Saat ini Masyarakat Garabak Data Tidak Butuh Janji-Janji, Tetapi Bukti

0
193

Oleh: Wandy

MESKI Pemerintah Daerah Kabupaten Solok sudah berkomitmen akan membangun Kecamatan Tigo Lurah, namun tidak akan ada jaminan dalam waktu Lima hingga 10 tahun kedepan, warga yang tinggal di Nagari Garabak Data akan bisa menikmati jalan mulus, listrik atau berkomunikasi dengan HP.

Pasalnya, selain jarak yang jauh, sangat dibutuhkan dana yang besar untuk membangun Garabak Data. Tanpa ada bantuan APBN, penulis pesimis Garabak Data akan bisa keluar dari ketertinggalan.
Sebagaimana diketahui, APBD kabupaten Solok satu tahunnya berkisaran hanya sekitar Rp 1 Triliyun. Sementara untuk belanja saja rutin dan gaji pegawai saja sudah habis separohnya atau diatas Rp600 Milyar. Sisanya dibagi untuk Dinas dan DPRD. jadi boleh dikatakan dana untuk membangun dari Rp 1 Triliyun tadi, habya tinggal sekitar 200 Milyar. Dan itupun harus dibagi untuk beberapa SKPD, termasuk 14 Kecamatan.

Beberapa waktu lalu, Bupati Solok dengan bangga mengekspos dan sudah betkomitmen untuk membangun Tigo Lurah. Namun tanpa bantuan pemerintah pusat, tentu hal akan mustahil tercapai atau untuk mewujudkannya. Bupati Gusmal menyampaikan hal itu, pada rapat rencana tindak lanjut pemakaian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), jalur Kapujan, Rimbo Data, Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, bertempat di Ruang Bukit Cambai, Kantor Barenlitbang, Kabupaten Solok, baru-baru ini. Namun wacana itu belum masuk kedalam Nagari paling terisolir di Kabupten Solok, yakni Garabak Data. Selama ini penulis mungkin lebih banyak menyorot Garabak Data, khususnya Nagari Tigo Lurah. Dalam ekspos yang dihadiri oleh para walinagari dan Camat Tigo Lurah, Asisten Koor Bidang Ekbangkesra, Medison, Kepala Barenlitbang yang diwakili oleh Kabid Sumber Daya dan Prasaran, Sefdinon, Kadis PUPR Kabupaten Solok, Efia Vivi Fortuna, Seluruh Camat Sekabupaten Solok, dan Ketua BMN, BPN dan tokoh masyarakat se Kecamatan Tigo Lurah, disebutkan bahwa jalan ke Tigo Lurah jauh lebih mulus dari ke Kecamatan Lembang Jaya atau Sungai Nanam. Saking lebih bagusnya. Bahkan Bupati menyebut setiap hari ada travel dari Tigo Lurah ke kota Solok.

Hal itu memang benar, namun secara pribadi Bupati tidak merinci dari Nagari mana saja angkutan travel yang bisa dimanfaatkan masyarakat setiap hari. Mungkin yang dimaksud Bupati adalah dari Nagari Batu Bajanjang atau dari Rangkiang Luluih dan Simanau. Tetapi dari Nagari Sumiso dan Garabak Data, jelas hal itu belum ada. Dua Nagari ini tampak masih perawan dan jauh masih tertinggal. Bahkan khusus untuk Garabak Data, Nagari ini masih perawan, dan belum ada jalan beraspal atau hot mix, listrik dan belum ada tower seluller.

Disadari memang, untuk membangun jalan ke Garabak Data, dibutuhkan ixin khusus dari Pemerintah Pusat. Tetapi pertanyaannya sejak kapan Garabak Data masuk kawasan hutan lindung. Kok di kawasan tersebut bisa ada nagari?

Aneh memang, tetapi itu adalah fakta.
Pada ekspos tersebut, Kepala Barenlitbang Kabupaten Solok yang diwakili oleh Kabid Sumber Daya dan Prasaran, Sefdinon, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Solok bukannya lamban dalam membangun infrastruktur, tetapi dalam hal ini butuh izin dari Kementerian Kehutanan dengan melalui berbagai proses yang sangat panjang dan bertingkat.

“Pemerintah daerah juga harus melaksanakan kewajiban sebelum melakukan pembangunan jalan, seperti melakukaan penataan batas untuk jalan yang akan dibuat yang dimbangi dengan pengadaan jalur irigasi,” sebut Sefdinon.

Disebutkan Sefdinon, Pelaksanaan kegiatan ini berdasarkan pada keluarganya SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor : SK.7369/MENLHK-PKTL/REN/PLA.0/9/2019 tentang Penetapan Areal Kerja Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan Untuk Pembangunan Jalan jalur Kapujan – Rimbo Data dan Jalur garabak Data – Batu Bajanjang pada Kawasan Hutan Lindung An. Bupati Solok di kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat seluas 13,229 Hektare, pada tanggal 9 September 2019.

Penulis sempat bertanya-tanya, melihat dari kondisi terkini, berarti seluruh Nagari Garabak Data masuk kawasan hutan lindung. Tetapi sejak kapan? Kok bisa puluhan tahun ada nagari di kawasan hutan lundung?

Nagari Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok, yang berpenduduk 2.556 jiwa atau 963 kepala keluarga, merupakan nagari tua Minang Saisuak yang masih terisolir di Sumatera Barat. Kenapa? Karena belum adanya akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Yang ironisnya, masyarakat Garabak Data masih memanfaatkan kuda beban untuk mengangkut berbagai barang kebutuhan kehidupannya.
Padahal, Nagari Garabak Data yang berada sikitar 720 meter dari permukaan laut, memiliki banyak potensi, dan kaya dengan hasil pertanian, perkebunan, serta pernah menanam sekitar 200 jenis varitas padi. Tapi sangat disayangkan tak ada akses jalan, sehingga menyulitkan masyarakat untuk menjual hasil pertanian dan perkebuannya. Kemudian, di Nagari Garabak Data, ternyata terdapat hewan sejenis ayam yang punya suara khas Kukuik Balengek.
Kemudian, kalau kita berbicara dengan sejarah, ternyata Nagari Garabak Data pernah dikunjungi Tim Peneliti Centreal Sumatra Expeditie dari Universteit Laiden yang dipimpin A L Van Hasselt 1877-1878, sehingga nama Nagari Garabak Data sudah dikenal masyarakat Eropa. Bahkan, dalam laporan Volksbeschrijving van Midden-Sumatra (1882) telah mendeskripsikan kalau pertanian yang pernah ditanam penduduk di Nagari Garabak data, sebagai varietas padi yang berkualitas.
Tapi kini, selain akses jalan, ternyata penderitaan masyarakat Garabak Data lainnya, belum adanya aliran listrik dan tower untuk mendukung alat komunikasi berupa handphone yang sudah menjadi alat komunikasi semua lapisan masyarakat di berbagai nagari di Ranah Minang.
Fakta tersebut, membuat kehidupan masyarakat Nagari Garabak Data, bagaikan kehidupan masyarakat Minang masa lalu atau Minang Saisuk, yang terisolasi akibat kurang kepedulian pemimpin yang serius memikir nasib masyarakat Garabak Data, setelah negara kita ini mardeka, 17 Agustus 1945.
Meskipun begitu, penderitaan karena terosilirnya masyarakat Nagari Garabak Data sedikit terobati dengan kunjungan dan perhatian Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, Sabtu, 6 Juni 2015, yang boleh dikatakan bersusah payah berkunjung dengan mengendarai sepeda motor dan menempuh perjalanan yang berlumpur, serta jalan beliku daengan tanjakan yang terjal dan penurunan yang tajam.
Bak gayung bersambut. Kehadiran Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, sengaja dimanfaatkan masyarakat dan Walinagari Garabak Data yang yang waktu itu dipimpin oleh tokoh muda bernama Perdinal untuk menyampaiakn keluh kesah yang telah lama mereka alami.
Kemudian, kepedulian Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, bagi masyarakat Garabak Data bagaikan musafir yang mendapatkan seteguk air pelepas dahaga di padang pasir, karena gubernur tak hanya menyerap aspirasi, tetapi langsung merespon berbagai keluhan masyarakat Nagari Garabak Datang. Bahkan, gubernur berjanji akan memperjuangkan izin pembukaan akses jalan ke menteri kehutanan, karena akses jalan menuju ke Nagari Garabak Data melelalui hutan lindung.
Kemudian, kepada masyarakat Garabak Data, gubernur juga berjanji akan mengupayakan bantuan tower operator seluler untuk handphone, serta berapa alat dan prasarna pendukung pertanian. Begitu juga dengan jaringan pembangkit listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Sayangnya janji Gubernur tersebut hingga kini tidak terealisasi.

