Dihadiri Ketua DPRD dan Wakil Walikota Solok: Masyarakat Tanjung Paku Angkat Budaya Tulak Bala

0
162

SOLOK,  JN- Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sesama warga Tanjung Paku, Kota Solok,  Minggu malam (5/7), masyarakat setempat  menggelar sebuah tradisi yang dinamai dengan sebutan Do’a Tulak Bala, tradisi yang turun menurun ini sudah menjadi tradisi dikalangan masyarakat setempat. Tradisi tulak bala ini biasanya dibungkus dalam bentuk budaya atau tradisi setemoat.

Kegiatan tulak bala dilakukan pada malam hari dengan menggunakan media obor sambil berjalan kaki yang di mulai dari tempat bersejarah kawasan Batu Laweh dan berakhir di Sport Hall Tanjung Paku dengan jarak lebih kurang 1 Km. Sepanjang perjalanan, biasanya peserta mengumandangkan shalawat nabi yang di pandu oleh tokoh ulama Kota Solok.

Kegiatan tradisi Do’a tulak bala yang di adakan pada minggu mlam itu,  juga dihadiri oleh ratusan anggota masyarakat yang sangat antusias mengumandangkan shalawat nabi serta bertasbih kepada Alah SWT sebagai sang penciota.  Tampai hadir dalam acara tolak bala ini Wakil Walikota Solok, Reinier, ST, MM, Ketua DPRD Kota Solok,Yutris Can, SE, Ketua LKAAM Kota Solok,H Rusli Khatib Sulaiman,Tokoh masyarakat Tanjung Paku, Nasril In DT Malintang Sutan, SH, Tokoh Ulama, Buya Dahrul, Lurah Tanjung Paku, Ketua LPMK Tanjung Paku, RT/RW se kelurahan Tanjung Paku, para Niniak Mamak dan Bundo kanduang serta para pemuda pemudi kelurahan Tanjung Paku.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam MinangKabau (LKAAM) Kota Solok, H.Rusli Khatib Sulaiman,  menjelaskan, bahwa Do’a tulak bala merupakan sebuah tradisi yang telah di warisi secara turun temurun guna mempererat tali silaturahmi sesama masyarakat lainnya.tulak bala itu sendiri bertujuan agar tanaman terhindar dari sekalian hama penyakit dan seluruh masyarakat selalu hidup dalam suasana tentram.
“Do’a tulak bala di kelurahan Tanjung Paku di awali dengan berkumpul di tempat salah satu cagar budaya yang bernama ” Batu laweh”, dimana menurut sejarahnya Batu Laweh tersebut dahulunya adalah tempat angku supayang atau Syech Maulana melakukan sholat dan berzikir. Pada suatu hari ketika angku Supayang sedang sholat maghrib, datanglah jelmaan manusia yang berwujud seekor harimau yang hendak menerkam beliau.  Nanun Syech Supayang tetap khusuk dalam menyelesaikan sholatnya. Atas kuasa Allah, tubuh harimau menjadi kaku dan angku Supayang mengembalikan wujud harimau tersebut ke wujud manusia dan mengIslamkan harimau jelmaan tersebut yang sekarang di kenal dengan nama Syech kukut, ” jelas buya Rusli. Disebutkannya, asal nama syech kukut diambil dari patahnya kuku harimau tersebut saat menahan sakit ketika merubah wujud menjadi manusia, sehingga kuku manusia yang menjelma jadi seekor harimau itu tertancap di batu laweh tersebut. Syech Kukut sangat berhubungan erat dengan salah satu cagar budaya yang ada di tiang tengah masjid Lubuk Sikarah yaitu batu yang melingkari tiang tengah masjid lubuk sikarah.

Batu tersebut ada berawal pada mula pembangunan masjid lubuk sikarah. Batu yang di beri nama batu Syech Kukut tersebut berukuran panjang 99 cm dengan lebar 17 Cm.menurut penelitian batu laweh merupakan salah satu batu dengan jenis Andesit dan berusia di perkirakan 300 Tahun.

Tokoh ulama kelurahan Tanjung Paku sebagai pemimpin atau yang memandu Do’a Tulak Bala, Buya Dahrul memaparkan, bahwa acara tulak bala adalah upacara menjauhkan bencana, kecelakaan dan kesengsaraan. 

“Bala berarti bencana, kecelakaan dan kesengsaraan yang menimpa suatu masyarakat kampung atau nagari. Karena itu bala harus dijauhkan dari kehidupan sehari-hari. Apabila ada musibah yang menimpa tanaman-tanaman seperti padi diserang hama tikus. Tikus mengganas dan memusnahkan semua tanaman. Di kelurahan Tanjung Paku ini pada umumnya, salah satu menjauhkan bala ini dengan melaksanakan upacara tolak bala,” terang buya Dahrul.

Menolak bala tidak dilakukan dengan menghalau, meracun atau membunuhsemua tikus yang mengganas, tetapi dengan berdoa, memohon petunjukdan minta bantuan Tuhan YangMaha Kuasa.

Ketua DPRD Kota Solok,Yutris Can, SE, pada kesempatan itu mengajak masyarakat untuk senantiasa memanjatkan doa agar daerah kita tercinta ini semakin sejahtera dan terhindar dari segala malapetaka.

Selain itu, Yutris Can, SE  juga mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh masyarakat secara swadaya itu selama turun temurun. “Saya selaku wakil masyarakat dan juga salah satu petani disawah Solok, mengucapkan terima kasih atas semangat masyarakat menjaga tradisi ini. Menurut Yutris Can, SE acara tolak bala sebagai salah satu kekayaan budaya yang ada di masyarakat,” ujar Yutris Can. Dirinya mengatakan bahwa kekayaan budaya yang ada di masyarakat solok merupakan sebagai aset daerah yang harus terus dijaga dan dilestarikan.di Kota Solok terdapat tiga lokasi yang secara rutin menggelar Doa Tulak Bala setiap tahunnya diantaranya, masyarakat tani di hamparan sawah Solok, masyarakat tani di Pincuran Gadang kelurahan Tanah Garam dan masyarakat kelurahan Tanjung Paku.

“Ini adalah kekayaan budaya yang kita miliki dan selalu ada di masyarakat kita, ini harus kita jaga dan harus kita lestarikan. Tidak boleh segala kekayaan budaya tergerus oleh kemajuan tekhnologi yang ada. Karena itu semua adalah kekayaan dan aset daerah. Saya berharap kegiatan tulak bala ini menjadi perhatian oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata Kota Solok untuk menyediakan anggaran agar di jadikan sebuah Even tahunan yang di kemas dalam paket budaya,” harap Yutris. 

Wakil walikota Solok,  Reinir pada kesempatan itu juga menyampaikan bahwa acara-acara kebudayaan seperti tolak bala dan acara lainnya yang berkembang di masyarakat adalah sebagai sarana menjalin silaturahmi. “Melalui acara tolak bala akan membangun hubungan yang baik sesama masyarakat. Sebab dalam menyiapkan acara tersebut dilakukan masyarakat dengan cara gotong royong dan dipersiapkan secara bersama-sama. Kita melestarikan budaya dan menjaga kekayaan budaya kita sekaligus terbangun silaturahmi yang baik di masyarakat,” jelas Reinier. Disebutkannya,  kerja sama terbangun dengan baik, gotong royong dan kebersamaan terjaga serta kekompakan juga terbangun di tengah – tengah masyarakat kota Solok (wandy) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda