Pengerjaan Taman Hutan Kota Sukarami Diduga Kuat Ada Unsur Kongkolingkong

0
359

SOLOK, JN- Meski pengerjannya sempat terkatung-katung selama hampir 10 tahun, namun semenjak Bupati Gusmal bersama Wakil Bupati Solok terpilih dalam Pilkada serentak Tahun 2016 lalu, Pemerintah Kabupaten Solok dibawah pimpinan Bupati Gusmal, akan terus mengelontorkan dana untuk melanjutkan pembangunan  Taman Hutan Kota Wisata (THKW) Sukarami yang dulu bernama Taman Hutan Kota Terpadu (THKT).

Taman Hutan Kota Wisata Sukarami, terletak di pinggir Jalan Lintas Sumatera Solok Padang KM 20, tepatnya di samping rumah dinas Wakil Bupati Solok, atau hanya berjarak sekitar 200 Meter dari Tugu Ayam Arosuka. Bupati Solok dan DPRD bumi penghasil beras ternamo tersebut sudah, berkomitmen akan melanjutkan pembangunan THKW sejak awal terpilih menjadi Bupati lalu.

“Ini adalah Pekerjaan Rumah yang harus dituntaskan, dan kita tetap akan melanjutkan pembangunan Taman Hutan kota Wisata Sukarami dan juga sudah didukung oleh DPRD Kabupaten Solok,” begitu ucapan  Bupati Solok, H. Gusmal, usai dilantik beberapa tahun lalu. THKW sudah dirancang dan direncanakan oleh Bupati Gusmal waktu menjabat menjadi Bupati Solok priode 2005-2010 lalu. Namun setelah tidak menjadi Bupati pada priode 2010-2015, nasib THKW jadi merana dan dibiarkan lapuk serta menjadi hutan liar. Dan setelah Bupati Gusmal terpilih kembali bersama Yulfadri Nurdin, kini THKW mulai dipoles. “Itu adalah aset kita untuk mendatangkan PAD dan berada di lintas utama. Kita harus menata THKW secantik mungkin untuk rekreasi aman bagi keluarga,” jelas H. Gusmal.

Langkah kearah itu sudah dimulai, namun yang perlu menjadi perhatian serius adalah planning dan pengawasan pekerjaan yang perlu ditingkatkan. Sebab untuk tahap awal pembangunan tahun 2018 ini, sedikitnya hmpir Rp 9 Milyar dana APBD dikucurkan untuk mempercantik THKW. Namun banyak kalangan yang menilai bahwa pembangunan THKW lanjutan tahun 2018 dikerjakan asal jadi dan kuat dugaan terjadinyo kokgkolingkong antar rekanan dan pihak terkait.

“Masak dengan dana hampir 9 Milyar, hanya itu saja hasil kerja yang kelihatan dan juga dinilai tidak sesuai spek. Selain itu dalam beberapa Minggi usai dikerjakan taman sudah hancur dan kalau hujan tiba THKW tergenang air dan terkesan pengerjaannya  tidak profesional,” jelas Ketua LSM Perak, Yemrizon.

Banyak kalangan di Kabupaten Solok yang mencurigai adanya indikasi permainan atau kongkolingkong antara kontraktor dan dinas terkait dalam pengerjaan proyek bernilai Milyaran Rupiah tersebut. Bahkan bisik-bisik LSM dan wartawan serta LSM mulai terdengar di warung-warung tentang buruknya pengerjaan THKW dengan dana sebanyak itu.

Tokoh masyarakat Kabupaten Solok, Ossie Gumanti, menyebutkan bahwa Jika memang ada indikasi penyimpangan ataupun kerugian negara dalam pelaksanaan proyek tersebut dan menghindari rumor yang berkembang ditengah masyarakat ada baik nya aparatur penegak hukum untuk melakukan penyelidikan ataupun  upaya hukum lain nya yang bisa membuat masalah ini jadi terang benderang dan tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat. “penegak hukum harus berani melakukan pemeriksaan terhadap dugaan penyelewengan dana pembangunan THKW dan biar terang, lakukan saja audit ulang,” jelas Ossie Gumanti, Minggu (21/10).

Beginilah kondisi THKW disaat musim hujan, air tergenang dimana-mana membuktikan sanitasi tidak bagus, padahal anggaran Milyaran Rupiah

Ossie Gumanti juga mempertanyakan keseriusan pengawasan dari lembaga kontroling seperti DPRD Kabupaten Solok yang sejak dari perencanaan hingga pelksanaan seakan bungkam tidak ada komentar tentang THKW, padahal berada di depan jalan utama dan dilintasi mayoritas anggota dewan setiap hari. “Ada apa dengan anggota dewan, kok seakan bungkam?,” jelas Ossie Gumanti. Selain THKW Sukarami, Ossie  juga mengkritik tajam pengerjaan pavingblock Masjid Islamic Center Koto Baru, yang hingga saat ini tidak ada yang mengusut, padahal kondisinya hancur lebur. Selain itu, yang tak kalah hebatnya adalah pembangunan pusat Promosi yang berada di samping Tugu Ayam atau depan rumah Dinas Bupati Solok, baru beberapa bulan dikerjakan kondisinya juga sudah hancur, tetapi semua membisu. “Ini harus ada pngawasan dan tindaklanjutnya, kalau tidak APBD Kabupaten Solok yang bernilai Milyaran Rupiah akan sia-sia,” jelasnya.

Pada pertengahan tahun 2018 ini, dana untuk kelanjutan THKW Sukarami  juga sudah dianggarkan atau diatambah sekitar Rp 16 Milyar lagi melalui dana APBD Kabupaten Solok. Namun hingga akhir bulan Oktober 2018 ini, juga belum jelas proses lelangnya. “Benar, saya juga sudah dengar bahwa pertengahan tahun ini akan ada dana tambahan sekitar 16 Milyar lagi untuk kelanjutan THKW, tetapi sampai saat ini saya juga belum dengar  ada pemenangnya atau gagal proses lelangnya. Apa mungkin karena ramainya sorotan terhadap pembangunan yang lalu?,”  tambah Ossi Gumanti.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PUPR) Kabupaten Solok, Effia Vivi Fortuna, ketika dihubungi via Handphonya, untuk komfirmasi masalah kelanjutan TJKW tersebut, HP yang bersangkutan sedang tidak aktif.

Beberapa kegiatan besar juga sudah dilaksanakan di THKW seperti goro massal, pameran serta berbagai ivent Kabupaten Solok, termasuk untuk ajang bazar dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ke 73 tahun 2018 ini serta bursa lowongan kerja atau Job Fair 2018. Sebelumnya, ditempat itu juga dilaksanakan pergelaran ofroad, kegiatan senam masal pemkab Solok dan puncak peringatan Hari Bumi tingkat sumbar beberapa hari lalu. Dan beberapa hari lagi atau akhir tahun, di THKW juga akan digelar Jambore BNK yang rutin dilaksankan setahun sekali.

Ide pembangunan taman rekreasi dan pemandian air panas Taman Hutan Kota Wisata, Sukarami, bermula sekitar tahun 2007 semasa pemerintahan Bupati Gusmal waktu itu.  “Dari awal kita sebenarnya ingin Taman Hutan Kota itu rampung pengerjaannya dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan bisa menghasilkan PAD bagi Kabupaten Solok. Namun karena berbagai persoalan, akhirnya THKW ditunda pengerjaannya. Bahkan menurut hitungan, Taman Hutan Kota akan bisa rampung pengerjaannya dengan dana Rp 20 Milyar. Tetapi kalau saat ini dikerjakan, setidaknya dana yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 40 Milyar. Hal ini tentunya kita hitung dengan naiknya harga beberapa bahan bangunan dan upah tenaga kerja,” jelas Gusmal

Sementara tokoh masyarakat Kabupaten Solok, Ir. Bachtul, berharap agar Taman THKW bisa dijadikan ajang untuk menambah PAD bagi Pemkab Solok. Caranya, seperti yang direncanakan adalah dengan membuat THKW berbeda dengan taman-taman lain di Sumbar atau dengan menciptakan pemandian air panas atau kolam air panas di THKW. “Kalau itu bisa terwujud, maka saya optimis THKW akan ramai dikunjungi siang malam, karena ada pemandian air panas yang cocok dengan cuaca Arosuka yang dingin,” jelas Ir. Bachtul. Bahkan Caleg DPR RI dari Partai PPP itu, optimis kalau pemandian air panas sudah terwujud, maka PAD Kabupaten Solok akan naik (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda