Koto Hilalang Ditetapkan sebagai Nagari Destinasi Wisata Kampung Tradisi

0
1001

SOLOK, JN-Pemerintah Kabupaten Solok, menetapkan Nagari Koto Hilalang, Kecamatan Kubung sebagai Nagari atau desa adat “destinasi wisata kampung Tradisi di Kabupaten Solok. Penetapan Nagari Koto Hilalang sebagai destinasi wisata kampung tradisi itu, juga sudah masuk dalam Rencana Induk Pariwisata Daerah (Riparda) Kabupaten Solok tahun 2013-2025. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok, Yandra, Senin (9/1) yang didampingi Wali Nagari Koto Hilalang, Jafrison dan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Yuliendra Datuak Rajo Sulaiman.

Penetapan Nagari Koto Hilalang sebagai destinasi wisata kampung tradisi, karena di Nagari Koto Hilalang sangat banyak ditemui banyak situs-situs bersejarah. Diantara situs bersejarah yang ada di Nagari yang berbatas dengan Salayo dan Kota Solok itu adalah Puncak Kode, Bukik Lasuang, Bukik Kulik Manih, Jalan Barantai yang dibuat dimasa penjajahan Belanda, Bukik Tembok, Guguak Pasambahan, Puncak Guguak Pulau serta masih banyak  situs-situs bersejarah lainnya. “Nantinya bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Koto Hilalang dan ingin menyaksikan aktivitas asli masyarakat nagari, bisa bermalam atau menginap di rumah-rumah warga termasuk di Rumah Gadang atau rumah adat yang ada di Koto Hilalang,” jelas Walinagari Koto Hilalang, Jafrson.

Dijelaskan Jafrison, Koto Hilalang dengan jumlah penduduk 2.848 jiwa tersebar tersebar di lima jorong dengan luas wilayah 35,50 kilometer persegi tersebut, bahkan sudah memiliki buku monografi tentang nagari itu, yang difasilitasi Pemerintah Kecamatan Kubung

“Wisatawan lokal atau manca negara yang mengunjungi kampung wisata Nagari Koto Hilalang itu, bisa merasakan benar aktifitas kehidupan asli sehari-hari masyarakat setempat yang masih sangat tradisionil dan itu mungkin yang menjadi kebanggaan di Koto Hilalang,” terang Jafrison. Nagari Koto Hilalang sudah ada monografi nagarinya dan dibuat  tahun 2014, Pemerintah Nagari Koto Hilalang tersebut, juga sudah membuat tiga Peraturan Nagari (Perna). Masing-masing, kata dia, Perna No. 5 Tahun 2014 tentang Magrib Mengaji, lalu Perna No. 6 tentang Jumat Hening dan Perna No. 7 tentang Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan (MTTS). Buku monografi Nagari Koto Hilalang itu juga sebagai dokumen atau aset nagari serta menjadi referensi bagi anak nagari Koto Hilalang dalam rangka menunjang pembangunan ekonomi, sosial dan budaya nagari setempat. Nagari Koto Hilalang, terletak 600-700 meter diatas permukaan laut ini dilintasi dua anak sungai, masing-masing sungai Batang Gawan dan Gawan Kaciak.

“Nagari Koto Hilalang juga memiliki tradisi adat salingka nagari atau seni asli budaya tradisionil nagari yang masih terus dipertahankan dan dilestarikan, seperti tradisi Alek Pesta Gadang perkawinan dengan memotong sapi, lalu Baiyo-iyo atau bermusyawarah saat mencari menantu, yang bisa dijadikan wisata religius,” terang Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Yandra (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda