Ritual Unik Bisa Menjadi Daya Tarik Wisatawan Untuk Datang ke Kabupaten Solok

0
47

Oleh: Wandy——–

 

Selain keindahan alam, di Kabupaten Solok masih banyak tradisi unik yang bisa dijadikan untuk memicu kunjungan turis asing dan domestik untuk datang ke Kabupaten Solok, seperti ritual atau bakawue alek nagari di Batu Bajanjang, Tigo Lurah, yang digelar sekali setahun untuk menyatakan rasa syukur kepada sang pencipta. Selanjutnya Ritual di Sianggai-Anggai Nagari Sariak Alahan Tigo, dimana masyarakatnya melakukan pememotongan kerbau sebelum turun ke sawah, ritual membersihkan makam kaum selama satu Minggu di Nagari Panyangkalan Kecamatan Kubung, sehingga masyarakatnya tidak ada yang keluar pergi ke tempat-tempat wisata seperti yang dilakukan masyarakat di nagari lain.  Dan masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan untuk menggaet jumlah kunjungan turis asing ke Kabupaten Solok, seperti layaknya Nyepi di Pulau Bali, dimana perayaanb Nyepi bisa menyedot perhatian dunia, karena hari Nyepi tidak boleh ada aktivitas, termasuk bisa memperhentikan aktivitas penerbangan nasional dan internasional  tujuan Bali dan sebaliknya. Sehingga satu Minggu sebelum acara Nyepi, masyarakat dari seluruh dunia dan dari seluruh Indonesia, sudah mulai datang ke Bali untuk menyaksikan apa itu nyepi yang sebenarnya.

Masyarakat dunia penasaran terhadap apa yang dilakukan sekali setahun pada hari Nyepi akhirnya karena ada rasa penasaran dari masyarakat, akhirnya bisa menyedot wisatawan dengan tradisi uniknya, lantas kenapa Kabupaten Solok tidak bisa? Ritual Bakawue di Sianggai-Anggai misalnya, hal ini sangat bisa dilakukan untuk menarik wisatawan datang ke Sianggai-Anggai di Kecamatan Hiliran Gumanti. Riitual atau Bakawue sebelum turun ke sawah, bagi sebahagian masyarakat modren memang dianggap sudah kuno. Namun tradisi semacam ini, ternyata masih bertahan di Jorong Sianggai-Anggai, nagari Sariak Alahan Tigo, kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Bahkan ritual di nagari yang masih terbilang terisolir itu, dengan cara berdo’a bersama yang digelar di lapangan terbuka serta diikuti oleh seluruh penduduk  yang berdiam di jorong tersebut, masih bertahan sampai saat ini dan tidak pernah ternoda oleh arus moderen seperti sekarang.

Selain itu, upacara minta selamat atau disebut juga ‘Bakawue’ sebelum turun ke sawah yang dilakukan dua hari berturut-turut dan harus dilakukan pada hari Jum’at dan Sabtu pada setiap habis lebaran haji dan digelar satu kali dalam tiga tahun itu, sudah berlangsung selama 82 kali atau sudah berlangsung selama 246 tahun atau sudah dilaksanakan sejak tahun 1771.

 

Tokoh masyarakat Sianggai-Anggai, Kamra (50) menyebutkan  bahwa tradisi Bakawue yang rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan tetap dilaksnakan pada hari Jum’at dan Sabtu setia bulan haji dan dilaksanakan satu kali dalam tiga tahun ini, sampai saat ini sudah dilaksanakan sebanyak 82 kali. “Semua pejabat juga diundang untuk melihat acara ini dan juga dilengkapi dengan acara makan-makan,” jelas Kamra.

 

Selain Kamra, tokoh masyarakat  Sianggai-Anggai, Angku Malayu (67) menyebutkan bahwa nama Sianggai-Anggai berasal dari nama dua orang tua yang tinggal digubuk tua, ketika ditemukan oleh warga Talaok, yang mencari lahan baru ke arah Timur dari Talaok yakni daerah Sianggai-Anggai sekarang. “Pada waktu itu warga yang datang kesini melihat duao orang tua yang tinggal di gubuk dan berjalan teranggai-anggai atau tertatih-tatih, sehingga waktu pulang diceritakan ke masyarakat di daerah tersebut ada dua orang tua yang teranggai-anggai dan makanya lokasi ini disebut Sianggai-Anggai,” jelas Angku Melayu. Angku Malayu juga menceritakan bahwa sampai saat ini setiap hari Minggu, masyarakat Sianggai-Anggai tidak dibenarkan memotong padi di sawah dan juga setiap Jum’at dilarang turun ke sawah untuk beraktivitas. Sementara upacara ditutup dengan mendatangi hulu sungai atau kapalo banda pada hari Sabtu atau hari kedua dan diikuti oleh seluruh masyarakat dewasa. Dia juga menjelaskan bahwa tradisi bakawue sebelum turun ke sawah, dimulai ketika di Sianggai-Anggai pernah terjadi selama tiga tahun padi tidak menjadi, karena diserang kekeringan, wereng dan hama tikus.

 

Salah satu acara atau tradisi unik lainnya di Kabupaten Solok adalah acara  Ziarah kubur atau mendo’akan kerabat yang sudah meninggal, mungkin tidak akan asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Namun di Nagari Gaung, kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, tradisi ziarah kubur dilakukan selama satu Minggu, mulai hari pertama lebaran hingga hari ketujuh lebaran. Hal tersebut berlangsung sejak dari zaman dulu kala.

 

Bagi masyarakat Gaung, tradisi ini sudah dianggap sakral dan tetap dipertahankan sejak ratusan tahun silam untuk mengirim do’a kepada Jorong Bansa. Ratusan masyarakat terlihat begitu antusias mengkikuti jalannya ritual unik tersebut. Tanpa terkecuali diantaranya kalangan muda-mudi, anak-anak, tua muda, ikut larut dalam balutan suasana yang penuh kekeluargaan ini.

Dalam satu hari,ziarah kubur ini bisa berlangsung di dua sampai empat lokasi berbeda, dengan sistem pelaksanaan dilakukan secara bergantian. Upacara adat tersebut biasanya dimulai pagi hari, berakhir petang hari, tergantung seberapa banyak jumlah lokasi yang dijadwalkan hari itu. Begitu seterusnya, satu sama-lain larut dalam suasana peuh hikdmat. Secara garis besar, Nagari Gauang memiliki tiga kaum adat, yakni kaum suku Caniago, Supanjang, dan suku Koto. Masing-masing kaum punya sejumlah pandam pekuburan, dengan sistem pembagian sudah diatur sesuai garis keturunan, maupun sako dan pusako. Seirama alur garis keturunan dari kepala waris/ kaum, ibarat buah durian masing-nya punya ruang-ruang.

 

 

Meski secara Geografis Nagari Gauang berbatas langsung dengan kota Solok, namun tradisi ziarah kubur atau masyarakat setempat menyebutnya “Rayo Katampek”, masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Secara sosial ekonomi nagari terlihat biasa-biasa saja, namun warganya mampu bertahan dengan seabrek nilai-nilai tradisi, adat dan budaya yang diwarisi secara turun-temurun. Salah satu bentuk kearivan lokal yang dipertahankan adalah ziarah kubur ini dan mulai dilaksanakan usai salat Idul Fitri 1 Syawal setiap tahunnya.

“Saya sudah  menyaksikan secara langsung tardisi masyarakat Gaung ini. Dan ternyata ini benar-benar luar biasa dan bisa lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta Alam dan bisa mendo’akan para leluhur kita. Ini benar-benar bisa menjadi contoh oleh masyarakat nagari lain,” terang Yulfadri Nurdin berkaca-kaca.

Upacara Rayo Katampek dimulai dengan ritual balaho (tahlilan), berbalas pantun adat, pembacaan doa. Dipertengahan ritual, juga dilangsungkan pembagian jamba pada segenap tamu yang datang, disertai pengumpulan infak/sedekah untuk pembangunan Masjid oleh rajo Janang, yakni anak laki-laki dari keluarga laki-laki kaum bersangkutan. Nasi bungkus dan beraneka macam makanan yang dibagi-bagikan tersebut disiapkan oleh masing-masing kaum selaku ahli waris. Tidak memandang apakah itu orang miskin, kaya, berpangkat, rakyat biasa, semuanya diberi jamba.

 

Menurut Walinagari Rizal Idzeko, jamba yang dibagi-bagikan ke pengunjung diimplementasikan sebagai sedekah.

“Pahalanya jelas diniatkan untuk para anggota keluarga yang telah meninggal sekaligus bermakam di pandam perkuburan tersebut. Rayo Katampek ini juga sekaligus menjadi ajang ritual akbar ziarah kubur, serta perekat tali silaturrahmi, kekeluargaan antar sesama warga di Gaung ini,” terang Walinagari.

Dengan adanya tradisi unik ini, kalau dikemas dengan baik, maka akan menjadi objek menarik bagi wisatawan asing untuk datang ke Kabupaten Solok. Namun pertanyaannya, apakah hal itu bisa dikemas dengan baik oleh Pemkab Solok?  (penulis adalah wartawan KORAN PADANG, tinggal di Kabupaten Solok)

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda