Pemimpin Rekayasa dan Rekapaksa

0
435

MASYARAKAT Minangkabau bercorak egaliter dengan sistem demokrasi. Implementasi dari egaliter berdemokrasi itu bersandar falam pitua adatnya, “Bulek aie dek pambuluh, bulek kato jo mufakek (Bulat air kerena saluran dalam buluh/bambu. bulat kata karena mufakat.

Musyawarah mufakat untuk berunding itu terjadi di rumah gadang. Makanya rumah gadang atau Balairung sebagai simbol kebesaran demokrasi Minangkabau.

Lantas, bagaimana tercipta demokrasi tanpa rekayasa apalagi rekapaksa di atas rumah gadang atau balairung dalam berunding? Pituahnya begini, “Kamanakan barajo mamak, mamak barajo panghulu, panghulu barajo ka mufakaik, Mufakaik barajo ka nan bana, Nan bana baraja ka nan Ciek, Nan ciek badiri. ( Kemenakan hormat pada Mamak /adik atau kakak laki2 dari ibu, Mamak menghormati Pengulu/ pimpinan suku, Pengulu menghormati hasil mufakat, Mufakat diambil berdasarkan kebenaran, Kebenaran itu bersandar pada yang satu yaitu Allah YME).

Cara bermusyawarah dan bermufakat itulah yang tertuang dalam falsafah hidup masyarakat Minangkabau dengan ABS-BSK (Adat Basandi Syarak-Syarak Basandikan Kitabullah) Syarak mangato, adaik mamakaikan (Ajaran Islam berbanding lurus dengan nilai2 dalam pelaksanaan adat) yang berlaku atau disesuaikan dalam selingkar nagari di Minangkabau.

Intinya, musyawarah mufakat sebagai bentuk berdemokrasi adalah cerminan dari rasa kebersamaan dan jauh dari sifat individualis. Kepentingan umat di atas segala-galanya. Kebersamaan/kekompakan menjadi etalase mereka, pituanya “Saciok bak ayam,sadanciang bak basi (Seciap seperti bunyi ayam, sedencing seperti bunyi besi) Mereka merasa senasib dan sepenanggungan, seperti pituanya. ” Sesakit dan seaduh ( sesama merasa sakit ketika tersakiti)

Memagari kehidupan masyarakat Minangkabau berlandaskan ABS-BSK itu sudah terikat kuat dalam hubungan emosional yang kokoh dan tangguh terutama yang mendiami kampung halaman dan tak luput pula oleh masyarakat perantauan nasional hingga ke mancanegara sekalipun.

Makanya ketika masyarakat dalam memilih pemimpinnya di Minangkabau bukan berangkat dari rasa fanatisme yang tak berpucuk dan tak berakar atau tak berujung dan tak berpangkal tapi menyilau lewat berbagai diskusi hingga sampai ke palanta lapau (diskusi di warung) dengan menyigi dan membedah keTakahan (kelayakan) keTokohan (pemangku kepentingan/ panutan) keTagehan ( Tegas, tangguh dan berwibawa) atau disebut 3 T :Takah,Tokoh,dan Tageh

Demokrasi Minangkabau mengagumi pemimpin yang muncul tanpa Rekayasa dan Rekapaksa
(penulis adalah Dalmenda Pamuncak Alam, Dosen Unand Padang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here