Muzni Zakaria Masih Mencemaskan Pemahaman Masyarakat Terhadap Pemilu 2019

0
81

PADANG ARO, JN- Bupati Solok Selatan, H. Musni Zakaria, M.Eng masih mencemaskan pemahaman masyarakat tentang pemilu, meski masa pelaksaan Pemilu itu tinggal menghitung hari.

“Jujur saja, saya masih mengkhawatirkan tingkat pemahaman masyarakat kita terhadap penyelenggaraan Pemilu Pilpres dan Pileg 2019, di tengah masyarakat,” terang Muzni Zakaria.

Kekhawatiran Muzni itu, disampaikan pada saat pembukaan kegiatan bertajuk Sosialiasasi dan Promosi Persiapan Pemilih Serentak di Kabupaten Solok Selatan yang diselenggarakan oleh Kantor Kesbangpol Pemerintah Solok Selatan, bertempat di Padang Aro, Jumat (5/4). Acara dihadiri oleh para Kepala OPD, Staf Ahli, Asisten, Camat dan Walinagari, unsur Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Paga Nagari/Karang Taruna serta tokoh dan elemen masyarakat se Solok Selatan.

Selain itu tampil sebagai narasumber diantaranya dari kalangan akademisi Fisip Unand, Kesbangpol Provinsi Sumbar, KPU dan Panwaslu Kabupaten Solok Selatan.

Kekhawatiran Bupati Solsel itu, karena masih banyaknya keluhan langsung dari masyarakat banyak disaat dirinya hadir di tengah masyarakat dalam berbagai kesempatan.

Lebih jauh dijelaskan Muzni, sejatinya, KPU dan Panwaslu lebih gencar melalukan sosialisasi ke tengah masyarakat. “Begituy banyak saya dapat keluhan dari masyarakat karena rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman mereka lantaran terasa minimnya sosialisasi Pemilu Pilpres dan Pileg 2019 oleh pihak terkait seperti KPU, Panwaslu, Parpol. Sementara waktu pelaksanaan tanggal 17 April sudah dekat. Jadi guna meminimalisir hal itu, saya minta Kesbangpol Pemkab Solok Selatan untuk menyelenggarakan sosialisasi ini agar terbantu,“ terang Muzni Zakaria.

Disisi lain, yang tidak kalah mengkhawatirkannya adalah di waktu masyarakat masuk ke kota TPS untuk menggunakan hak politiknya. Pemilih tidak menemukan foto dari para caleg kecuali untuk pasangan pilpres yang memang telah sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sementara pada spanduk dan baligho atau APK (Alat Peraga Kampanye) menampilkan foto. Untuk mengatasi kebingungan masyarakat. Maka untuk itu perlu sosialisasi yang gencar menyasar pada masyarakat pemilih agar mengerti dan memahami petunjuk.

KPU tertolong oleh para caleg melalui balighonya ikut memajang teknis memilih dengan menampilkan nama dan nomor pada kolom pencalegannya. “Ini sangat membantu penyelenggara pemilu meskipun belum maksimal karena tidak semua caleg menggunakan cara demikian. Untuk saya berharap para akademisi dan kesbangpol ke depannya perlu memberikan masukan pada pemerintah agar cara memilih yang lebih efektif supaya masyarakat pemilih tidak salah memilih karena faktor ketidaktahuan atau tidak cukup hanya mengenal atau menghafal nama caleg pilihannya,” kritik Bupati Muzni Zakaria, khusus untuk penyelenggara pemilu.

Bupati Muzni Zakaria dalam kesempatan itu juga berharap kepada KPU dan Panwaslu sebagai penyelenggara dan pengawas pemilu berikut jajarannya hinga tingkat kecamatan dan nagari, agar lebih produktif dan hati-hati serta tidak terlalu tegang dan ketus dalam menggunakan kewenangan, terutama bagi panwaslu agar lebih humanis dan gemar melakukan berbagai strategi pendekatan persuasive jika ditemukan berbagai pelanggaran. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi konflik dan terjaganya kebersamaan sebagai warga masyarakat Solok Selatan yang senantiasa damai dan tenteram. Meski demikian, tetap opitimistis pemilu serentak terutama di Solsel berlangsung dengan baik dan dibutuhkan kerjasama berbagai pihak terkait.

Dalam edukasi pemilu tersebut, gayungpun bersambut, Bupati Muzni juga mengaprseiasi antusias peserta atas kehadiran sesuai undangan atau target peserta mencapai 90 pada dua hari pelaksanaan serta antusias peserta mengajukan pertanyaan yang diselenggarakan pada dua kecamatan yang berbeda. Hal itu seperti yang dilaporkan kepala Kesbangpol Solsel, Drs.Alifis. Kehadiran dan antusias peserta tersebut suatu bukti bahwa masyarakat sangat butuh informasi seputar penyelenggaraan pemilu dimaksud.

Kepada masyarakat Bupati menghimbau agar berpikir jernih dan cerdas memilih para caleg sebagai wakilnya di DPRD tingkat Kabupaten, DPRD Provinsi dan Presiden RI.

“Pilihlah mereka yang punya kualitas mumpuni dari putra dan putri terbaik untuk DPRD Kabupaten Solok Selatan yang akan memikirkan kemajuan daerahnya bersama kepala daerah dan calon untuk DPRD Provinsi Sumbar dan Presiden RI untuk memimpin masa lima tahun ke depan,” pesan Muzni.

Sebagai Bupati, pihaknya butuh kolega yang mumpuni diparlemen dari putra dan putri tebaik Solok Selatan sebagai mitra kerja. Khusus untuk DPRD Provinsi Sumbar dan DPRD RI, kita butuh ada keterwakilan dari Solok Selatan agar bisa ikut memikirkan dan memajukan Kabupaten yang terkenal dengan julukan Seribu Rumah Gadang ini.

“Tanpa dukungan dari caleg yang duduk di parlemen, berat bagi kita untuk memicu dan memacu berlari kencang dalam berbagai pembangunan di Solok Selatan”, jelas Bupati Muzni Zakaria.

Sementara itu, akademisi dari ilmu Komunikasi dan Politik Fisip Unand, Dr. Asrinaldi.M.Si dan M.A.Dalmenda. M.Si dalam poin penting dari materinya menyampaikan, bahwa Perbedaan orientasi politik dalam masyarakat majemuk juga bisa menyebabkan konflik dan mengancam persatuan dan kesatuan dalam masyarakat.

“Kondisi ini dapat dilihat akhir-akhir ini, khususnya di dunia maya yang penuh dengan saling hujat dengan sikap yang saling bermusuhan hanya karena perbedaan pilihan politik menjelang Pemilu 17 April 2019 mendatang,” sebut Asrinaldi pakar politik Unand.

Kebhinekaan adalah sunnatullah. Merusak kebhinekaan berarti melawan sunnatullah merupakan kezaliman. Pancasila merupakan titik temu yang dapat mempersatukan berbagai golongan dan aliran ang ada di Indonesia.

“Kita sepakat bahwa dalam keanekaragaman itu dipersatukan di bawah ideologi Pancasila dan NKRI,” cetus Asrinaldi.

Sementara M. A. Dalmenda, menjelaskan, bahwa sejarah telaj membuktikan, masyarakat majemuk paling mudah dipecah-belah. Hari ini model adu domba ini adalah melalui informasi palsu (fake news) atau membuat isu-isu bohong (hoaks) terhadap suatu kelompok etnis, suku bangsa atau agama, sehingga menimbulkan kebencian dan kemarahan yang berakhir pada konflik horizontal.

“Masyarakat harus cerdas menggunakan media sosial agar tidak terbawa arus hasutan, fitnah, kebencian dan adu domba, “ pungkas M.A. Dalmenda (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda