Cerita PSP Padang Dulu dan Kini

0
929

Oleh: Yosrizal.

PERSATUAN Sepakbola Padang (PSP), kini memilik Ketua Umum baru. Anak muda lulusan luar negeri. Putra seorang politikus Sumatera Barat, yang juga menjadi politikus. Kini menduduki jabatan publik sebagai Wakil Walikota Padang.

Hendri Septa, nama politikus dan juga pengusaha muda berusia 42 tahun itu. Untuk kota Padang, nama lelaki kelahiran Padang Kota Tercinta ini cukup dikenal. Selain pernah menduduki posisi sebagai anggota legislatif di DPRD Kota Padang, juga menjadi orang nomor dua di jajaran pemerintahan kota ini.

Tetapi dalam kancah sepakbola, nama Hendri Septa belum begitu familiar. Apalagi di lingkar klub besar yang kini sudah dipandang sebelah mata oleh klub-klub seangkatannya, PSP.

Mungkin sebagian akan mencemooh kalau disebut klub besar. Karena sejak terjungkal ke Liga 2 pada 2005 silam, reputasi dan prestasi klub asal bond perserikatan kota Padang itu, makin hari makin meredup.

Jangankan akan dipandang lawan-lawan selevelnya pada era 60-80-an, seperti PSMS, Persebaya, Persip, Persija, PSM atau yang lainnya, klub-klub kabupaten/kota di Ranah Minang sekan tak pernah mengkhawatirkan kalau bersua klub ibukota provinsi itu.

Paling tidak, pada liga 3 tahun lalu -kompetisi terakhir yang diikuti -nama besar itu jutsru menjadi tantangan dan kebaggaan klub lokal seperti Pespessel, Pasbar, Persiju atau klub-klub Liga 3 lainnya di Sumatera Barat untuk mengalahkannya.

Buktinya, pada beberapa tahun terakhir, PSP seakan tak berdaya untuk melewati hadangan di ruang lingkup kecil, Sumbar. Kalau yang muncul itu adalah klub dari Pariaman atau Pessel yang lolo ke babak 34 besar Liga 3, adalah kabar biasa. Tak lagi kabar luar biasa.

Jangan bandingkan dengan PSP yang kala itu sering meladeni klub-klub negeri seperti FC Salzburg (Austria) yang ditahan imbang 2-2, Timnas Mozambik yang dikalahkan 5-2, Lokomotiv Moskow (0-7), Red Star Belgrade (1-2), Sao Paulo (1-2), Middlesex Wonderer (1-5), Korea Utara (0-2) dan sejumlah klub Asia lainnya, dengan PSP kekinian.
=Bak siang dan malam=

Tetapi tidak perlu juga membandingkan dengan PSP angkatan Cia Pie Kay, Anas Kahar, Codot sampai ke era Suhatman Imam, Asril Etek, Nifrizal Chai. Bandingkan saja PSP era 90-an kala masih bercokol di Liga Utama (Divisi Utama) dan terakhir pada 2007 dengan PSP yang diketuai Mahyeldi sejak 10 tahun terakhir.

Namun, munculnya nama Hendri Septa sebagai Ketua Umum yang baru, tentu segenggam asa tertumpang kepada pengusaha yang juga politisi itu.Cuma saja, peralihan dari Mahyeldi ke Hendri, tidak disertai dengan “buku” memori yang dijilid indah. Nyaris dengan hanya lembaran catatan-catatan yang “compang-camping”. Meski, masih ada yang menyebut kalau ada prestasi yang harus diteruskan Hendri.

Mungkin ada. Tetapi ukuran prestasi di sepakbola sangat kasat mata dan sederhana. Dua periode Mahyeldi bersama Agus Suardi Abin dan didukung legenda sepakbola Indonesia, Suhatman maupun mantan pemain PSP yang jadi pengusaha besar, Asril Etek dan sederet mantan pemain PSP lainnya, belum ada catatan yang ditulis dengan “tinta hijau”. Apalagi dengan tintas warna emas.

Selama PSP belum kembali ke trek awalnya, sejajar dengan Persebaya, Persija, PSM atau dengan klub Liga lainnya, di mana PSP pernah merasakannya, selama itu pula belum disebut berprestasi.

Tetapi, untuk seorang Hendri Septa, mungkin capaian itu terlalu tinggi. Terlalu berat bagi seorang politisi yang selama ini belum terbiasa dengan dunai sepakbola Indonesia. Terlalu rumit bagi Wakil Walikota Padang periode 2019-2024 itu.

