Proyek PLTMH Garabak Data Hancur Ditimpa Pohon, Masyarakat Kembali Bergelap-Gelap

0
600

SOLOK,  JN-    Nasib masyarakat yang tinggal di Nagari Garabak Data,  Kecamatan Tigo Lurah,  Kabupaten Solok,  benar-benar miris dan memilukan. 
Selain satu-satunya Nagari yang ada di Kabupaten Solok yang sampai saat ini belum memiliki jalan beraspal dan masih menggunakan kuda beban sebagai kendaraan angkutan,  Nagari Garabak Data saat ini juga ditimpa musibah jalan longsor di berbagai titik,  hingga membuat masyarakat yang tinggal disana makin terisolasi dari dunia luar. 
Selain itu,  satu-satunya alat penerangan yang dibangun menggunakan dana APBN oleh Kementerian Desa tertinggal berupaPem­bangkit Lis­trik Tenaga Mikrohidro (PLT­MH) yang dibangun 
pertengahan Tahun 2017 lalu,  saat ini juga ditimpa musibah.Pembangkit listrik PLTMH yang dibangun di  Dusun Duren Kawik,  Jorong Garabak,  Nagari Garabak Data,  hari Selasa kemaren pipa utamanya ditimpa pohon besar,  karena disambar petir dan menyebatkan pipa hancur sepanjang 31 Meter.
Akibatnya,  sebanyak lebih kurang 98 rumah atau Kepala Keluarga masyarakat Garabak Data,  harus kembali hidup bergelap-gelap pada malam hari. “Pipa utama yang akan mengaliri listrik ke rumah warga,  ditimpa pohon besar yang tumbang.  Sehingga mengakibatkan pipa hancur dan rusak berat dan warga kami arus kembali hidup bergelap-gelap, ” tutur Pardinal,  Walingari Garabak Data,  Kamis (13/12).
Untuk itu,  pihaknya juga sudah mengirim surat kepada pihak ESDM Sumbar,  untuk segera mencarikan solusi atau perbaikan terhadap PLTMH tersebut. Walinagari yang dikenal getol memperjuangkan nagarinya itu,  masih tetap pesimis akan ada perbaikan dalam waktu dekat,  karena akses jalan ke Tigo Lurah juga banyak yang longsor dan tidak bisa dilintasi kendaraan roda Empat akibat hujan lebat. Penduduk Garabak Data yang saat ini berjumlah lebih kurang 3000 jiwa,  belum semuanya yang bisa menikmati aliran listrik PLTMH.  Hanya sebahagian kecil saja yang baru bisa menikmati aliran listrik dari PLTMH,  yakni yang berada di Jorong Garabak. Selebihnya semenjak dunia terkembang,  mungkin masyarakatnya belum pernah menikmati listrik dan hingga saat ini masih menggunakan lampu ‘cogok’ untuk alat penerang. “Nampaknya warga kami harus bersabar terus agar bisa menikmati hasil pembangunan dan kemajuan technology,  apalagi untuk meminta pembangunan tower seluller,  meminta jalan yang layak saja susahnya minta ampun dan selalu dijanjikan, ” jelas Pardinal. 
Sampai saat ini,  masyarakat Garabak Data harus memanfaatkan kuda beban untuk mengangkut hasil pertanian dari Nagari Garabak Data ke pasar Talang Babungo atau Batu Bajanjang. 

Menurut Pardinal,  Gara­bak Data sudah di­kenal sejak abad ke-18 oleh tim peneliti dari Cen­tral Sumatra Expeditie sekitar tahub 1877-1878, da­ri Universiteit Leiden yang dipim­pin AL.Van Hasselt, yang dibantu Pemerintah Ko­lonial Hindia Belanda. A. L. Van Hasselt ter­masuk kelompok orang Eropa pertama yang mengunjungi Garabak Data.

Jalur Garabak Data menuju Talang Babungo dan tembus ke Ka­bupaten Dharmasraya sudah dibuka sejak lebih dari 15 tahun lalu.  Namun hingga sekarang belum juga ada kelanjutan pembangunannya. Tahun 2012 Pemprov Sumbar sudah menyediakan anggaran pembangunan jalan Dharmasraya – Garabak Data – Talang Babungo sebesar Rp 40 miliar. Tetapi proyek tersebut tidak berjalan, karena terhambat oleh status lahan yang termasuk  dalam kawasan hutan lindung.

Sejumlah usu­lan yang diusulkan oleh masyarakat setempat, ada yang bersifatnya multi years dan ada be­berapa yang mesti diproses. Seperti tahun 2015 lalu, ada bantuan untuk tower operator se­lu­ler untuk handphone dan beberapa pen­du­kung pertanian, ke­mudian ada ban­tuan un­tuk penimbunan jalan dibeberapa titik yang hingga saat ini belum terlaksana. 

Garabak Data mungkin Nagari paling  terisolir jika dibandingkan dengan Nagari-nagari lain yang ada di Kabupaten Solok. Ini disebabkan karena belum ada jalan yang layak, karena di sekeliling Garabak Data jalan menuju ke Garabak Data atau keluar Garabak Data harus melewati kawasan hutan lindung. Namun saat ini kabarnya hutan lindung sudah kelyar izinnya dan tinggal keseriusan pemerintah daerah untuk merealisasikannya. 

 Keter­batasan akses jalan dan transportasi membuat 3000 jiwa warga Garabak harus tetap bersabar dalam ketertinggalan (wandy) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda