Implementasi ABS-BSK Dalam Demokrasi Minangkabau

0
514

“KOK kayo, kayolah surang, urang indak ka mamintak. Kok cadiek, cadieklah surang, urang indak ka batanyo. Kok bagak, bagaklah surang, urang indak nak bacakak.”
(Jika kaya, orang tidak akan meminta. Jika pintar, orang tidak hendak bertanya. Jika jagoan, orang tidak nantangin berkelahi)

Pesan moral dari pitua adat di atas, bahwa masyarakat Minang tidak menganut sikap fanatisme terhadap figur atau mendewakan seseorang. Hanya saja, mereka menaruh rasa hormat dan segan ketika seseorang itu bisa menempatkan diri menjadi bagian di tengah masyarakat sesuai dengan nilai,kultur, norma,tradisi dan budaya yang berlaku pada nagari setempat. Ini adalah upaya agar seseorang itu jangan gila hormat dan sanjungan dari apa yang dimilikinya, sehingga menjadi angkuh,sombong dan gila pengaruh atau kekuasaan. Selai itu juga menghilang sikap seseorang menjadi penghamba pada sesama manusia karena kekayaan, pengaruh dan kekuasaan.

Kenapa demikian?
Sederhana saja, bukankah di hadapan Allah derajat manusia itu sama, kecuali dosa dan pahala atas perbuatannya. Kemudian argumentasi itu diperkuat lagi dengan pitua, ” Tagak samo tinggi, duduak samo randah” (Berdiri sama tingginya dan duduk sama rendahnya).

Persepsi terhadap berketuhanan di diimplementasikan dalam kehidupan sehari yang terurai dalam filosofi ABS-BSK sebagai masyarakat hukum adat di Minangkabau, dan begitu juga ketika mereka merantau, dimana bumi dipijak dan langit dijunjung. Dasar masyarakat Minang terutama bagi lelaki dalam pituanya, ” Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang daulu
Dirumah baguno balun.”

(hanya catatan kecil dari salah satu bagian terkecil berdemokrasi ala masyarakat Minangkabau)

(Penulis adalah: M.A.Dalmenda
Dosen Fisip Unand /Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komuniasi Unpad Bandung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here