).

Saat ini menurut Sarmaini, yang menjadi kendala utama untuk menuju ke Tigo Lurah adalah bila musim hujan tiba, maka jalan akan terlihat becek dan seperti kubangan kerbau. “Kita akan berupaya memperjuangkan ini bersma-sama, baik ke Kepala Daerah atau DPRD agar langkah Tigo Lurah terbebas dari ketertinggalan bisa terwujud,” terang Sarmaini.

Sementara warga nagari Batu Bajanjang, Yongky (51) juga menjelaskan bahwa bila hujan turun, maka akses jalan menuju nagari di Tigo Lurah akan memilukan. “Bila hujan dalam turun seperti saat ini, maka kami tidak bisa bepergian ke lura kecamatan, karena kendaraan tidak bisa jalan di lumpur,” jelas Yongky.
Selain ke Garabak Data, jalan menuju nagari ke Rangking Luluih juga belum beraspal. Jalan penuh tanjakan, dan licin saat musim hujan. Bukan saja kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun kesulitan mencapai pusat pemerintahan yang berada di Kapujan ini.
“Namun jika dibandingkan dengan lima dan sepuluh tahun lalu, saat ini kondisi jalan ke Tigo Lurah sudah jauh lebih baik. Misalnya dari Sirukam, Kecamatan Payung Sekali hingga ke Simanau, nagari pertama di Tigo Lurah dari arah Sirukam ini, sudah banyak yang diaspal. Bahkan dari Simanau ke Kapujan aspalnya masih mulus karena baru saja diaspal.

Sebagai daerah paling terpencil, Tigo Lurah menjadi perhatikan bagi Pemkab Solok. Karena setiap tahun tetap ada dana yang dialirkan ke Kecamatan ini. Hanya saja pembangunan jalan terkendala oleh posisi daerah ini sebagai hutan lindung dan masuk paru-paru dunia. Karena itulah Nagari Garabak Data misalnya, hingga kini masih berjuang untuk menikmati jalan beraspal. Nagari yang berbatasan dengan Dharnasraya ini belum tersentuh aspal. Pemerintah Kabupaten Solok maupun Pemprov Sumbar pernah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membuka akses jalan ke nagari ini. Namun saat itu terkendala oleh hutan lindung.

Namun saat ini hak izin pajainta sudah keluar, namun haruskah Tigo Lurah masih layak tertinggal?
“Kita jelas menunggu realisasi janji Kepala Daerah dan anggota dewan sewaktu mereka bekampanye akan pro ke Tigo Lurah, ” terang tokoh masyarakat Garabak Data, Pardinal (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda