Cuaca Ekstrim Petani Padi di Solok Kesulitan Panen

0
1314

SOLOK, JN-   Nasib petani padi di Kabupaten Solok memang selalu diuji. Jika musim kemarau panjang, petani kesulitan mendapat air. Namun disaat musim hujan tiba, para petani juga kesulitan menjemur gabah dan panen padi.

Musim hujan dan cuaca yang terbilang ekstrim dalam sebulan terakhir, membuat para petani padi di beberapa Kecamatan di Kabupaten Solok kesulitan panen. Musim penghujan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini di Kabupaten Solok, jelas membuat para petani merugi dikarenakan susah panen dan menjemur gabah. Masih beruntung sawah mereka tidak kebanjiran seperti dibeberapa daerah di Indonesia.  Seperti yang terjadi di Tiga Nagari di Guguak kecamatan Gunung Talang, seperti nagari Koto Gaek Guguak, Koto Gadang Guguak dan Jawi-Jawi Guguak, dampak dari  musim hujan belakangan ini juga membuat sebagian aktivitas warga terganggu, terutama bagi petani padi yang saat ini sedang memasuki musim panen. “Kami kesulitan panen disebakan musim hujan yang sudah hampir sebulan lamanya, padahal padi kami sudah siap untuk di panen,” jelas Jasril (45) seorang petani di Pakan Jum’at Jawi-Jawi Guguak, Senin (28). Dia menyebutkan bahwa selain padi basah, para pekerja juga sulit  dicari karena biasanya petani pada musim hujan lebih banyak ke kebun atau ke ladang atau hanya berdiam diri di rumah. Hal yang sama juga disampaikan Buyuang (35), warga Pinang Sinawa, kenagarian Gantung Ciri Kecamatan Kubung. Menurutnya, musim hujan para petani padi tidak bisa berbuat banyak karena baru saja mau panen hujan sudah turun. “Selain itu, kita di sini juga  kesulitan mengeringkan gabah hasil panen, disebabkan hujan yang terus-menerus, hal itu membuat kualitas gabah menjadi jelek. Tetapi harus bagaimana lagi ini kan dari sononya,” jelas Buyuang dengan nada polos.

Tidak hanya di Kecamatan Gunung Talang dan Kubung sebagai lumbung penghasil beras di Kabupaten Solok, di nagari Muara Panas, Sirukam dan Dilam, Kecamatan Bukit Sundi serta di Sumani dan Saningbaka Kecamatan X Koto Singkarak, para petani juga mengalami hal yang sama. “Kalau pagi kadang cuaca bagus, namun pada menjelang siang hingga malam hari, cuaca sudah mulai hujan dan kami tidak bisa panen dan juga jemur padi kami,” jelas Syafri warga Saningbakas. Dia juga menyebutkan jika musim panen jatuhnya bertepatan dengan musim hujan, maka hal ini jelas akan merugikan petani. “Biasanya kalau musim panas, satu hingga dua hari gabah bisa kering dan siap untuk digiling, namun kalau cuaca seperti ini proses menjemurnya bisa satu Minggu baru bisa digiling,” terang salah seorang seorang pengusaha ricemilling atau huller di Muara Panas. Hal serupa juga dialami masyarakat di Sungai Jambur, Kecamatan X Koto Sungai Lasi,  dimana menurut Andre (22), pihaknya juga  mengaku kesulitan panen padi disebabkan cuaca yang terus menerus hujan. “Kalau mau panen terpaksa kita pasang terpal agar tidak kehujanan dan gabah tidak basah,” tutur Andre dengan wajah tampak polos  (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here