Garabak Data Tidak Pernah Berhenti Berteriak Meminta Keadilan

0
190

SOLOK, JN-Masyarakat Nagari paling tertinggal di Kabupaten Solok, Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, terus meronta meminta keadilan pembangunan.

“Saya sebagai Walinagari Garabak Data, menggantikan Bapak Pardinal, bingung mau menjawab apa, kalau masyarakat bertanya, kapan nagari kita maju atau setara dengan Nagari lain, ” ujar Plt. Walinagari Garabak Data, Jon Garda, Selasa (18/6)

Hingga saat ini, kondisi jalan menuju nagari Garabak Data bila musim hujan tiba, benar-benar memprihatikan. Bahkan sejak Indonesia merdeka, kondisi jalan menuju nagari di Tenggara Kabupaten Bumi penghasil bareh tanamo ini belum pernah disentuh aspal apalagi hotmix.

Garabak Data masuk wilayah Kecamatan Tigo Lurah yang merupakan sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Payung Sekaki. Diantara lima nagari yang ada di Kecamatan Tigo Lurah, mungkin kondisi jalan menuju nagari Garabak Datalah yang paling parah.

“Bila hujan tiba, kita terpaksa berjalan kaki puluhan kilo meter, karena motor tidak bisa masuk karena kondisi jalan yang licin dan sangat becek,” terang Walinagari Jon Garda.

Nagari dengan jumlah pendududk lebih dari 2600 jiwa ini, mayoritas mata pencaharian warganya adalah sebagai pertani dan warganya jarang yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian ke luar karena kondisi perhubungan yang sulit.
Menurut Jon Garda, di Nagari Garabak Data ada Tiga Jorong, yakni Jorong Garabak, Jorong Data dan Lubuak Tareh.
Penduduk Garabak ada sekitar 1000 jiwa, Data 1000 jiwa dan Lubuak Tareh 600 jiwa.

“Masyarakat hanya minta pemerintah baik Kabupaten mapun Provinsi benar-benar serius memperhatikan nasib nagari kami, terutama untuk membangun infrastruktur jalan menuju Garabak Data dan dalam nagari Garabak Data sendiri, ” tambah Jon Garda.

Alasan utama pendududk malas pergi bepergian adalah karena harus berjalan kaki puluhan jam, bahkan untuk mencapai jarak jorong Garabak menuju jorong Data saja, bisa ditempuh seharian dengan berjalan kaki. Alat trasnfortasi satu-satunya untuk menghubungakan kedua jorong ini adalah kuda beban.

“Jdi kalau ada berita baik atau buruk dari sanak saudara yang tinggal di jorong tetangga atau di luar nagari Garabak Data, kami terpaksa harus berjalan kaki menuju Batu Bajanjang agar bisa berkomunikasi dengan HP seperti untuk menghubungi sanak saudara yang ada di rantau,” jelas Sulini (35), warga jorong Data.

Pertanyaannya, sampai kapan nagari dan masyarakat Garabak Data akan tinggal dalam keterisolasian dan tidak bisa menikamti kemerdekaan seperti saudara mereka di nagari tetangga?.

Jon Garda juga menjelaskan, walau tahun 2019 ini kabarnya ada anggaran sekutar 7 Milyar untuk Tigo Lurah dari Pemkab Solok, namun apakah hal itu akan turun atau tidak, pihaknta juga tidak tau.

” Masyarakat yang belum pasti itu tidak terlalu optimis. Selain itu dia juga tidak tau apakah anggaran sebanyak itu juga sampai ke Garabak Data atau tidak, ” sebut Jon Garda (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda