Suara Minta Keadialan Terus Menggema Dari Nagari Tertinggal: Kami Minta Media Terus Menyuarakan Permintaan Kami

0
1252
SOLOK, JN–  Jeritan hati kecil masyarakat pinggiran yang tinggal di beberapa daerah terisolir di Kabupaten Solok, terus terdengar. Bukan hanya datang dari daerah Kecamatan Tigo Lurah saja, namun suara minta agar nagari mereka diperhatikan juga muncul dari Kecamatan Hiliran Gumanti, Kecamatan tersebut mungkin termasuk kategori tertinggal setara dengan Kecamatan Tigo Lurah.
Di Kecamatan Hiliran Gumanti yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Lembah Gumanti, terdapat dua nagari yang belum memiliki akses jalan yang bagus dan sama sekali belum bisa berkomunikasi dengan handphone, seperti di nagari yang sudah maju. Dari Tiga nagari yang ada di kecamatan Hiliran Gumanti, mungkin hanya nagari Nagari Talang Babungo saja yang sudah tergolong moderen. Namun dua nagari lainnya, yakni Sariak Alahan Tigo dan Sungai Abu, masyarakatnya masih tetap hidup dalam keaslian. Bahkan hanya beberapa jorong yang baru memiliki listrik. Sementara untuk berkomunikasi dengan HP seperti nagari tetangga, belum bisa di dua nagari itu. Sementara jalan satu-satunya untuk menuju dua nagari tersebut, hanya terdapat satu akses jalan dari Talang Babungo. Kalau jalan itu putus, maka dipastikan kedua nagari tersebut akan terisolasi dari dunia luar.
“Sudah lebih dari sepuluh tahun kami meminta agar nagari kami bisa memiliki sebuah tower seluller. Bahkan kabarnya pemerintah nagari juga sudah mengirim surat permohonan ke Indosat dan Telkomsel, tetapi belum dikabulkan juga. Jadi kami minta bantuan pemerintah daerah, baik Kabupaten maupun Provinsi untuk membantu kami,” jelas Angku Melayu (66) tokoh masyarakat Sianggai-Angai yang diamini Walijorong Sianggai-Anggai, Bahrun Nain, Minggu (7/1). Disebutkannya, akibab susah berkomunikasi, pernah ada warganya Sungai Abu yang mengalami kecelakaan di kota Padang dan baru dua hari keluarganya bisa dikasih kabar akibab jarak yang jauh dan tidak adanya yang bisa dihubungi. “Jadi tolonglah sampaikan ke pemerintah, nantilah masalah jalan yang bagus, tower seluller saja kami dulu sudah cukup. Sebab penduduk di dua nagari ini sudah hampir 5000 jiwa,” tambah Angku Melayu.
            Hal yang sama juga disampaikan Walinagari Sariak Alahan Tigo, Efdizal Mandaro Sutan, SH, bahwa keluhan agar di nagarinya bisa di pasang tower selluler, hampir terdengar setiap ada pejabat baik dari Kabupaten atau Provinsi yang mengunjungi nagari mereka. “Mudah-mudahan dengan adanya dimuat di media, suara masyarakat kami bisa terdengar oleh yang berwenang,” jelas Efdizal Mandaro Sutan.
Selain di Kecamatan Hiliran Gumanti, sebagaimana kita ketahui suara rintihan yang sama agar nagari mereka bisa memiliki akses jalan yang bagus dan memiliki tower seluller, juga data dari Nagari Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah. Nagari paling luas dan juga paling terbelakang di Kabupaten Solok itu, juga terus merintih. Selain minta akses jalan, juga berharap tower selluler juga bisa dibangun di nagari mereka. “Kami sudah sering meminta agar akses jalan ke kampung kami dibangun. Bahkan kabarnya tahun ini ada bantuan dari Provinsi Rp 1 Milyar untuk membuat jalan ke nagari kami. Tapi apa itu benar atau hanya angin sorga saja. Sebab kami sudah kenyang dibohongi,” ucap Adri Buyuang (34) warga jorong Garabak kepada media ini.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa akses jalan ke Garabak Data sampai saat ini masih beraspalkan tanah dan belum tersentuh aspal beton atau hot mix. Setiap musim hujan tiba, maka dipastikan jalan ke sana akan licin dan berlumpur. Meski sudah lebih dari 70 tahun Republik ini merdeka, namun sebahagian warganya banyak yang belum menikmati apa itu arti ‘merdeka’. Merdeka disini jelas bukan masih terjajah oleh bangsa lain, namun masih belum bisa menikmati makna dari kemerdekaan itu sendiri, seperti di nagari Garabak Data ini. Selain jalan, sampai saat ini nagari Garabak Data juga belum pernah disentuh listrik, jalan beraspal, sarana dan tenaga kesehatan atau menikmati siaran televisi. Bahkan satu-satunya alat transportasi adalah dengan menggunakan kuda beban, yang tarifnya dibayar Rp. 4000 per kilo meter atau satu kilo barang dengan ongkos Rp 1500 sampai 2000.
Walinagari Garabak Data, Pardinal menjelaskan bahwa sampai saat ini semua sarana jalan ke Garabak Data masih jalan tanah dan seadanya, sehingga akses transportasi ke daerah penghasil pertanian ini masih menggunakan kuda beban. Walinagari juga menyayangkan janji Gubernur dan Bupati pada April 2014 lalu, sampai sekarang belum terelaisasi. Garabak Data adalah penghasil pertanian yang baik, karena masyarakatnya rajin bekerja dan sekolah setingkat SMA juga belum ada. Setiap petani di Garabak Data, minimal mempunyai 1500 batang kopi
Para tokoh masyarakat dan Pemerintah Nagari tertinggal di Kabupaten Solok, berpesan kepada media agar tidak bosan-bosannya memberitakan daearahnya yang masih tertinggal dari daerah lain. “Pokoknya kami berpesan kepada insan pers, agar jangan sampai bosan memberitakan kondisi nagari kami, baik kondisi jalan, sarana kesehatan, masalah pendidikan dan masalah kami tidak bisa berkomunikasi dengan sanak saudara kami di luar nagari kami karena belum punya tower seluler,” jelas Walinagari Pardinal.
Nagari Garabak Data berpenduduk 2.556 jiwa atau 963 Kepala Keluarga, merupakan nagari tua di Sumatera Barat, meski sampai saat ini belum ada akses jalan yang beraspal, listrik, tower seluler dan lainnya. Ironisnya, masyarakat Garabak Data masih memanfaatkan kuda beban untuk mengangkut berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
 Walinagari Garabak Data ini, memang dikenal sosok pemuda yang gigih berjuang untuk nagari yang dipimpinnya. Bahkan kegigihan berjuang baik Bupati Solok atau Gubernur Sumbar agar nagari yang dipimpinnya keluar dari keterisolasian, mendapat pujian dari warga Garabak Data. “Saya ini berjuang untuk nagari dan masyarakat saya sendiri. Kalau bukan kita yang gigih menjuluk ke Bupati atau ke Gubernur, lalu saiapa lagi,” jelasnya sambil media tidak bosan-bosan memberitakan kondsi kampungya (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here