Perempuan Tua Itu Mandiri Dalam Keterbatasan

0
58

MEMILIKI keterbatasan fisik namun tetap gigih dalam berusaha, begitulah keadaan nenek Ani yang sudah bertahun-tahun hidup sendiri dan tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan, nenek Ani yang sekarang berusia kurang lebih 60 tahun memiliki keterbatasan fisik yaitu kakinya lemah, telapak tangannya kaku, penglihatannya buram, dahulunya nenek Ani terlahir sehat dan tidak cacat sedikitpun, beliau adalah anak ke lima dari lima bersaudara dan sejak bayi beliau sudah ditinggalkan kedua orang tua nya, ibu beliau meninggal ketika beliau berusia 1 tahun dan ayahnya juga pergi sedari balita, beliau hanya dirawat oleh ke 4 kakaknya.
Akibat keterbatasan ekonomi dan tinggal jauh dari keramaian beliau tidak pernah sekolah dan saat berumur 14 tahun beliau demam panas secara tiba-tiba dan saat itu kondisinya untuk makan sangat susah maka beliau hanya dirawat dirumah dan meminum obat tradisional seaadanya karena tidak mempunyai biaya untuk berobat, lama kelamaan kondisi kaki dan tangan beliau memburuk sehingga keluarga mencoba untuk memberi segala macam pengobatan tradisional di kampuAng, namun takdir berkata lain, beliau tak dapat disembuhkan, sejak itulah kaki beliau lemah, telapak tangannya kaku dan badannya kurus. Tapi beliau tetap saja bersemangat dalam menjalani hidup, apapun yang beliau bias dikerjakan untuk membantu ekonomi keluarganya padahal kondisi fisik beliau amatlah tidak memadai, ditambah lagi sekarang penglihatan beliau mulai buram, kadang bias saja beliau terjatuh ketika berjalan dijalanan yang tidak rata namun beliau tidak pernah mengeluh dan tetap bekerja keras untuk menyambung hidup.
Dahulu beliau pernah tinggal di Jakarta dan seiring berjalannya waktu beliau dipertemukan dengan jodohnya oleh Allah SWT, awalnya beliau menolak karna sadar akan kekurangan pada dirinya, namun lelaki itu sangat baik dan menerima kondisi beliau dengan ikhlas, bersikeras menolak namun karna permohonan keluarga beliau menerima lelaki tersebut untuk menikah, tapi keluarga beliau tidak memaksa hanya saja menginginkan yang terbaik untuk beliau, karena jika beliau menikah dan memiliki keturunan, anak beliau bias membantu dan merawat beliau dan suami di hari tua.
Setelah menikah beliau tinggal di sebuah rumah kontrakan semi permanen yang sudah mulai peyot bersama suaminya, kala itu sewa kontrakan beliau Rp.800.000/ tahunnya, dan untuk keperluan isi rumah seperti piring, gelas dan alat memasak lainnya dipinjamkan oleh pemilik kontrakan. Pemilik kontrakan beliau sangat baik kala itu, bahkan jika gelas ataupun piring yang dipinjamkan itu pecah atau rusak beliau tidak diizinkan untuk mengganti, karena itu pesan pemilik kontrakan karena dia berniat menolong dengan ikhlas karena ingin meringankan dan mempermudah nenek Ani.
Namun enam bulan kemudian, beliau dan suami pindah rumah karena kontrakan sebelumnya sudah rusak dan ingin diperbaiki oleh pemiliknya, setelah pindah ke kontrakan baru beliau berjualan kebutuhan sehari-hari seperti minyak tanah, gula,sabun, makanan ringan, dll di depan rumahnya itupun hanya sedikit-sedikit dan apa adanya.
Suatu waktu nenek Ani pernah pulang ke kampung beliau, yaitu kampung Pisang, Bukittinggi Agam, Sumatera Barat dengan menggunakan pesawat, beliau pulang terburu-buru karena kakak beliau sakit dan meninggal secara mendadak, biaya untuk tiket pesawat hasil dari partisipasi teman-teman pengajian beliau di Jakarta bahkan bukan hanya 1 tiket pesawat tapi beliau dibelikan 2 tiket pesawat untuk pulang dan balik ke Jakarta. Bagi beliau teman-teman pengajiannya sangat baik karena selalu ada dan terus membantu ketika beliau mendapati kesusahan, nenek Ani sudah 2 kali naik pesawat seumur hidup, ucap beliau sambil tersenyum senang.
