Keltan Mungguang Indah Study Tiru ke Keltan Kubalikopi Salimpauang Tanah Datar

0
184

SOLOK, JN– Kelompok Tani (Keltan) Mungguang Indah, Jaro Batu, Jorong Pakan Jum’at, Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, hari Sabtu 28 November 2020, melakukan   Study Tiru ke Kelompok pengembangan sapi Kubalikopi, Jorong Nan II Suku, Nagari Salimpaung, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar.


Dalam kunjungan yang dikoordinir oleh PPL Nagari Jawi-Jawi Guguak, Rosalinda dan Ketua Keltan Mungguang Indah, Sofriwandy NR. Semeentara di Keltan Kubalikopi, rombongan yang berjumlah 35 orang tersebut disambut oleh Kepala Bidang Produksi dan Quality Control Kelompok Kubalikopi, Yonnasri Malin dengan suasana penuh kekeluargaan.


Acara yang diawali dengan perkenalan kedua kelompok ini dan kemudian dilanjutkan dengan sejarah kelompok peternak kubalikopi hingga bisa meraih sukses.
Menurut Kepala Bidang Produksi dan Quality Control Kelompok Kubalikopi, Yonnasri atau lebih akrab dipanggil Malin, kalau ingin sukses dalam sebuah profesi, kuncinya cukup dengan kemauan, jujur dan yakin.


“Saya memulai usaha ternak sapi ini pada tahun 2008 usai pulang dari merantau selama 15 tahun. Dan waktu itu sempat saya dikatakan gila sama orang kampung karena saya tidak punya modal untuk beli sapi tetapi membuat kandangnya,” cerita Malin.
Namun kata Malin, dibalik keberhasilan itu, ada tiga hal dasar yang mesti dimiliki kelompok tani agar sukses menjalankan usahanya. Kemauan, Kayakinan dan kejujuran harus dimiliki seluruh anggota kelompok.

Untuk memulai membeli sapi, dia mencoba mendatangi orang kaya di kampung tersebut untuk mau membelikan sapi, namun ditolak oleh orang tersebut. Kemudian awal suksesnya Malin mendatangi saudaranya di Payakumbuh agar mau membelikan sapi. Dan saudaranya bersedia untuk membelikan sepasang sapi tahun 2008 dengan harga 2 ekor Rp 15 juta. Satu tahun kemudian sapi tersebut dijual dengan harga 2 kali lipat dan dibelikan lagi ke sapi, hingga sekarang di tahun 2020 sudah berjumlah 65 ekor yang di kandang.


Menurut Malin, tidak dibutuhkan lokasi atau lahan yang begitu luas untuk memelihara puluhan ekor sapi. Seperti yang sudah dilakukannya, cukup dengan lahan seperempat hektare saja sudah cukup untuk memelihara sapi sebanyak 65 ekor.
Malin juga menyebutkan, selain daging, banyak hasil sampingan dari beternak sapi yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan, seperti penjualan kotoran sapi yang sebelumnya sudah diolah menjadi pupuk kompos.


Dari hasil penjualan pupuk kompos saja sudah bisa menutupi seluruh biaya operasional kandang, bahkan malah berlebih sekitar 5 juta dalam tiap bulannya. Bahkan dia juga sudah bisa menyekolahkan anaknya hingga tamat kuliah. Sedangkan tenaga kerjanya hanya Malin dan isteri dan dibantu satu orang pekerja.

Malin juga menceritakan cara membuat pakam ternak fermentasi jerami agar bisa tahan satu tahun dan juga dari limbah pasar, seperti kulit coklat dan lainnya.

Nenurut Malin, budidaya peternakan yang terintegrasi dengan pertanian khususnya budidaya tanaman pangan organik (hortikultura) sehingga dicapai peningkatan kapasitas produksi, peningkatan pendapatan dan kemandirian usaha.
 Malin yang sudah melaksanakan ternak sapi berbasis peternakan sapi pedaging yang telah mulai mengadopsi sistem peternakan terpadu melalui budidaya sapi pedaging, pembuatan pupuk organik, pembuatan pakan silase (amoniasi jerami) dan pengolahan biogas.


 Pada kunjungan yang dilanjutkan dengan peninjauan lapangan ini, Ketua Kelompok Tani Mungguang Indah, Sofriwandy NR, yang mewakili seluruh anggota kelompok tani dan rombongan, menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Malin yang sudah memberikan ilmu kepada kelompok tani Mungguang Indah.


“Mudah-mudahan ilmu yang kami dapat dari sini bisa dimanfaatkan di tempat kami,” sebutnya (jn01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here