Bakat Pembawa Rezki

0
114

DI SPBU Jalan Bypas Kayu Gadang Nomor.8, jota Padang. Di mana di tempat yang luas dipenuhi oleh bau bensin, kebisingan dan asap kendaraan yang lalu lalang datang mengisi bensin kendaraan. Di sana terdapat seorang Bapak yang duduk dengan kursi plastik yang kecil di tengah-tengah pengisian bensin bagian untuk motor, kiri-kanan terdapat ember yang berisi uang, sambil memainkan alat musik Tradisonal Minang dengan lincahnya, menghasilkan bunyi yang sangat merdu dan membuat tubuh merinding mendengarkannya. Dia adalah Naswar Wan, lelaki berumur 54 tahun, yang berasal dari Solok merantau ke kota Padang yang berkerja sebagai Tukang Saluang.

Naswar Wan sudah berkeluarga dan memiliki empat orang anak, tetapi satu meninggal dunia karena sakit. Tinggal di Padang Basia, Padang dekat Indaruang, di sebuah rumah kontrakan yang agak jauh dari tempat dia bersaluang. Menurutnya, ia berkerja sebagai tukang saluang di semua SpbuPadang yaitu ada di Spbu Ampang, Ulak Karang, Aia Pacah, Jln Bypas kayu gadang, Kuranji, Gantiang, Palapa, Bunguih dan lainya sejak tahun 2012 sampai sekarang bisa dibilang sudah delapan tahun lamanya.

Dia berpindah dari spbu ke spbu lainya. Kelincahan saat dia memainkan alat musik Tradisional Minang ini bukan belajar dari sekolah musik melainkan belajar dari alam secara autodidak alias belajar sendiri, bisa dikatakan anugrah dari Allah SWT. Tidak hanya saluang, tapi alat musik Tradisional Minang lainnya juga bisa dia mainkan, seperti Pupuik Sarunai, dan Bansi. Tidak semua orang bisa memainkan alat musik seperti itudengan lincahnya.Alat musik yang digunakan saat mencari rezeki oleh Naswar adalah milik dia, yang dibeli dari sisihan uang yang didapatkan saat memainkan alatmusik tersebut. Dia memiliki dua buah Saluang, empat buah Bansi dan satu buah Pupuik Sarunai.

Dia memilih berkerja seperti ini awalnya karena krisis ekonomi. Pada waktu itu anaknya membutuhkan uang untuk biaya sekolah, karena memiliki bakat yang telah dianugerahi oleh Allah SWT membuat dia mencoba untuk menampilkan bakatnya di muka umum. Pertama kali dia memainkan alat musik Tradisonal Minang ini di Spbu Aia Pacah, disini lah ia paling lama memainkan Saluang, Bansi, dan Pupuik Sarunai yaitu selamat dua tahun, dengan tekat dan mental yang kuat dia mencoba memainkan alat musik tersebut, awalnya tidak ada yang memberi uang, tapi lama kelamaan para kendaraan yang mengisi bensin di sana bergantian memberi uang, dengan mata berlinang ia mencoba mengumpulkan uang tersebut. Walaupun pada saat itu istri dan tetangganya melarang untuk berkerja sebagai tukang saluang, tapi dengan tekat yang kuat dia menunjukkan bahwa dengan bakatnya dia bisa mendapatkan uanguntuk memenuhi kehidupan sehari-hari keluarganya, dia tidak meminta kesiapapun, dan perkerjaan ini halal. Akhirnya sampai sekarang tetangga dan keluarganya menerima perkerjaannya.

SPBU adalah tempat yang sangat berarti oleh Naswar, yang bisa menghasilkan uang untuknya. Pergi dengan motor yang sederhana yang sudah kelihatan lelah untuk berjalan di aspal, yang sudah agak tua yang seharusnya patut diganti. Panas, hujan dan dinginnya malam dihadapi oleh tubuh yang sudah agak tuadan sudah lelah. Dihadapi bau bensin dan polusi kendaraan yang akan membuat sakit. Memainkan alunan Saluang, Bansi dan Pupuik Sarunai secara bergantian dari pukul 16:00 – 22:00 WIBatau dari pukul 8:00- 22:00 WIB setiap harinya, di Spbu yang berbeda, baik hari biasa maupun bulan Ramadhan. Dia tidak pernah melupakan Allah saat berkerja, setiap masuk waktu sholat dia berhentikan perkerjaanya untuk beribadah. Pulang larut malam mengendarai motor ke kontrakan yang sederhana untuk mengistirahatkan badan yang sudah lelah sampai matahari menyapanya.

Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan, setiap kali memainkan Saluang, Pupuik Sarunai dan Bansi. Pendapatan yang didapatkan perhari sebanyak Rp. 150.000, Rp. 250.000, Rp. 30.000, dan ada juga tidak mendapatkan penghasilan sedikitpun. “Uang yang didapatkan tidak menentu, tergantung rezeki yang diberikan oleh Allah kepada saya, dari bakat yang diberikan oleh Allah ini saya bisa mencari uang untuk kehidupan sehari-hari saya, adamemberi uang dua ribu, lima puluh ribu dan juga ada yang tidak, yang penting saya tidak pernah meminta ke mereka”, ujarnya sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dia pernah mendapatkan penghasilan yang paling banyak sekitar Rp. 500.000 ketika dia baru menjajaki Spbu untuk memainkan alat musik Tradisonal Minang tersebut. Dari pengahasilan yang didapatkan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya. Walaupun sedikit membawa uang pulang, tapi istirinya bisa menerima dan mengendalikanya.

Dari tiupan Saluang, Bansi dan Pupuik Sarunai, bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang Perguruan Tinggih, yaitu anak pertamanya yang akan wisuda di Unand tetapi meninggal dunia sebelum wisuda sekitar tahun 2014 karena sakit, kalau anak keduanya bernama Okrty Arrahman yang sudah tamat kuliah dan sudah dapat perkerjaan di Batam, anak ketiganya bernama Alfatir Muhammad akan wisuda bulan Juni besok di UNP Jurusan D3 Teknik Mesin, dan anak bungsunya yang bernama Osi Su Ara yang baru tamat SD 11 Indaruang, Padang. Dia sangat mementingkan pendidikan anaknya, anaknya harus bersekolah dan sukses kedepanya agar tidak seperti ayahnya yang hanya tamat SMA. “Pendidikan anak penting bagi saya, walaupun belum memiliki rumah sendiri, bagi saya yang penting pendidikan anak-anak dulu, biar anak-anak bisa berkompetensi, kalau anak sudah sukses baru dipikirkan untuk membuat rumah”, ujarnya sambil tersenyum bangga. Pengahasilan yang didapatkan bisa membuat rumah, tetapi naswar tidak memikirkan dulu untuk membuat rumah, yang terpenting pendidikan anaknya yang diutamakan.
Selama berkerja memainkan Bansi, Pupuik Sarunai, dan Saluang segala hambatan selalu menghampiri dia. Ketika hujan menghampiri dan panas menerangi spbu membuat dia tidak bisa memainkan merdunya alunan Saluang, Bansi dan Pupuik Sarunai.

Awalnya diusir oleh orang-orang yang berkerja di spbutersebut. Tapi setelah ia jelaskan bahwa dia tidak menggangu dan tidak meminta-minta. Dia hanya memainkan alat musik yang dia bisa, mengembangkan bakatnya dan memperkenalkan ke masyarakat sekitar. Sehingga orang-orang di sekitar spbu menerima dan ramah kepada dia. Hambatan lainya ketika ada orang lain yang mengambil tempat biasanya dia main saluang.

Walaupun banyaknya cacian, memandang rendah dan tidak terhomatnya, terhadap perkerjaan yang dia tekuni sekarang adalah cambuk untuk dia agar terus bangkit. Dilihat dari luar memang lain dipandang orang, tapi dibalik itu dia sudah pernah tampil di panggung, digedung, diundang di tempat pernikahan untuk mendapingi MC dengan Saluang dan Bansinya, ada juga acara-acara kampus, diundang oleh RRI, dan TVRI.
Di kota Padang bisa dibilang sudah semuanya orang mengundangnya, bisa empat kali dalam sebulan dan juga ada tiga kali sebulan, tidak menentu orang-orang mengundangnya, kecuali bulan puasa tidak ada yang mengudang. Undangan yang paling banyak diterima yaitu untuk acara pernikahaan. Diamemainkan saluang atau bansi untuk mengiri sungkeman nikah, dan mairingi tari.Sekitar delapan mc yang sudah didampinginya saat mengisi acara pernikahan. Sehingga orang-orang banyak mengenali dia, dandia diberi julukan oleh masyarakat Padang yaitu “Musisi Musik SPBU Padang”.

Penghasilan yang didapatkan saat diundang tidak beda jauh dari penghasilan ketika memainkan alat musik di Spbu. Biasanya penghasilan yang didapatkan ketika diundang paling banyak Rp. 650.000, ada juga Rp. 250.000. Tergantung kemampuan orang yang mengundang membayarnya dia. Saat diundang dia hanya seperempat jam saja memainkan Saluang atau Bansi. Setelah selesai mengisi undangan dia pergi ke Spbu untuk melanjutkan aktivitas seperti biasanya.
Dia tidak sarjana, tetapi dia mengerti tentang seluk beluk alat-alat Tradisonal Minang, fungsi dan manfaatnya, mengerti perbedaan-perbedaan alat Musik Tradisonal dengan alat Musik Modren lainya. Kepandaiannya membuat dia bisa mengajarkan orang-orang yang belum mengerti tentang alat musik tersebut. Dia pernah mengajarkan masyarakat umum, siswa TK Ridotullah, mahasiswa Unand, mahasiswa IAIN. Ada diajari untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Dia pernah mengajarkan siswa TK Ridotullah selama satu tahun lamanya. Tapi sayangnya orang-orang yang diajarkan tidak menyediakan fasilitas seperti tempat, dan alat musiknya. “Walaupun kita tidak tau tentang alat-alat musik tradisonal itu, tapi kita seharusnya mengenal alat musik tersebut walaupun tidak bisa memainkanya”, ujarnya dengan suara tegas. Dia bersuling di tempat terbuka untuk memperkenalkan, melestarikan dan memperlihatkan kepada kaum remaja, anak-anak, mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat lainnya tentang alat musik tradisonal minang ini, dan berharap agar masyarakat dan anak-anak remaja sekarang tidak melupakan alat-alat musik Tradisional Minang tersebut.
(Penulis adalah: MEYSI FAULANDARI, 1610014111006, SASTRA INDONESIA, FIB, Universitas Bung Hatta).

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda