Kaleidoskop Zul Efian-Rainir 2016

0
756

SOLOK, JN – Pada bulan Februari 2017 nanti, kepemimpinan Zul Elfian dan Reinier, telah mencapai usia satu tahun. Cerita bermula tepat pada tanggal 9 Desember tahun lalu, ketika rakyat telah menentukan pilihanya, pada ajang Pemilukada serentak 2015. Rakyat yang telah memutuskan pilihanya terhadap calon pimpinan daerah baru, guna mengisi posisi, Gubernur dan  Wakil Gubernur, Walikota dan Wakil Walikota, Bupati dan Wakil Bupati, untuk periode 2016 – 2021.

           Begitupun, dengan rakyat Kota Solok, juga telah menentukan pilihanya, yang jatuh kepada Zul Elfian dan Reinier, yang pada waktu merupakan calon dari no urut 1. Dengan suara mencapai 15 ribuan, KPU Kota Solok pun menetapkan calon terpilih itu melalui sidang pleno. Dan Disahkan dengan pelantikan oleh Kementerian Dalam Negeri pada Februari lalu. Lengkap sudah, rakyat akhirnya memiliki pemimpin baru, dengan kondisi dan situasi yang aman dan damai. Meskipun didaerah lain, sempat terjadi gejolak riak-riak, pasangan klaim adanya indikasi kecurangan, hingga berujung ke Mahkamah Konstitusi (MK). Berbeda, dengan Kota Solok, yang tidak ada riak sedikitpun, sehingga menjadi bukti, calon terpilih merupakan keinginan rakyat seutuhnya. Dengan begitu, segera bersiaplah calon pemimpin baru untuk melanjutkan estafet kepemimpinan lama. Bagi paslon yang kalah, barang tentu kekalahan bagi mereka merupakan sebuah konsekwensi yang harus diterima dengan ikhlas.

Pada waktu itu, fenomena di Kota Solok, sedemikian mengalir dinamis. Suara rakyat mengantarkan kemenangan bagi paslon Zul Elfian Dt Tianso – Reinir Intan Batuah (nomor urut 1) dengan total raihan suara mencapai 15.000-an.  Mengalahkan dua paslon pesaing, Ismael Koto – Jon Hendra (nomor urut 2), dan Irzal Ilyas Dt.Lawik Basa – Alfauzi Bote (nomor urut 3). Sekalipun sebenarnya diantara paslon yang berkompetisi secara mental tidaklah sepenuhnya siap menerima konsekwensi, namun inilah kenyataan dari sebuah konpetisi politik. Di lain sisi, berbagai pihak pun banyak terbawa angin bahagia, walau mereka sebetulnya tidak pernah ikut berkontribusi. Bahkan dengan lagak tak berdosa, mereka dengan bangga mengaku telah sangat berjasa.

           Pilkada sudah usai, artinya sehabis pilkada, tidak ada lagi perdebatan, pertikaian, begitupun  kelak menuntut balas budi lantaran merasa telah sangat berjasa atas paslon yang menang. Melainkan, setelah pilkada, semuanya harus saling berfikir dewasa demi kemajuan daerah.

Menjadi Tanggung Jawab rakyat

Dengan begitu hasil pesta demokrasi 9 Desember lalu, adalah sepenuhnya tanggung jawab rakyat/ masyarakat. Dimana kemenangan yang didulang Paslon Zul Elfian Dt. Tianso – Reinir, terjadi karena dipilih masyarakat. Sebab itu, kedepannya masyarakat harus ikut mengontrol, mengawal proses kepemimpinan mereka. Jangan sampai nanti beban hanya ditompangkan pada pasangan pimpinan daerah, namun masyarakat dtuntut ikut bertanggung jawab atas apa yang telah diputuskannya. Karena hakikat dari negara demokrasi tidak hanya bertujuan untuk menyukseskan pesta politik, melainkan juga dibutuhkan dalam mengawal laju pembangunan daerah, serta sistem pemerintahan. Apapun konsekwensinya kelak, masyarakat tidak bisa berlepas tangan begitu saja. Disaat program pimpinan daerah berjalan baik masyarakat memuji, namun ketika terlahir program yang tak diingini, malah keluar kalimat caci-maki. Tidak boleh begitu, masyarakat harus ikhlas menerima apapun yang terjadi.

         Idealnya, demi terciptanya sebuah iklim yang kondusif, bermartabat, daerah maju berkembang, semua lapisan masyarakat dengan pimpinan daerah dituntut saling bersinergi menghadapi berbagai rintangan/ hambatan. Kalaulah daerah ini dapat digerakkan secara demokrasi, masyarakat akan hidup lebih optimis.

 

Kota Solok Bersiap Menyongsong Era Religius

Februari 2017 nanti, setahun sudah kepemimpinan baru menyelimuti Kota Solok, seiring berjalannya roda pemerintahan dan berbagai sendi kehidupan, tatanan sosial, di negeri penghasil beras ternama tersebut. Karena untuk lima tahun kedepan, estafet kepemimpinan Kota Solok kini dipegang sesosok figure yang agamais, pendakwah terkemuka, penggerak Majelis Taklim/ zikir yang cukup disegani banyak kalangan. Dialah Zul Elfian Dt. Tianso, alias Buya. Telah menjadi rahasia umum, jika Zul Elfian Dt.Tianso adalah satu diantara seratusan  figure langka di Kota Solok. Sewaktu menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solok mendampingi Wako Irzal Ilyas Dt.Lawik Basa (periode 2010-2015), sesepuh Perguruan Beladiri Tapak Suci Cabang Solok ini proaktif membaur dengan kalangan Jamaah Masjid yang tersebar di saantro Solok. Asalkan bisa menyusup ke kelompok jamaah Masjid/ Mushalla dan grup-grup Majelis Taklim, Yasinan, ia pun melabrak protokoler. Itupun dalam berbaur dengan kalangan hamba Allah SWT rakyat badarai, Zul Elfian juga suka diapandang sederajat, bukan sebagai tamu istimewa. Hingga momentum tersebut terus mengalir, dan Zul Elfian sendiri pun cukup menikmatinya. Sampai-sampai bapak dua anak ini cenderung lupa jika sesungguhnya dia waktu adalah seorang Wakil  Pimpinan Daerah. Idealnya dalam aktivitasnya Zul Elfian mesti sedikit mendapat pengawalan ekstra,  atau paling tidak turut didampingi seorang ajudan, asisten pribadi. Namun aturan tersebut tidak berlaku dengan bagi Zul Elfian.

             Mengingatkan penulis pada sistem kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab RA, dimana kepemimpinan beliau cenderung bikin repot jajaran pemerintahan, suka berjalan sendiri mengelilingi kampung guna memastikan kondisi masyarakat. Atas karakter demikian, Umar Bin Khatab akhirnya banyak tahu tentang hal-hal yang tersembunyi, tetimbang pejabatnya sendiri yang memang secara tupoksi ditunjuk untuk itu. Begitulah fenomenan sosok pemimpin Kota Solok, selama setahun ini, sehingga Kota Solok pun akhirnya memiliki slogan baru, yakni Solok Kota Beras Serambi Madinah.

 

Belum Banyak Perubahan Drastis

Banyak kalangan menilai, sepanjang 15 tahun terakhir Kota Solok hampir tidak ada perobahan, baik pembangunan secara infrastruktur atau ekonomi, semuanya terasa beringsut, lambat, serupa siput yang berjalan menangkap mangsanya. Dengan bergantinya rezim kepemimpinan (Wali Kota – Wakil Wali Kota), Kota Solok tetap saja begitu-gitu juga, visi dan misi pun tercecer entah kemana. Memang sedemikian uniknya, berbagai mewarnai Kota Solok, sebuah kota kecil yang hanya tersedia dua kecamatan saja yakni Lubuk Sikarah dan Tanjung Harapan, serta 13 kelurahan, dengan berpenduduk sekitar 65.000 jiwa. Bagi daerah luar, Kota Solok juga dinilai cukup terkenal sebagai kota bareh/beras.  Namun selama beberapa tahun terakhir, bahkan hampir setahun ini dibawah kepemimpinan yang baru, tanpa terasa perkembangan Kota Solok tetap saja berjalan ditempat, ketika perang pembangunan antaradaerah masih terus berlangsung. Bahkan karena persaingan terlalu kuatnya, daerah-daerah pelosok pun diupayakan berkembang menjadi kampung kota. Membuat Kota Solok sulit bergerak, menyamai pacu lari daerah-daerah lain. Memang soal pembangunan ekonomi kerakyatan, untuk membenahinya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Selama bertahun-tahun Kota Solok selalu dirudung beragam masalah selalu mencuat. Lagi-lagi, faktor modal, ketrampilan, rawannya pangsa pasar. Hingga pertumbuhan ekonomi daerah melambat, pengangguran bergentayangan, kemiskinan merajalela. Solusi mudahnya, banyak yang berpaling menjadi pegawai honorer di Pemko Solok, walau bekerja tidak digaji. Kini setahun sudah kepemimpinan baru, budaya masalah yang beragam itu, tetap saja tidak hilang dan selalu terjadi.

           Demikian benar nasib Kota Solok.  Yang tahun lalu, penuh dengan harapan besar, bahwa dengan dipimpin Zul Elfian Dt Tianso – Reinier Dt Intan Batuah. Kota Solok akan menjadi lebih baik, tapi harapan itu belum juga nampak. Mungkin karena baru setahun, sehingga pemerintahan baru harus melakukan berbagai macam bentuk kebijakan percobaan atau pembenahan terlebih dahulu. Untuk kedepanyan barulah ditahun-tahun yang akan datang, pemerintahan ini mungkin saja akan mulai memberikan pembaharuan. Tentunya besar harapan masyarakat ditahun 2017 nanti (Van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here