Selain tak ada memori yang terjilid dan diserahkan pada saat menerima jabatan Ketua Umum PSP, juga terlalu panjang, mendaki dan berliku jalan yang harus ditempuh oleh klub yang berjuluk Pandeka Minang itu.

Satu saja garansi yang diberikan kepada Hendri; membawa PSP kembali ke Liga 2. Cukup!
Kalau itu berhasil, mungkin tidak tahun ini. Bisa tahun depan, atau bisa juga setahun sebelum masa jabatannya sebagai Wakil Walikota berakhir, maka cukup baginya untuk mencatatkan tinta emas dalam bagian sejarah klub yang sudah ada sejak lebih dari 90 tahun itu.

Juga bukan menjadi tugas dan tanggung jawab Hendri Septa seorang. Juga menjadi tanggungjawab pengurus lainnya. Tanggungjawab pelatih dan pemain juga. Tanggungjawab pemerintah kota sebagai pemegang anggaran yang bisa dihibahkan kepada klub yang terlalu tua untuk kelas amatir ini.

Cuma saja, sebagai ketua, tanggung jawab dengan porsi yang lebih besar pasti menjadi milik Hendri. Wajar. Karena sebagai politisi, pasti juga akan memanfaatkan jabatan ini untuk kepentingan politiknya. Pasti. Dan tak bisa dibantah.

Namun tak ada yang salah. Mempolitisir sepakbola untuk kepentingan politik, tak selamanya diartikan negatif. Selama PSP bisa berjaya, otomatis di pemegang kuasa juga berhak untuk ikut berjaya dalam karir politiknya.

Tetapi, ingat. Ukuran prestasi dalam sepakbola sangat sederhana. Sesederhana orang mengatakannya. Kali-kali politiknya juga akan menjadi sangat sederhana. Karena begitu jabatan ini dipegang, berarti siap pula untuk berkonsekuensi politis yang seiring sejalan dengan gelinding bola di lapangan hijau. Terciptanya “gol” ke gawang lawan dan menang, juga menjadi “goal” bagi Hendri untuk terus melangkah mulus ke prestasi dan reputasi politik berikutnya.

Mari, sekali lagi- kita garansi untuk lima tahun jabatannya sebagai Wakil Walikota dan Ketua Umum PSP. Dan ketika masa jabatannya habis pada dua posisi itu, maka saat itu PSP sudah beranjak naik. Tak perlu dengan lompatan dua anak tangga sekaligus, satu anak tangga saja cukup; PSP kembali ke Liga 2.

Satu anak tangga itu juga cukup untuk menggaransi Hendra Septa untuk menapak anak tangga berikutnya di karir politik praktis yang menjadi profesi utama politisi PAN itu.
Satu hal lagi, sebagai Ketua Umum yang memegang “kekuasaan” dalam menentukan langkah manajemen PSP ke depan, juga diharapkan untuk selalu jeli dan hati-hati untuk menetapkan siapa yang akan memegang manajemen tim ke depan.

Siapa yang akan menjadi Manajer, pelatih dan kelengkapan manajemen lainnya, adalah salah satu sisi yang bisa mendukung sukses PSP dan sukses Hendri Septa.
Belajarlah dari masa lalu. Masa belasan tahun terkungkung dengan ketak-berdayaan mengangkat kembali batang yang terendam. Slogan dan janji di PSP pasti tak sama dengan slogan dan janji di lapangan politik. Hakim publik akan langsung mengetukan palunya bila langkah yang direncanakan berbeda arah.

Tapi, sekali lagi, tak ada yang tak mungkin dalam sepakbola. selagi punya niat dan bangga dengan kota inipasti akan membawa keberuntungan bagi yang berniat tersebut.
Tak bisa juga dibantah, sepakbola itu indah untuk siapa saja yang “menikmatinya”. Tetapi sepakbola itu akan menjadi palu godam yang bisa menghakimi di tengah jalan, jika gagal membawa kenikmatan bagi penikmatnya.

Hendri Septa, anak muda yang punya telenta. Berpendidikan luar negeri, punya dedikasi yang akan dibuktikan lima tahun ke depan. Selamat bertugas anak muda. Selamat jadi Wakil Walikota Padang. Selamat menjadi Ketua Umum PSP.(Penulis adalah Yosrizal wartawan TribunOlahraga.com Biro Sumbar, tinggal di Kota Padang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here