Sawah Solok Terus Kembangkan Program Mina Padi

0
98

SOLOK,  JN- Dinas Pertanian Kota Solok yang bersama dengan Tim dari Balai besar perikanan air tawar Provinsi  Jambi, melakukan pembahasan terhadap program mina padi di sawah Solok,  Sabtu (4/8). Acara pertemuan digelar di Balai Penyuluhan Lubuk Sikarah,  kota Solok.

Pengembangkan program mina padi ini dilakukan karena pola penggabungan tanam padi dengan berternak ikan tersebut baru memiliki dampak yang positif  oleh masyarakat setempat. Pembahasan tersebut di dihadiri oleh Tim Balai Besar Perikanan air tawar Jambi, Suratno dan Taufik serta di hadiri oleh Kasi Perikanan Riri Kurniawan  dan Koodinator Balai Penyuluhan Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok, H. Rahmad Yendi, SP.

Acara ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pangan dan semakin terbatasnya lahan untuk memproduksi ikan hasil budidaya khususnya untuk budidaya ikan di air tawar, dan Pemerintah Daerah Kota Solok melalui Dinas Pertanian Kota Solok saat ini  fokus mengembangkan budidaya ikan dengan sistem mina padi yang merupakan kombinasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. 

“Melalui mina padi, produktifitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi ikan secara organik dan ramah lingkungan, baik dari padi yang dihasilkan maupun hasil panen dari ikan. Selain itu, mina padi juga dipercaya akan mencegah dan menahan laju alih fungsi lahan pangan menjadi lahan non-pangan. Mina padi pun diharapkan menjadi kegiatan yang dapat menyerap tenaga kerja bersifat padat karya sehingga mampu mencegah urbanisasi,” jelas H.  Rahmad Yendi. 

Disebutkannya,  tujuan mina padi ini adalah untuk mengoptimalkan  penggunaan lahan sawah dengan menambah komoditi lain seperti ikan tanpa mengurangi produksi padi justru hasil padi meningkat karena  mengurangi biaya tetap seperti pemupukan dan penyiangan serta hasil meningkat pendapatan bertambah karena  ada ikan di sawah. 

“Selain penghematan pupuk, penggunaan pestisida juga tidak ada dan menghasilkan padi organik yang lebih sehat.  minimal kita mengurangi penggunaan pupuk kimia karena kita tidak menggunakan pestisida, jadi untuk biaya penyiangan juga berkurang karena kita rendam air terus,” jelas H.  Rahmad. 

Awalnya memang pakai pupuk urea, tapi selebihnya kita pakai ikan saja.
Tim Balai Besar perikanan air tawar Jambi, Suratno menjelaskan, bahwa p
ersyaratan perairan di sawah untuk mina padi umumnya sama dengan syarat perairan untuk memelihara ikan nila. Namun, karena ketinggian air pada penanaman padi hanya 20-30 cm, perlu dibuat beberapa selokan ditengah sawah, seperti kamalir untuk tempat hidup ikan nila. Selokan atau kamalir sebaiknya dibuat dengan ukuran lebar 20-40 cm dan kedalaman minimum 20 cm. Panjang kamalir biasanya mengikuti panjang sawah. Dalam satu petak sawah seluas 1.000 m2 bisa dibuat 2-3 buah kamalir.

 Pengolahan lahan untuk mina padi mengikuti pola pengolahan lahan untuk padi tanpa penggunaan pestisida. Hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan pengolahan lahan adalah menjaga pematang serta saluran masuk dan keluarnya air agar tidak ada ikan lain yang masuk atau ikan nila lolos dan keluar dari sawah,” jelas Suranto. 

Umur tanaman padi sekitar tiga bulan, sementara pada umur tiga bulan, ikan nila dari benih ukuran 5-8 cm hanya mencapai bobot 200-300 gram per ekor. Karena itu, untuk menghasilkan bobot ikan nila yang maksimal, penggunaan benih ikan nila bisa yang berukuran 12 cm.

Selain itu, penebaran sebaiknya dilakukan 2-4 minggu sebelum padi ditanam sehingga umur ikan saat panen lebih lama dari umur padi. Populasi atau padat tebar ikan nila dalam sistem mina padi biasanya 1 ekor/m2. Sebelum benih ditebar, sawah perlu digenangi air minimum satu minggu. 

Dijelaskannya,  cara penebaran benih dilakukan di dalam kamalir. Waktu penebaran sebaiknya pada pagi hari. Pemeliharaan ikan nila sistem mina padi lebih banyak dilakukan oleh petani sebagai usaha sampingan. Karena itu, petani tidak memiliki standar atau patokan dalam pemberian pakan. Namun, standar yang biasa digunakan dalam pemeliharaan ikan nila di tambak atau kolam yakni sebanyak 5% dari biomassa pada bulan pertama bisa dijadikan patokan jumlah pakan pada sistem mina padi ini. Setelah itu, persentase jumlah pakan diturunkan menjadi 4% dan 3% dari biomassanya masing-masing pada bulan kedua dan ketiga. 

“Sawah tidak hanya menghasilkan tanaman namun bisa di manfaatkan untuk ikan nila. Jadi bisa panen 2 macam hasil budidaya,” pungkas Suranto (wandy) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda