Guru SMPN Diseret Longsor 500 Meter Hingga Tewas

0
755

SOLOK, JN-   Ranah Minang kembali dilanda duka. Musibah longsor yang terjadi pada Selasa pagi (25/4), melanda  Nagari Aia Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, hingga menghantam pasangan suami isteri (pasutri) yang bernama Kambra (40), dan sang isteri yang bernama, Desmawati (33).

Namun malang tak bisa ditolak untung tak bisa diraih. Saat dalam perjalanan dari kebun  markisah ke rumahnya yang berjarak sekitar 5 Kilometer, keduanya melintasi jalan setapak di lereng bukit yang biasa mereka lintasi. Namun naas bagi keduanya, Allah berkehendak lain. Dalam perjalanan dibawah guyuran hujan rintik-rintik, bukit yang berada diatas jalan setapak, longsor dan menghantam kedua pasangan suami isteri ini. Sang suami yang bernama Kambra, bisa diselamatkan warga. Namun sang isteri, Desmawati (33), diseret oleh material longsor sejauh lebih kurang 500 meter dan ditemukan meninggal oleh warga pada sore harinya. Desmawati tercatat sebagai salah seorang guru honorer di SMP Negeri 2 Lembah Gumanti dengan meninggalkan dua orang anak yang masih berusia 9 dan 6 tahun. Anak pertama pasutri ini bernama  Rizono  baru kelas 3 SD dan Riri baru kelas Nol besar. “Daerah ini memang rawan longsor karena medannya yang curam. Jadi warga kami sudah terbiasa dengan alam seperti ini karena tidak ada lagi lokasi lain untuk mencari nafkah dan tempat tinggal,” jelas Patrizal, Walinagari Aia Dingin, Rabu sore. Dirinya juga menyampaikan ikut berduka yang sedalam-dalamnya atas musibah tersebut dan berpesan agar masyarakat yang tinggal disepanjang jalan Aia Dingin terus waspada dengan bahaya longsor.

Kapolres Arosuka Kabupaten Solok, AKBP Reh Ngenana, menyebutkan bahwa kejadian yang menewaskan warga Aia Dingin ini, murni akibab bencana alam, karena lokasi Kabupaten Solok yang berada pada perbukitan. “Saat hendak pulang ke rumahnya, tiba-tiba Bapak dan ibuk pasutri ini dihantam bencana longsor yang hendak pulang ke rumah dari kebun cabai dan markisanya, di daerah Huluaaia, Jorong Air Sonsang, Nagari Aia Dingin,” jelas AKBP Reh Ngenana. Kapolres juga menyebutkan bahwa kejadian naas itu terjadi sekitar pukul 14.40 WIB Selasa siang. Korban diselamatkan oleh warga dan anggota Polres Arosuka Kabupaten Solok.

Disebutkan Kapolres, Bapak Kambra yang berprofesi sebagai petani melintasi jalan setapak yang tidak bisa dilewati kendaraan roda dua dengan sang istri menuju lokasi tempat sepeda motornya diparkir. “Tidak disangka, di tengah perjalanan pulang, tebing ladang milik korban ini longsor dan menimpa tubuh keduanya dan menewaskan sang isteri,” jelas AKBP Reh Ngenana. Disebutkan Kapolres, korban Desmawati yang tercatat sebagai guru honor di SMPN 2 Lembah Gumanti. Korban meninggalkan dua anak yakni, Rizono Nugraha (9) kelas 3 SD dan Ririn Dwi Ariani (6) yang masih TK. “Istri korban tidak dapat diselamatkan, sementara suaminya juga sudah dievakuasi ke RSU Solok untuk perawatan medis,” jelas AKBP Reh Ngenana.
Sementara korban Kamra yang ditemui oleh awak media di RSU Kota Solok menyebutkan bahwa dirinya akan menuju pulang ke rumah karena hujan tidak berhenti turun. “Dalam perjalanan, tiba-tiba bukit tempat kami berladang longsor dan mengantam kami berdua,” ujar Kambra sambil menahan sakit di bagian dadanya akibat terjepit kayu didampingi keluarganya saat diwawancarai di Rumah Sakit Umum Solok, Selasa malam.

Peristiwa longsor di Kabupaten Solok ini sudah sangat sering terjadi. Tahun lalu, musibah longsor juga terjadi  Jorong Lubuk Selasih, Nagari Batang Barus, Kecamatang Gunung Talang, Kabupaten Solok, tepatnya hari Kamis 25 Agustus 2016  pagi. Longsor yang terjadi pada Kamis dini hari itu mengakibatkan empat warga yang merupakan satu keluarga tewas serta melumpuhkan arus lalu lintas dari Padang menuju Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dan sebaliknya.

Pada bulan November 2016, juga terjadi longsor di Lambah, Nagari Air Batumbuk dan menewaskan 1 orang (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here