Bersihkan PDAM Kab. Solok Dari Praktek Mafia Busuk

0
378

SOLOK, JN- Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Solok, saat ini menjadi salah satu Perusahaan Daerah yang banyak mendapat kritikan tajam dari masyarakat bumi penghasil bareh tanamo tersebut.
Selain pelayanan kurang baik ke masyarakat, PDAM dinilai masih mempunyai banyak masalah, mulai dari air sering mati, kotor, tagihan yang tidak sesuai dengan pemakaian hingga menaikan tarif belum pada waktunya.

Selain itu, adanya desas desus bahwa di tubuh PDAM sendiri masih belum kondusif hingga semua merasa menjadi Dirut. Kritikan tajam juga dilontarkan oleh anggota DPRD Kabupaten Solok atas buruknya pelayanan PDAM tersebut.
Banyaknya keluhan oleh masyarakat di Alahan Panjang karena air PDAM keruh dan sering mati, tidak lancarnya pasokan air PDAM ke kantor Pemda di Arosuka, Keluhan masyarakat Perumnas Kayu Aro dan Nagari Guguk serta Galagah di Muara Panas serta yang lainnya, membuat karyawan dan Dirut PDAM menjadi bahan ocehan serta gunjingan setiap saat dari masyarakar.

Bahkan anggota DPRD Kabupaten Solok, Jon Firman Pandu, beberapa waktu lalu pernah meminta Bupati Solok untuk segera menegur Dirut PDAM yang dinilai tidak bisa membenahi ‘problema dan dilema’ yang ada di tubuh PDAM.

“Saya melihat pelayanan PDAM Kabupaten Solok masih jauh dari harapan masyarakat, sebab masih banyak keluhan yang saya terima termasuk masalah karyawan yang bekerja di PDAM tidak kompak. Selain itu, masyarakat masih banyak menggeluhkan masalah pembayaran yang membengkak dan besarnya tarif tagihan asal dibuat-buat saja oleh karyawan PDAM, masak air tidak dipakai dan mati, tetapi bayarnya masih diatas Rp 90 ribu. Itu kan sama saja lebih dari 30 kibik dan tidak profesional,” tutur Jon Pandu.

Pihaknya berharap agar dengan adanya penggantian Dirut PDAM Kabupaten Solok beberapa waktu lalu, PDAM
bisa lebih baik dan transfaran. Selain itu, karyawan yang tidak jujur di PDAM dan tidak membantu tugas Dirut, agar segera diganti saja.

“PDAM sampai sekarang masih disubsidi dari pemerintah, tapi kita tidak berharap mereka untung dulu, namun untuk membenahi ditubuh PDAM sendiri saja itu sudah bagus,” tutur Jon Pandu.
Tahun 2017 lalu saja, sedikitnya Rp 750 juta Pemkab Solok masih memsubsidi PDAM.

Anggita DPRD kabupaten Solok, Marsal Syukur, meminta agar Dirut PDAM menata kembali karyawan di tubuh PDAM baik yang ada di kantor atau yang di lapangan dan juga kantor cabang.

Menurutnya, kalau air dikelola secara baik, maka pihaknya yakin akan meraih keuntungan karena modalnya hampir tidak ada. Selain itu untuk menata air PDAM, libatkan masyarakat nagari dan walinagari yang dilalui PDAM.

“Saya masih dengar masih banyak air yang keruh dan sering mati ke rumah masyarakat dan juga masih banyak rumah yang tidak pakai meteran dan masih banyaknya masyarakat yang belum membayar karena diduga ada permainan dengan karyawan lapangan PDAM,” sambung Marsal Syukur.

Ditambahkannya, untuk mengatasi agar pelanggan PDAM tidak sering mengeluh, dibutuhkan seorang pemimpin yang energik, minimal untuk kesehatan PDAM itu sendiri. “DPRD selalu menganggarkan dana untuk PDAM agar PDAM sehat dan mungkin tidak usah PDAM bisa beruntung dulu, minimal untuk kesembuhan PDAM saja. Tapi saat ini sering terdengar keluhan bahwa PDAM suka menaikan tarif yang memberatkan masyarakat,” tutur Marsal Syukur.

Bahkan tahun ini, akan dikucurkan dana Rp 40 Milyar Untuk Pembangunan Instalasi PDAM Kabupaten Solok dari Pemerintah.

Menurut Dirut PDAM Kabupaten Solok, Ardinal, SE, MSi, tahun ini Pemerintah Provinsi Sumbar bakal mengucur dana sebesar Rp 40 Milyar untuk pembangunan Instalasi air minum di nagari Gantung Ciri.

Dana tersebut dikelola oleh pemerintah Propinsi Sumatera Barat, mulai dari perencanaan hingga pembangunan dan serah terima kepada pemerintah Kabupaten Solok. Bahkan saat ini DED dan rancangan rencana pembangunannya sudah ditangan PDAM Kabupaten Solok.

Diperkirakan, kata Ardinal, jika pembangunan selesai akan mampu mengaliri banyak pelanggan, yang berdomisili didua daerah Kabupaten dan Kota Solok. Hasil survei menyebutkan IPAL ini bakal mampu mengalirkan air sebanyak 500 liter/detik.

“Saat ini kita menunggu realisasi dan prosesnya di Pemerintahan propinsi Sumbar. Semoga cepat terealisasi dan dapat dimanfaatkan untuk masyarakat,” kata Ardinal

Sejak Juli 2015 lalu, Direktur PDAM Kabupaten Solok yang lama, Eri Kardo sudah mengumumkan kenaikan tarif pembayaran air PDAM berdasarkan Surat Keputusan Bupati Solok Nomor 500-280-2015. Tarif dasar air yang sebelumnya Rp 900 naik menjadi Rp 1.200.

Namun sampai hari ini PDAM juga belum maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kondisi ini tidak lepas dari sarana dan persediaan air yang terdapat di Kabupaten Solok.

Dirut PDAM kabupaten Solok saat ini, Ardinal menyebutkan bahwa seringnya air sering mati ke rumah masyarakat, disebabkan karena sumber air kita terbatas dan perlatan kita seperti pipa sudah banyak yang tua.

Sedangkan terkait masih adanya prilaku dari oknum karyawan PDAM yang masih suka berprilaku nakal di lapangan, Dirut PDAM itu berjanji akan menyelidiki sampai ke lapangan dan akan menindak tegas kalau memang ada indikasi berbuat nakal (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda