Salingka Nagari

Hujan Tidak Turun-Turun, Petani Bawang di Lembah Gumanti Terancam Gagal Panen

SOLOK, JN – Akibab hujan yang tidak turun-turun dalam sebulan terakir ini, ratusan hektar tanaman bawang dan tanaman holtikura lainnya di Kecamtan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, seperti di Alahan Panjang dan Sungai Nanam, rusak dan terancam gagal panen.


Pantauan JARBATNEWS.COM di Sungai Nanam dan Alahan Panjang serta di Danau Kembar, ratusan hektare tanaman bawang, kol, tomat dan lainnya, tampak tumbuh kerdil dan daunnya rontok, sehingga dipastikan akan mengalami gagal panen.


 “Hujan yang tidak turun dalam sebulan terakhir dan ditambah cuaca berkabut di daerah kami dalam sebulan terakhir, mengakibabkan tanaman bawang, kol dan tomat serta tanaman lainnya rusak dan kami terancam gagal panen,” jelas Riko (55), warga Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Senin (21/2/). 
Meski cuaca terkadang mendung menyelimuti bumi Lembah Gumanti, namun hujan tidak turun juga. Bahkan di daerah lain di Kabupaten Solok ada yang kebanjiran akibat tingginya curah hujan. Tetapi di Lembah Gumanti hujan tidak ada jatuh ke bumi dari pertengahan bulan Januari tahun 2022 ini.


Disebutkannya, rata-rata para petani hultikultura di Lembah Gumanti dipastikan akan gagal panen, karena tanaman yang terlanjur ditanam namun dilanda hujan dan kabut siang malam tanpa disinari matahari, maka dipastikan akan mengalami kerugian.
Hujan bagi masyarakat Alahan Panjang, Sungai Nanam, Air Batumbuk, Danau Kembar, Aie Dingin dan daerah sentra penghasil sayur mayur memang sangat vital. Kalau mengandalkan air siraman dari alam, tidak semua lahan warga yang dilalui sumber air.
 “Bagaimana lagi nasib kami pak, padahal ongkos tanam, beli pupuk, beli bibit dan biaya operasional tidak sedikit dan uang kami sudah habis terpuruk kesana. Apa tidak ada bantuan untuk kami dari pemerintah untuk membantu mengatasi kerugian kami,” jelas Riko. 
Keluhan yang sama juga disampaikan para petani di Nagari Sungai Nanam, di mana nagari dengan jumlah penduduk terpadat di Kabupaten Solok itu yang mayoritas penduduknya bertani dan tinggal di 15 jorong juga mengalami nasib yang sama.

Bahkan menurut salah seorang petani sukses di Sungai Nanam, Mulyono, ditaksir kerugian petani akibab cuaca ekstrim ini karena gagal panen mencapai puluhan Ratusan Juta Rupiah. 
“Dari ratusan petani yang ada di Sungai Nanam, mayoritas saat ini adalah panennya menurun atau gagal panen. Padahal bisa dibayangkan, biaya untuk satu hektar tananan saja mulai dari beli pupuk, racun dan upah pekerja bisa puluan juta. Bagaimana dengan mereka jika satu orang saja memiliki lahan 2 hektare, sudah berapa kerugiannya,” jelas Mulyono,  di lahan bawangnya yang gagal panen. Disebutkannya, rata-rata penyakit tanaman bawang mereka terserang penyakit rontok daun dan menghitam. Disebutkannya, tanaman akan bagus buahnya kalau daunnya bagus dan subur. 
Mulyono berharap ada solusi dari Dinas Pertanian Kabupaten Solok agar beban petani bisa berkurang. Bahkan kalau perlu Dinas Pertanian membantu untuk pengapuran tanah atau membantu menyediakan bibit bagi petani. Selain itu Mulyono juga mengharapkan agar Dinas Pertanian ikut mengawasi menyediakan pupuk karena selama ini petani kesulitan mendapatkan pupuk
murah karena rata-rata pupuk bersubsidi tidak dinikmati petani kurang mampu karena dimainkan oleh para oknum nakal. 


“Kita juga berharap agar Komisi Pengawasan Pupuk dan Septisida turun ke lapangan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya,” terang Mulyono.  Selain tanaman bawang yang terserang penyakit daun rontok, tanaman lainnya seperti kol dan tomat juga mengalami terserang penyakit pembusukan buah.

“Biasanya kalau satu atau dua batang tanaman saja kena penyakit, maka dipastikan akan cepat betpindah ke tananan lainnya, sehingga semuanya bisa rusak,” papar Mulyono (wandy)

Exit mobile version