Sebenarnya, jika Pemerintah Kabupaten Solok dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ingin melapaskan masyarakat Nagari Garabak Data dari keterisoliran, dengan membuka akses jalan dari Sirukam, melalui Solok-Alahan Panjang. Sementara jauhnya perjalanan antara Sirukam menuju Nagari Batu Bajanjang yang merupakan pusat Kecamatan Tigo Lurah, diperkirakan sekitar 50 KM dan kemudian jalan bisa mempergunakan kendaraan roda empat dan kondisi jalannya memamang masih memprihatinkan.
Sementara jalan antara Solok-Alahan Panjang tersebut, memang kondisi lokasinya berjalan disepanjang hutan belantara. Namun, jarak tempuh dari Batu Bajanjang manuju ke Garabak Data berjarak sekita 14 KM dan sedangkan jasa angkutan hanya ada ojek dan kuda beban.
Kemudian melalui Nagari Talang Babungo di Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok yang berjarak sekitar 12 km dari Alahan Panjang. Sementara jarak tempuh dari Talang Babungo ke Garabak Data sekitar 28 KM melalui rute perjalanan yang cukup berat. Jika ingin berjalan kaki, diperkirakan sekitar 7 atau -8 jam perjalanan. Sedangkan jika mempergunakan ojek, hanya memerlukan waktu sekitar 3,5 jam, tapi ongkosnya bisa Rp 200 sampai Rp 300 ribu.
Berdasarkan data Kabupaten Solok dalam angka, Nagari Garabak Data merupakan nagari yang terluas di Kabupaten Solok, karena batas wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah Silago di Kabupaten Dharmasraya, Lubuak Tarok di Kabupaten Sijunjuang, dan Pakan Rabaa di Kabupaten Solok Selatan.
Sedangkan dari ragam budaya, terlihat budaya masyarakat Garabak Data lebih menyamai budaya masyarakat Sijunjuang. Bahkan, tambo-tambo masyarakat Garabak Data yang merupakan bagian dari masyarakat di Ranah Tigo Lurah berasal dari daerah Buluah Kasok, Batu Manjulua, dan Silago.
Sebagai masyarakat Sumatera Barat yang peduli pembangunan dan nasib anak sebangsa dan se Ranah Minang, kita tentu hanya bisa berharap kepada Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Solok periode 2015-2020, menjadikan persoalan terisolirnya masyarakat Garabak Data sebagai prioritas pembangunan jangka pendek.
Sedangkan mengenai alasan hutan lindung dengan tetek bengeknya perizinan dari Menteri Kehutan RI merupakan dalih klasik yang sudah kono. Soalnya, kita berada di Era Tehnologi canggih. Sanat lucu kan, kalau jalan Kelok Sembilan saja bisa dibangun, kenapa jalan menuju ke Garabak Data tidak (penulis adalah wartwan Koran Padang, tinggal di Kanbupaten Solok)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda