Harga Kebutuhan Pokok Naik dan Subsidi TDL 900VA Dicabut Pelaku UMKM Menjerit

0
372

SOLOK, JN – Selama sebulan ini terakhir ini, harga pasaran cabai merah, meroket hingga tiga kalipat. Naiknya harga cabai itu membuat sejumlah pedagang, para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjerit. Terutama pedagang makanan, seperti rumah, makan, pecel lele, nasi goreng, mie rebus dan sebagainya yang berada di sepanjang Jalan Pandan Kota Solok, Pasar, Simpang Surya dan Simpang Tugu, mengeluh, dan susah payah memutar otak agar tidak merugi dalam menjalankan usahanya.

Awen salah satu pedagang nasi goreng yang memekik akibat mahalnya harga cabai selama sebulan terakhir ini. Dia mengaku sudah 12 tahun berdagang di Jalan Pandan, PPA Air Mati, Kota Solok. Sejak naiknya harga cabai ini, diapun terpaksa tidak menggunakan cabai yang biasa dipakainya.

Untuk mengakali harga cabai yang naik itulah, sejumlah pembeli pun kabur karena perubahan rasa nasi goreng racikanya,”meskipun harga cabai naik, untuk harga nasi goreng tetap seperti biasa yaitu 14 ribu rupiah, caranya adalah dengan mengganti jenis cabai yang biasa dipakai ke yang lebih murah, kadang-kadang hanya saos saja yang saya pakai untuk membuat nasi goreng,” kata Awen Kepada Koran Padang.

Dia juga mengaku pusing tujuh keliling, tapi tidak bisa berbuat apa-apa,”pusing saya, entah apa lagi yang harus dilakukan, harga dinaikan pedagang tidak mau beli, pakai cabai yang lain atau saos biasa, lambat-lambat pembeli lari juga. Harga cabai yang terlalu mahal ini bikin usaha saya kelimpungan, apalagi sekarang kabarnya pemerintah akan mencabut subsidi listrik, sudahlah,”kata Awen.

Begitupun dengan Boni yang berjualan pecel lele dimalam hari, untuk membuat makananya tetap pedas dia melakukan hal serupa. Meskipun harga cabai naik, dia tetap santai dan tidak mau menceritakan kesedihan dan keletihanya.“ Saya yakin, pembeli tidak mau tahu, dengan urusan cabai naik, makanya saya terima nasib saja, menjerit atau diam itu sama sajalah,”kata Boni pasrah, yang mengaku belum berani menaikan harga karena takut tidak laku.

Selain kenaikan harga cabai yang masih terasa dampaknya, ditambah dengan kabar kebijakan pemerintah yang mencabut Tarif Dasar Listrik (TDL) bersubsidi 900 VA, membuat para pelaku UMKM di Kota Solok makin mengeluh dan kuatir. Mereka takut kenaikan TDL tersebut akan berimbas terhadap naik/tingginya biaya produksi sehingga berdampak pada keberlangsungan usaha kecil mereka.

Mereka, pelaku UMKM mengeluh dengan kebijakan pemerintah tersebut dapat membuat kehidupan mereka menjerit memekik pelak. Apalagi, kebijakan pemerintah mencabut subsidi TDL 900 VA, tersebut memperlihatkan kebijakan pemerintah sudah tidak berpihak lagi pada keberlangsungan usaha rumah tangga maupun pelaku UMKM.

Seperti yang dikatakan Ari, pengusaha Rumah Makan di Simpang Rumbio, Kota Solok, dia mengatakan hal tersebut otomati menaikan biaya produksi,”kebijakan pemerintah nampak seperti tidak lagi berpihak kepada kita yang kecil ini,” kata Ari, Senin (16/1).

Dia menjelaskan jika TDL naik, sejumlah pelaku usaha harus mencari solusi, sebab biaya produksi akan melambung,”contohnya, saya buka rumah makan ini, dimulai dari pukul 9 pagi sampai 9 malam, sudah pasti harus pakai listrik, seperti lampu, serta air, yang dalam sebulanya mencapai Rp 800 sampai sejuta lebih, kalau sampai naik karena subsidi dicabut, biaya listrik di rumah makan ini bisa naik sampai tiga kalipat dari sebelumnya,” jelas Ari.

Dia mengatakan pelaku UMKM sepertinya, akan sangat tidak mungkin menaikan harga produksi, sebab akan berdampak terhadap pemasukannya, yaitu pelangga yang cepat atau lambat akan lari. Sehingga menjadi dilema bagi mereka, mencari akal, membuat pelanggan nyaman, tapi juga tidak rugi.“Yang pastinya akan sangat sulit sekali, menaikan harga makanan yang dijual, sebab pelanggan bakalan enggan berbelanja,” jelasnya.

Sementara itu, Fendi pedagang martabak telor yang sering mangkal di Simpang Tugu, Kota Solok, juga mengeluh dan mengaku menjerit dengan kenaikan TDL tersebut, akibat dampak dari dicabutnya subsidi 900 VA. Fendi menilai pemerintah tidak terlalu paham dengan kondisi masyarakat terutama ekonomi kekinian. Fendi membuka lapak usahanya muldai dari jam 5 sore hingga jam 1 malam.

“Kalau dicabut, kemudian naik, selanjutnya harga-harga barang ikut naik, termasuk martabak telor ini bisa jadi ikut naik, karena kita berjualan tidak mau rugi. Kalau sudah dinaikan tarif dasar listriknya, kita sebagai masyarakat kecil sangat berhadap, pemerintah tidak terus-terusan menindas kami dengan kebijakan-kebijakan yang membuat keadaan kami lebih parah dari sekarang. Seperti kita ketahui, dunia usaha baik itu kecil atau menengah, selalu berbeda kondisinya dari tahun ke tahun,” kata Fendi dengan nada emosi.

Meskipun kenaikan harga listrik, terkait dicabutnya belum terlalu dirasakan, mendegar kebijakan pemerintah yang akan mencabut subsidi TDL 900 VA secara bertahap, sudah cukup membuat masyarakat menjerit. ”belum terjadi saja dampaknya, kami sudah kaget dengan kabarnya, apalagi kalau sampai benar-benar dicabut dan naik,” tandas Fendi.

Masyarakat berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan tersebut. Ditambah dampak ekonomi akibat kenaikan cabai masih terasa, dengan adanya kebijakan pencabutan subsidi TDL, akan semakin berdampak pada perekonomian masyarakat kecil, sehingga sejumlah harga barang yang lain juga ikut naik. Masyarakat berharap kenaikan harga-harga ini tidak membuat harga diri masyarakat turun. Maka dari itu masyarakat kalangan menengah kebawah meminta Pemerintah memperhatikan kondisi kekinan mereka.(Van)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda