Di Gantung Ciri Ratusan Perantau dan Masyarakat Turun ke Sungai: Tradisi Mencari Ikan Bersama Yang Tidak Terlupakan

0
4189
Tampak pada gambar, ratusan masyarakat nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, baik perantau atau masyarakat yang tinggal di kampung halaman, saat turun ke sungai untuk menangkap ikan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa gotong royong dan rasa kebersamaan

 

Di Gantung Ciri Ratusan Perantau dan Masyarakat Turun ke Sungai

Tradisi Mencari Ikan Bersama Yang Tidak Terlupakan

SOLOK, JN-  Tradisi unik masyarakat nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok pada saat berkumpul antara perantau dan masyarakat yang tinggal di kampung halaman adalah turun ke Batang Ayia (turun ke sungai) untuk mencari ikan bersama-sama, tua, muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan serta para urang sumando.

Acara yang disebut masyarakat setempat dengan sebutan ‘mangalah’ ini, rutin dilaksanakan setiap lebaran Idul Fitri, yang bertujuan untuk menjalin rasa kebersamaan. Selain itu, acara turun ke sungai dengan cara menutup atau membelah salah satu bagian sungai yang bercabang dengan batu kemudian ditutup dengan terval atau jerami atau juga dengan menggunakan tanah basah yang bisa menutup saluran air. Disaat salah bagian sungai sudah mulai mengering, maka akan dilepas obat ikan, bisa berupa racun ikan yang dijual di pasaran atau dengan menggunakan tubo urek (pohon tuba). Disaat tuba dilepas, maka ikan dalam beberapa saat akan teler dan masyarakat akan berhamburan turun ke sungai menangkat ikan yang teler dengan menggunakan jaring atau tangguak, jala serta lukah dan yang lainnya.

“Tradisi menangkap ikan anatara perantau dan masyarakat ini, sangat berguna untuk menjalin rasa kebersamaan antara warga rantau dan masyarakat kampung. Selain itu, rasa gotong royongnya serta solidaritasnya juga sangat tinggi,” jelas Walinagari Gantung Ciri, Arnold Piliang, yang juga tampak hadir di sungai, Rabu lalu. Sungai Batang Lembang yang mengalir dan membelah nagari itu, dikenal banyak didiami  oleh ikan, seperti garing, situkah, selarian, tali-tali, Baung, tilan, lanjiang, udang dan ikan mujahir. Disebutkan Walianagri Arnold Piliang, acara ini juga menjadi objek wisata bagi masyarakat yang melintas di daerah tersebut.

Usai melakukan acara mangalah ini, seluruh batu penghambat dirubuhkan dan ikan yang tadi teler dan tidak tertangkap oleh  masyarakat akan hidup kembali. Tardisi seperti ini, juga bisa ditemui di nagari tetangga Gantung Ciri, seperti Jawi-Jawi Guguk, Koto Gaek Guguk, Batang Barus atau di daerah Sariak Alahan Tigo (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here