Warga Tigo Lurah Kabupaten Solok Masih Merintih Minta Keadilan Pembangunan

0
2106
SOLOK, JN- Sampai saat ini Kecamatan Tigo Lurah di Kabupaten Solok, masih tetap menjadi kecamatan paling terisolir di Kabupaten Solok karena letaknya  yang jauh dari pusat pemerintahan dan juga  kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Solok.

Meski berada jauh dari pusat kota, namun Kecamatan Tigo Lurah akan berusaha bangkit untuk setara dengan daerah lain. Saat ini setiap nagari di Kecamatan Tigo Lurah sudah memiliki SD, SMP dan juga sebuah SMA. “Kita akan terus berjuang agar Tigo Lurah tetap bisa sejajar dengan kecamatan lain di Kabupaten Solok dan kita berharap masyarakat yang selama ini hidup damai dan tentram makin kokoh dengan agamanya,” jelas Camat Tigo Lurah, Sarmaini, SH, Selasa (2/10) di ruang kerjanya. Ditambahkan Sarmaini, yang menjadi kendala utama untuk menuju ke Tigo Lurah adalah bila musim hujan tiba, maka jalan akan terlihat becek dan seperti kubangan kerbau.  Untuk itu pihaknya bersama masyarakat dan para pemerintah nagari, akan berupaya memperjuangkan ini bersma-sama, baik ke Kepala Daerah atau DPRD bahkan ke Pemerintah Sumbar agar langkah Tigo Lurah terbebas dari ketertinggalan bisa terwujud.

“Tugas kita adalah bagaimana kita bersama DPRD dan Pemerintah Daerah bisa membangun Tigo Lurah dan itu terus kita lakukan,” jelas Sarmaini.

Salah seorang warga nagari Batu Bajanjang,  Mak Inal (53) juga menjelaskan bahwa bila hujan turun, maka akses jalan menuju nagari di Tigo Lurah kondisinya akan sangat memilukan, apalagi jika harus ke Nagari Garabak Data, maka akan jauh lebih memprihatinkan lagi.

“Saya benar-benar sedih melihat anak sekolah kalau hari hujan, maka terpaksa mereka jalan kaki untuk sampai ke Batu Bajanjang ini, dengan keadaan jalan yang berlumpur dan licin. Bahkan ada yang menahan  tidak bisa bepergian ke Ibukota  kecamatan, karena kendaraan tidak bisa jalan di lumpur,” jelas Mak Inal. Rasa prihatin itu, hanya bisa diucapkan warga setempat, karena hingga 73 tahun Indonesia merdeka saat ini, masih banyak warga Nagari Garabak Data dan Tigo Lurah yang belum pernah berpergian ke Kota Solok apalagi ke Padang.

“Disampin jalannya buruk, ongkos dari Garabak Data untuk sampai di Kota Solok bisa mencapai Rp 500 Ribu dengan jalan yang penuh rusak sekali jalan,” jelas Walinagari Batu Bajanjang, Pardinal. Walinagari Pardinal yang dikenal sangat vokal dan nyinyir memperjuangkan kampung halamannya itu, sudah seperti kehilangan akal bagaimana agar pemerintah daerah dan DPRD memperhatika dan membangun Tigo Lurah, terutama akses jalan. “Saya sudah berjuang dan berteriak ke Kepala Daerah, DPRD Solok dan Sumbar, termasuk ke Bapak Gubernur sendiri sewaktu beliau berkunjung ke Garabak Data Tiga Tahun lalu. Namun janji tinggal janji, kayak judul lagu saja,” tambah Pardinal. Bahkan dana Rp 1 Milyar yang rencananya  tahun ini yang sudah dianggarkan Provinsi untuk membangun jalan dari Muaro Sabie Ayie di perbatasan Batu Bajajang dengan Nagari Garabak Data, juga belum jelas jadi apa tidak. “Inikan sudah bulan Sepuluh, tetapi belum juga ada tanda-tanda jalan tersebut akan dibangun,” jelas Pardinal.

 Selain ke Garabak Data, jalan menuju nagari  ke Rangking Luluih juga belum beraspal. Jalan tersebut juga penuh tanjakan dan licin saat musim hujan. Bukan saja kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun kesulitan mencapai pusat pemerintahan yang berada di Kapujan ini. “Namun jika dibandingkan dengan lima dan sepuluh tahun lalu, saat ini kondisi jalan ke Tigo Lurah sudah jauh lebih baik. Misalnya dari Sirukam, Kecamatan Payung Sekali hingga ke Simanau, nagari pertama di Tigo Lurah dari arah Sirukam ini, sudah banyak yang diaspal. Bahkan dari Simanau ke Kapujan aspalnya masih mulus karena baru saja diaspal. Bahkan hingga  akhir tahun 2018 ini, jalan dari Simanau ke pusat kecamatan di Batu Bajanjang juga sudah bagus,.

 Sebagai daerah paling terpencil, Tigo Lurah menjadi perhatikan bagi Pemkab Solok. Karena setiap tahun tetap ada dana yang dialirkan ke Kecamatan ini, baik dana nagari atau dana APBD dari pemkab Solok. Jika dua tahun lalu, pembangunan jalan terkendala oleh posisi daerah ini sebagai hutan lindung dan masuk paru-paru dunia, namun saat ini sudah dibebaskan.  Karena itulah Nagari Garabak Data misalnya, hingga kini masih berjuang untuk menikmati jalan beraspal. Nagari yang berbatasan dengan Dharnasraya ini belum tersentuh aspal. Pemerintah Kabupaten Solok maupun Pemprov Sumbar  harus menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membuka akses jalan ke Kecamatan ini, karena  saat ini izin pemanfaatan lahan tersebut dari pusat sudah keluar. Kalau tidak, Tigo Lurah akan terus tertinggal. Masyarakat disana juga berpesan, agar kecamatan mereka masuk skala prioritas dalam pembangunan kedepannya (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here