Cerita tentang nenek Ani selanjutnya adalah saat beliau tinggal bersama suaminya di Jakarta, salah satu yang membantu ekonomi mereka adalah bantuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu dana BLT yang diterima 4 kali dalam setahun sebanyak Rp.300.000 untuk sekali pencairan.
Ketika beliau dan suami memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang ke rumah mertua beliau, karena mertuanya sudah tua dan tinggal sendiri dirumah karena adik-adik suaminya sudah pergi bersama suamu masing-masing, dan kala itu beliau sangat merasa bersalah karena tidak bias membantu pekerjaan rumah secara maksimal dirumah mertua, suami pun tidak bisa beliau urus secara sempurna, ditambah lagi selama menikah beliau sudah 2 kali keguguran, karena rahim dan kehamilan beliau sangat lemah. Bagaimana tidak lemah beliau yang memiliki keterbatsan fisik juga harus menarik air sumur karena pada masa itu PDAM belum begitu dipakai oleh masyarakat termasuk rumah kontrakan yang beliau tempati bersama suami selama di Jakarta.
Akhirnya beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya secara diam-diam dan pulang ke Bukittinggi, karena bagi beliau kebahagian suaminya adalah segalanya. Beliau yang pergi secara diam-diam dan tidak meninngalkan secarik pesan apapun bertujuan agar suaminya tidak mencari keberadaannya, dan beliau pun bersyukur tidak pernah memberi tahu alamat kampong kepada suaminya. Hingga saat ini beliau tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya, namun mimpi masih sering, bagi nenek Ani cara beliau mengundurkan diri itu tidak masalah karena suaminya orang baik dan berhak mendapat yang lebih baik dari dirinya.
Sejak itulah nenek Ani tinggal dan hidup sendiri di sebuah rumah kontrakan di Bukittinggi dengan sewa Rp.450.000 perbulan, beliau membayar sewa kontrakan dengan cara menyisipkan uang sebanyak Rp.15.000 sehari, dan setiap harinya beliau hanya makan seadanya. Walaupun beliau memiliki anak cucu dari kakak kandungnya, beliau tetap saja merasa mampu sendiri dalam menjalani hidup dan tidak ingin bergantung kepada saudara dan keponakannya, padahal keponakan dan cucu beliau itu banyak yang ingin mengajak beliau untuk tinggal bersama dan melarang berjualan di pasar karena mereka bisa membantu biaya nenek Ani, namun beliau bukanlah seorang nenek yang manja dan bisa duduk tenang dirumah, beliau lebih memilih mandiri, karena ketika beliau pergi ke pasar, berjalan dengan keterbatasan tapi bagi beliau itu adalah sebuah nikmat dan beliau merasa kaya dengan semua itu, karena masih banyak orang diluar sana yang mengalami stroke bahkan lumpuh, ucap beliau.
Setiap harinya nenek Ani berjualan serba sedikit dan apa adanya, selesai menunaikan ibadah sholat Subuh beliau ke pasar dengan hanya meminum 1 gelas air hangat dan pergi ke pasar banto bagian belakang untuk membeli sesuatu seperti kacang panjang, mentimun, pisang dll untuk dijual kembali di sekitaran pasar banto bagian depan dan berjualan dimana yang ada saja. Jika ada razia dari Satpol PP beliau hanya meletakkan jualannya ke belakang badan, karena yang dijual sedikit Satpol PP tidak mencuragai beliau berjualan, itulah yang bisa beliau lakukan saat razia dan syukur sejauh ini beliau belum pernah tertangkap Satpol PP.
Hal yang membuat penulis semakin tersentuh adalah nenek Ani yang memiliki keterbatasan untuk berjalan tidak membuat beliau merasa terhalang untuk menunaikan ibadah shalat ke mesjid, padahal jarak tempuh dari kontrakan beliau menuju mesjid lumayan jauh untuk berjalan kaki, dan beliau selalu ke mesjid untuk menunaikan ibadah sholat ashar, maghrib dan isya.
Walaupun memiliki keterbatasan fisik, nenek Ani tidak pernah menyerah dan memilih hidup mandiri, karena bagi beliau semua bentuk nikmat itu harus disyukuri karena Allah tidak pernah tidur.
(Suci Audia Rahmadani, Sastra Indonesia, FIB Univ.Bung Hatta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda