Butuh Uluran Tangan Dermawan: Indra Yeka Situkang Ojek Itu Divonis Tumor Otak, Kini Tidak Bisa Melihat dan Mendengar Lagi

0
942

SOLOK, JN- Indra Yeka (36) yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek, kini tidak lagi bisa beraktivitas.
 Sejak divonis dokter mengalami Tumor Otak, Indra tidak bisa Melihat dan Mendengar lagi. Kini Indra, terbaring lemah di kediamannta kawasan Pasar Usang, Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok atau tidak jauh dari kediaman Bupati Solok.
Indra tinggal bersama ibu dan adiknya. Sementara isterinya, sudah pulang ke rumah orang tuanya semenjak Indra tidak bisa lagi beraktivitas.
Orang tua Indra, yakni Lisnar (63 tahun) awalnya seperti disambar petir disiang bolong ketika mendengar penjelasan dokter bahwa agar bisa mendapatkan alat bantu pendengaran untuk anaknya bisa didapatkan dengan harga Rp30 juta, Rp80 juta atau Rp120 juta.


“Jangankan untuk membeli alat bantu semahal itu, untuk biaya transportasi berobat ke rumah sakit saja kami sudah tak punya lagi. Ini benar-benar ujian bagi kami,”  terang Lisnar kepada Koran Padang,  Rabu (5/8) di kediamannya.
Lisnar, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani yang harus berhenti bekerja karena anaknya Indra Yeka, tiba-tiba buta dan tuli usai operasi tumor di kepala. Sementara suaminya sudah meninggal tahun 1990-an silam.

Bebannya kian berat dalam usianya yang kian menua, setelah anaknya menderita buta dan tuli akibat tumor otak yang dialaminya.Bahkan sekarang bukan saja buta dan tuli, lututnya pun mulai membengkak, dan kian besar. Hanya keajaiban dan uluran tangan para dermawanlah yang bisa menolong anaknya.

Indra Yeka tidak pernah menduga bakal mengalami nasib seperti ini. Ayah dari dua anaknya, harus menjalani kehidupan yang begitu getir. Sebelum dioperasi, ia bekerja sebagi tukang ojek di sekitar tempat tinggalnya di Guguak.
Ketika mengetahui ada pembengkakan di kepala bagian belakang, dekat leher. Ia pun berobat hingga akhirnya dioperasi di RSUD Arosuka menjelang lebaran 1441 H lalu. Usai operasi kondisinya tidak semakin membaik, tetapi kian tidak berdaya. Penglihatannya mulai kabur, pendengarannya pun tidak lagi berfungsi dengan baik.
Sekarang Indra sama sekali tidak bisa melihat dan mendengar.
Seharusnya Senin kemaren (3/8) ia harus membawa Indra Yeka ke RSU M. Djamil Padang untuk kontrol rutin. Namun apa hendak dikata, jangankan dana untuk beli alat, untuk biaya transportasi ke Padang saja tidak ada lagi.
“Selama ini masih ada bantuan tetangga dan hasil kerja sebagai buruh tani, sejak Indra Yeka sakit, sayapun berhenti bekerja,” jelas Lisnar yang didampingi anaknya Hendra Fauzi, adik dari Indra Yeka.

Sementara dokter di M.Djamil Padang sudah menjelaskan penyakit Indra Yeka. Ia mengalami tumor otak. Karena itu harus menjalani operasi. Namun sebelum dioperasi, Lisnar harus membawa anaknya untuk kontrol dua atau tiga kali seminggu. Bukan satu dokter yang harus ditemuinya, tapi ada beberapa dokter karena dokter mata, telinga dan syaraf, sekarang ada lagi pembengkakan di lutut.
“Sekali ke Rumah Sakit minimal harus ada dana Rp500.000,” ujar Lisnar pilu.
Dana tersebut hanya untuk transportasi. Ia harus menyewa mobil seharian. Sekali pergi Rp350.000, karena tidak bisa membawa anaknya yang kini sudah buta dan tuli, kaki sakit turun naik bus umum. Belum lagi biaya makan. Karena itulah, setelah melakukan kontrol sebanyak enam kali, kali ini tidak bisa berangkat karena tidak ada lagi ongkos ke Padang.
“Kalau kontrol ke RSUD Arosuka, masih kami usahakan,” ujar Lisnar.


Untuk ke RSUD Arosuka, ia mengeluarkan ongkos ojek Rp30.000 karena ‘ditenggang’ oleh tukang ojek lainnya. Namun kalau ke Padang, biaya transportasi meningkat lebih dari 1000 persen, sementara penghasilannya tidak ada. Apalagi kerja ke sawah dan ladang orang tidak bisa lagi dilakukannya.
“Kebutaan dan tuli ini sudah dialaminya sejak 1.5 bulan lalu,” jelas Lisnar.
Dalam kondisi terpuruk seperti ini, Lisnar tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Sementara menantunya, istri Indra Yeka, sudah kembali pula ke rumah orangtuanya. Karena itulah, ia harus berjuang untuk menjaga anaknya.
“Anak saya memang tidak mampu lagi membiayai hdup keluarga,” jelasnya.
Sejak Indra Yeka sakit, ia lah yang merawatnya. Lisnar didak bisa meninggalkan Indra Yeka sendirian di rumah. Adik Indra Yeka, Hendra Fauzi bekerja sebagai karyawan catering di kawasan Gunung Talang. Sebagai pekerja harian, Hendra berusaha untuk membantu biaya hidup orang tuanya. Namun untuk membawa kakaknya berobat dua atau tiga kali seminggu ke rumah sakit di Padang, penghasilannya tidak cukup.
Kini Lisnar dan Indra Yeka hanya bisa berdoa, sembari mengharapkan uluran tangan kita semua untuk meringankan bebannya. 
Bagi donatur yang ingin meringankan beban Indra Yeka bisa menghubungi nomor 0812-3306-6118  atas Hendra Fauzi, adik Indra Yeka atau kirim donasi pembaca yang budiman  ke nomor rekening alumni SMP 3 Gunung Talang dengan nomor rekening 555201017749534 atas nama Arwita Marni (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here