Nyanyian Sedih Terus Dilantunkan Masyarakat Garabak Data

0
1423

SOLOK, JN– Nyanyian sedih terus dilantunkan oleh masyarakat Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Apalagi disaat musim hujan seperti sekarang, kondisi jalan menuju Garabak Data dari Ibukota Kecamatan atau sebaliknya, benar-benar miris. Tak ada jalan beraspal, bahkan setiap pengendara sepeda motor yang hendak menuju kampung halamannya, benar-benar berjuang dengan maut untuk sampai ke tempat tujuan.

Miris memang, namun itulah realita yang harus mereka terima. Meski sudah mendekati satu abad Republik ini merdeka, namun kondisi Garabak Data, masih tetap perawan dari pembangunan dan akses jalan yang layak. “Jika orang belum pernah ke Nagari kami Garabak Data, mereka tentu akan menilai lain kok itu-itu saja yang dikeluhkan masyarakatnya. Tetapi bagi mereka yang sudah pernah kesini, maka mereka baru sadar bahwa apa yang kami pinta adalah suatu hal yang wajar,” jelas Walinagari Garabak Data, Pardinal, Minggu (25/2). Sebagai Walinagari muda dinilai gigih berjuang untuk nagarinya, Pardinal kadang harus ngotot meminta kepada setiap pejabat yang datang ke nagarinya agar membangun jalan yang layak ke Garabak Data. “Kalau memang alasannya hutan lindung yang menjadi kendala, kan hal itu sudah tugas pemerintah untuk mengurus dan  mengusulkannya kepada Kementerian Kehutanan, Mendagri dan Menkumham atau ke Presiden. Kan kami masyarakat tidak faham masalah itu. Ini sudah beberapa Bupati dan Gubernur, nagari kami hanya dijanji-janjian melulu akan dibangun. Tetapi setelah mereka duduk, janji tinggal janji,” jelas Pardinal.

Masyarakat Nageri yang kaya dengan penghasil kopi ini hanya dapat menatap sedih,merenungi nasib yang tak kunjung berubah, didalam hati mereka selalu bertanya inikah keadilan dan sampai kapan kami harus begini?  Pertanyaan ini terus bergelayut dibenak mereka, jeritan hati dan nyanyian nelangsa dari masyarakatnya, entah kapan akan berakhir.Sampai saat ini, di daerah tersebut, jangankan listrik atau jalan yang layak, sarana angkutan saja masih menggunakan alat tradisonil seperti kuda beban dan menggunakan HP juga tidak bisa karena tidak ada signal.

Ditambahkan Pardinal, warga Garabak Data benar-benar buta tentang kemajuan technogy dan sampai sekarang warganya masih terisolasi dan miskin. Sehari-hari menurut Pardinal, warganya hidup dari bertani coklat, kopi, manggis, pisang, padi, karet dan lain sebagainya. Namun hasil pertanian dijual sangat murah kepada tengkulak, karena mereka jauh dari pusat kota dan kecamatan.

“Bayangkan saja, untuk keluar dari Garabak Data saja mau menuju kantor kecamatan, setiap warga harus mengeluarkan ongkos ojek Rp 150 ribu untuk satu kali jalan. Bagaimana kalau mau sampai ke Arosuka ibukota Kabupaten Solok atau ke Padang, mungkin ongkosnya sampai 500 ribu, belum termasuk biaya lain-lain. Makanya masyarakat Garabak lebih memilih diam di kampung dan jarang berpergian ke luar,” jelas Pardinal. Nada memilukan dan gambaran potret kemiskinan yang disampaikan walinagari Pardinal, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Pardinal juga menjelaskan bahwa sampai saat ini semua sarana jalan ke Garabak Data masih jalan tanah dan seadanya, sehingga akses transportasi ke daerah penghasil pertanian ini masih menggunakan kuda beban

Beberapa bulan yang lalu, nyanyian sedih ini pernah dilontarkan oleh seorang pelajar SMK di Kota Solok asal Garabak Data yang bernama, Kesri Ramadani. Dimana Kesi  merasa sedih saat pulang kampung melihat kondisi jalan tanah dari jorong Sabia Ayia Batu Bajanjang menuju perbatasan Tigo Lurah. Semua aspal tanahnya bangun dan kendaraan beberapa kali mogok dan harus secara bergotong royong mengeluarkan dari jebakan lumpur.

“Pak, Bapak kan wartawan, tolonglah sampaikan ke pemerintah, kapan jalan kami mau di aspal? Tidak usah yang lain dulu, bangun jalan saja kami sudah sangat bersyukur. Tolong ya pak sampaikan pesan kami ke pemerintah daerah,” ujar Kesri Rahmadhani dengan wajah  penuh harap waktu itu.

Disebutkannya, kalau musim hujan seperti sekarang, untuk menuju ke kampung halamannya, warga harus berjuang dengan maut melawan jalan licin penuh lumpur serta kondisi jalan yang naik turun. “Sudah banyak warga kami yang terjatuh dari motor dan itu diberitakan saja karena memang jarang  wartawan yang meliput kesini,” tambahnya
Penduduk nagari Garabak Data berjumlah  lebih kurang 2.700 jiwa, dan mengaku masih belum menikmati apa itu kemerdekaan. Wali nagari Garbak Data, Pardinal, kepada Koran Padang menyebutkan bahwa pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat tidak serius memperhatikan nagari Garabak Data (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here