Tidak Ada Signal, Namun Ada Tempat Nelpon Khusus di Sianggai-Anggai

0
319

SOLOK, JN- Jorong Sianggai-Anggai,  Nagari Sariak Alahan Tigo,  Kecamatan Hiliran Gumanti,  Kabupaten Solok,  adalah salah satu daerah yang hingga saat ini belum masuk signal, karena tidak adanya tower seluler sejak Indonesia merdeka. 
Dari Tiga Nagari di Kecamatan Hiliran Gumanti,  Dua Nagari diantaranya,  yakni Sungai Abu dan Sariak Alahan Tigo,  hingga saat ini belum bisa masyarakatnya menggunakan telfon untuk SMS,  Facebook,  WA dan internet lainnya. Namun ada hal menarik yang ditemui media ini,  saat berkunjung ke Jorong Sianggai-Anggai,  Nagari Sariak Alahan Tigo. Dimana,  meski di jorong tersebut tidak ada signal,  lucunya ada sebuah tempat, yang bisa didapat signal dan masyarakat bisa menelpon bergantian di tempat tersebut. Lokasinyapun dimodofikasi didalam sebuah gubuk kecil dan kalau ingin menelpon,  maka warga menarok telponnya di tempat yang telah dibuat dan tidak boleh menegang HP. Ukurannya sangat sederhana, yakni sekitar 1,5 Meter dan berada diatas Bukit.
 Caranya, setelah Handphone diletakan ditempat khusus yang sudah dimodifikasi oleh warga setempat, lalu tekan nomor yang akan dituju,  maka kita akan bisa terhubung dan HP harus loudspeaker. 
“Maka setelah terhubung,  anda akan bisa betkomunikasi dengan lancar di sana. Tetapi kalau hpnya digeser atau dipegang  maka signal akan hilang, ” jelas Titin (41), warga Sianggai-Anggai yang juga salah seorang guru sekolah di SD Negeri 20 Sianggai-Anggai, Jum’at (28/8).
Meski susah sinyal dan sering kali dikeluhkan oleh pengguna ponsel di daerah itu dan HP lebih banyak digunakan untuk mendengar musik,  namun masyarakat di sana saat ini sudah bisa menggunakan Hp untuk berkomunikasi dengan sanak saudara dan andai tolan. 
Tanpa sinyal, mustahil seseorang bisa menerima panggilan telepon. Banyak orang yang menyiasati ketiadaan sinyal ponsel oleh provider dengan menggunakan wifi. Namun, hal ini hanya berlaku untuk interaksi melalui internet saja. Misalnya, untuk mengirim email atau melakukan komunikasi melalui BBM atau WhatsApp, tidak bisa untuk panggilan telepon.

Di nagari yang masih terbilang terisolir itu dan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani tersebut,  hanya tampak ramai pada siang hari saja. 

Daerah yang dikenal dengan Ritual di Sianggai-Anggai Nagari Sariak Alahan Tigo, dimana masyarakatnya melakukan pememotongan kerbau sebelum turun ke sawah.
Ritual atau Bakawue sebelum turun ke sawah, bagi sebahagian masyarakat modren memang dianggap sudah kuno. Namun tradisi semacam ini, ternyata masih bertahan di Jorong Sianggai-Anggai, nagari Sariak Alahan Tigo, kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. 
Bahkan ritual di nagari yang masih terbilang terisolir itu, dengan cara berdo’a bersama yang digelar di sebuah lapangan terbuka serta diikuti oleh seluruh penduduk yang berdiam di jorong tersebut, masih bertahan sampai saat ini dan tidak pernah ternoda oleh arus moderen seperti sekarang.

Selain itu, upacara minta selamat atau disebut juga ‘Bakawue’ sebelum turun ke sawah yang dilakukan dua hari berturut-turut dan harus dilakukan pada hari Jum’at dan Sabtu pada setiap habis lebaran haji dan digelar satu kali dalam tiga tahun itu, sudah berlangsung selama 82 kali atau sudah berlangsung selama 252 tahun atau sudah dilaksanakan sejak tahun 1771.
Uniknya lagi,  setiap hari Minggu,  masyarakat Sianggai-Anggai pada setiap hari Minggu,  tidak ada yang turun kesawah,  karena itu sangat tabu dan dilarang. 

Menurut tokoh masyarakat Sianggai-Anggai, Angku Malayu (72) menyebutkan bahwa nama Sianggai-Anggai berasal dari nama dua orang tua yang tinggal digubuk tua, ketika ditemukan oleh warga Talaok, yang mencari lahan baru ke arah Timur dari Talaok yakni daerah Sianggai-Anggai sekarang. 

“Pada waktu itu warga yang datang kesini melihat dua orang tua yang tinggal di gubuk dan berjalan teranggai-anggai atau tertatih-tatih, sehingga waktu pulang diceritakan ke masyarakat di daerah tersebut ada dua orang tua yang teranggai-anggai dan makanya lokasi ini disebut Sianggai-Anggai,” jelas Angku Melayu. Angku Malayu juga menceritakan bahwa sampai saat ini setiap hari Minggu, masyarakat Sianggai-Anggai tidak dibenarkan memotong padi di sawah dan juga setiap Jum’at dilarang turun ke sawah untuk beraktivitas. Sementara upacara ditutup dengan mendatangi hulu sungai atau kapalo banda pada hari Sabtu atau hari kedua dan diikuti oleh seluruh masyarakat dewasa. Dia juga menjelaskan bahwa tradisi bakawue sebelum turun ke sawah, dimulai ketika di Sianggai-Anggai pernah terjadi selama tiga tahun padi tidak menjadi, karena diserang kekeringan, wereng dan hama tikus.
Tokoh masyarakat Sianggai-Anggai,  Zain dt  Sari Marajo, juga menyebutkan bahwa sejarah singkat dimulainya ritual yang sudah dilaksanakan semenjak lebih 250 tahun lalu atau sudah 250 tahun lamanya. 

Saat ini nagari Sariak Alahan Tigo yang terdiri dari 8 jorong dan berpenduduk se­kitar 8.000 ribu jiwa ini, masih perlu perhatian khusus dari Pemerintah, karena sampai saat ini masyarakat belum bisa berkomunikasi menggunakan HP karena signal dari jaringan seluler operator manapun belum masuk. Bahkan jalan menuju Sianggai-Anggai juga masih buruk dan rusak. 

“Intinya,  dengan adanya lokasi khusus tempat nelpon ini,  maka bagi warga yang ada keperluan mendadak bisa menelpon sanak saudaranya yang ada di luar daerah, ” ujar Efdizal,  anggota DPRD Kabupaten Solok yang juga warga setempat. 
Hanya tempat kecil tadi yang bisa digunakan untuk nelpon dan masyarakat datang menggunakan tempat tersebut secara bergantian siang dan malam (wandy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here