Kakao Asal Solok Mendapatkan Penghargaan Pada Perlombaan Cokelat Internasional di Paris

SOLOK,  JN- Jika selama ini Indonesia dikenal sebagai penghasil biji kakao, cokelat olahan Indonesia juga ternyata juga tak sukses bersaing di ajang internasional. 
Penghasil coklat di Indonesia yang terkenal adalah dari Sulawesi,  NTT,  bali, Aceh dan Sumbar. 

Pada  pamerab Salon du Chocolat Cokelat Minang yang mengandung 100 persen biji kakao asal Solok, Sumatera Barat berhasil mendapatkan penghargaan pada Perlombaan Cokelat Internasional yang diselenggarakan oleh AVPA pada Juni 2021 di Paris.
Salon du Chocolat adalah pameran cokelat paling bergengsi di dunia, yang selalu dilaksanakan hanya di beberapa-kota besar seperti Paris, Tokyo, New York dan Moskow.Yang terbesar dari semuanya adalah di Paris, karena lebih dari 500 produsen cokelat dari seluruh dunia akan memamerkan produk cokelatnya.
Salah satu produk coklat asal Solok yang dipamerkan adalah tanaman coklat milik  Busron (60), dari Kelompok Tani Saiyo,  Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.
Busron menjadi petani kakao sejak tahun 2000 dan sudah sering mendapat penghargaan. Salah satunya adalah Pelopor perkebunan komoditas kakao Kabupaten Solok, Busron Bahar dinobatkan sebagai terbaik I tingkat nasional pada tahun 2018.
Menurut Busron, budidaya kakao ternyata sangat menguntungkan. Mengingat, tiap dua minggu sekali (sebulan dua kali) petani bisa panen kakao.  Biji kakao yang sudah  kering bisa dijual ke mitra (PT Pengelola Aset Islamiah Indonesia (PAII) dengan harga Rp 30.000/kg.
Apabila dikalkulasi, dengan produktivitas 2,2 ton/ha/tahun, Busron setidaknya bisa mengantongi pendapatan dari budidaya kakao sekitar Rp 66 juta/ha/tahun. Atau kalau dikalkulasi per bulannya, Burson paling tidak bisa memperoleh hasil dari kakao sekitar Rp 6 juta/bulan/ha.

Baca Juga :
Mayat  Ngambang Yang Ditemukan di Batang Lembang Ternyata Anak Dari Seorang Anggota Kepolisian


“Kakao yang kami budidaya dilakukan dengan teknik sambung tempel. Ada juga sebagian yang dibudidaya dengan sambung pucuk. Kami menggunakan bibit unggul, seperti klon Sulawesi dan sebagian bibit unggul dari Payakumbuh. Khusus untuk klon Sulawesi tahan terhadap penyakit, buahnya besar dan banyak,” terang Busron,  Minggu (5/7).
Di kebun Busron, dalam satu hektar ada sekitar 800-1.000 batang kakao yang di tanam. Dari kakao yang ditanam tersebut sekitar 20% sudah diremajakan, karena rusak dan terkena serangan hama dan OPT. Peremajaan dilakukan sejak tahun 2014 lalu. 

Dari 140 produk yang berasal dari 40 negara, Minang Kakao yang diproduksi PT Pengelola Aset Islami Indonesia mendapatkan penghargaan predikat perak untuk dark chocolatte dan milk chocolatte serta perunggu untuk milk chocolatte diperkaya nibs.

Sementara menurut Afdhal Aliasar, pemilik merek Minang Kakao, prestasi ini menunjukkan mutu dari kakao Indonesia yang memiliki cita rasa khas. Mutu kakao juga didukung dengan pengolahan yang tepat sehingga menghasilkan produk terbaik.

Baca Juga :
Kisah Taman Bunga Jack Flowers di Padang Belimbing Yang Pernah Juara Nasional dan Kini Terabaikan

“Taste biji kakao yang kami kembangkan memang special. Alhamdulillah disukai dan diakui oleh chocolatiers di Paris,” jelas Afdhal.


“Dengan raw material biji kakao terbaik dan terjaga proses pasca panennya, InsyaAllah bisa diolah menjadi produk coklat kelas dunia. Tidak kalah kita dengan negara-negara Afrika dan Amerika Latin kualitas kakao,” sambungnya.
Afdhal melalui perusahaannya mulai mengembangkan kakao sejak 4 tahun lalu dan mulai  serius memproduksi coklat pada 2020.
Saat ini pabrik pengolahan terdapat di Jakarta dan Padang Pariaman. Produk Minang Kakao bisa diperoleh melalui platform belanja online (jn01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.