Belajar di Tengah Hutan: Mahasiswa Simanau Tigo Lurah Minta Pemerintah Fasilitasi Tower Seluler Untuk Kampung Mereka

0
687

SOLOK, JN– Para Mahasiswa asal berbagai Nagari di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, berharap agar pemerintah memfasilitasi warga mereka untuk mendirikan tower seluler atau Base Transceiver Station (BTS) agar mereka bisa belajar daring dari rumah.

“Selama ini kami harus mencari signal Handpone ke lereng bukit untuk mendapatkan signal HP. Hanya di sana yang ada signal HP,” terang Elmi (20), seorang mahasiswi asal Simanau yang sedang belajar daring dari bukit yang terletak antara Nagari Sinanau menuju Sirukam.

Lokasi tersebut berada di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu, atau sekitar 6 Kilometer dari pusat pemerintahan Nagari Simanau dan 12 KM dari pusat Kecamatan di Batu Bajanjang.

Bagi mereka tower komunikasi atau juga BTS atau infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara peranti komunikasi dan jaringan operator harus berdiri di daerah mereka.

” Kita berharap pemerintah nagari bisa memfasilitasi kita atau mengetuk hati pemkab Solok atau Sumbar agar mendirikan tower seluler disini,” tamb, yang diamini Dani dan Jerzi, Senin (16/10).

Menurut Camat Tigo Lurah, Sarmaini, SH, saat ada ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai nagari yang pulang kampung ke daerahnya, karena kampus dan  sekolah mereka diliburkan. Akan tetapi mereka diwajibkan belajar secara online.

Nah, bisa dibayangkan kalau wajib belajar Online, tetapi nagari tidak dilintasi signal HP?

Tuhan memang Maha Adil dan Maha Pengasih, disaat pelajar dan mahasiswa butuh, ada sebuah titik di nagari Simanau, tepatnya di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu, atau sekitar 6 Kilometer dari pusat pemerintahan Nagari Simanau dan 12 KM dari pusat Kecamatan di Batu Bajanjang, terdapat sebuah titik yang bisa untuk SMS, WA, Internet, nelpon dan Chatting.

Entah siapa yang pertama kali menemukan titik tersebut, namun dalam sebulan terakhir kawasan sepanjang 10 meter ini, selalu ramai dikunjungi pelajar dan mahasiswa asal Simanau, Sumiso dan Rangkiang Luluih.

Bahkan jika cuaca cerah, ada beberapa titik yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi, meski jaringan lelet. Yang penting bisa buat kirim SMS atau WA.


Namun satu titik akses signal di nagari Simanau, tepatnya di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu, menjadi rebutan bagi mahasiswa dan pelajar. Sayangnya titik itu juga berada di tengah hutan, dan jauh dari rumah warga. Meski dipinggir jalan menuju Kecamatan Tigo Lurah dari Nagari Sirukam. Lokasinya ini, mulai dari pagi hingga sore hari selalu ramai dikunjungi pelajar, mahasiswa, terutama asal Nagari Simanau dan Rangkiang Luluih. Sayang sesampai di lokasi, harus antri, karena hanya muat sekitar 5 hingga 10 orang, sebab berada di pinggir jalan yang terjal.


Selain itu, bagi remaja dan pelajar yang hanya sekedar main game, atau sekedar Chatting, harus bersabar dan menunggu antri pelajar yang online.

Menyikapi kondisi tersebut, seorang tokoh muda nagari Simanau, Dani Putra, mencoba membantu membangun tenda dan bangunan darurat salah seorang anak muda nagari telah membutkan tenda darurat demi kelancaran anak-anak pelajar dan mahasiswa dalam mendapatkan signal HP. Dani yang juga anggota BMN Nagari Simanau dan sekaligus pendiri Ikatan Mahasiswa Solok Saiyo Sakato (IMS3).

“Saya hanya menginisiasi pembangunan tenda darurat ini agar lebih nyaman dan aman buat adik-adik mahasiswa ini. Semoga bermanfaat bagi mahasiswa dan terimakasih kepada Bapak Kadis PUPR Kabupaten Solok yang sudah membantu membelikan terpal dan tikar untuk kami,” sebut Dani Putra.

Dani Putra menyebutkan bahwa di nagari Simanau saja ada sekitar 150 orang lebih pelajar hingga mahasiswa yang mencari signal disana, belum lagi dari nagari tetangga seperti Batu Bajanjang dan Rangkiang Luluih.Dani juga berharap agar Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah ataupun pemerintah Provinsi, segera bisa membantu terutama untuk penyedian paket internet atau membantu membangunkan tower selullernya di Tiga Lurah 

Selsin itu, meski ditengah Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Kabupaten Solok, membuat Pemkab Solok membuat tim monitoring dan evaluasi (Monev) di 14 kecamatan, termasuk untuk Kecamatan Tigo Lurah.

Meski lokasi di kecamatan ini tidak ada ada kasus covid-19 atau daerah hijau, Pemkab Solok Tim Monev ke daerah itu.

Ketika ditanya, para pelajar dan mahasiswa ini dengan serempak mereka mengatakan tengah mengerjakan tugas sebagai pembejalaran daring. Mereka berasal dari sekolah yang berbeda dan ada yang mahasiswa. Beberapa diantaranya kuliah di luar Sumbar.

Para pelajar dan mahasiswa yang rela berpanas-panasan dan kadang berhujan-hujan demi kuliah daring, mengirim tugas ke kampus atau sekolah, ataupun mengukuti ujian secara online, tampak senang mendapat bantuan dan perhatian dari pemimpin mereka. Meski mereka belum begitu kenal dengan sang Kadis, namun ucapan terimakasih seperti tak henti-hentinya mengalir dari bibir mahasiswa dan pelajar kepada dewa penolong mereka. “Kegigihan para mahasiswa dan pelajar Tigo Lurah ini, patut kita support dan dukung. Mereka adalah aset dari daerah kita,” terang Dani.

Sementara, dari kalangan pelajar asal Simanau dan Sumiso, mereka sekolah SMA sederajat kebanyakan di kota Solok atau  di MAN Kota Solok, SMAN 1 Kota Solok, SMAN 2 Kota Solok, MAN Kotobaru Kabupaten Solok, SMA di Padang, MTsN 2 Kotobaru Kabupaten Solok, SMPN 1 Kubung, Pesantren Al Mumtaz Kota Solok, serta sejumlah sekolah lainnya. Sedangkan Mahasiswa Tigo Lurah yang pulang kampung, berasal dari berbagai kampus di tanah air, seperti UMMY Solok, Unand Padang, USU Medan, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, UI Depok, Universitas Negeri Padang (UNP), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, IAIN Bukittinggi dan berbagai kampus lainnya.

“Ya beginilah kondisi daerah kami, Pak! Kami disini sedang mencari sinyal untuk mengerjakan tugas dan hanya disini sinyal yang kuat kami temukan. Namun, sinyalnya sinyal GSM. Yaitu, kependekan dari ‘geser sedikit, mati’. Jadi, jika dapat sinyal yang cukup kuat, kami tidak boleh bergeser-geser lagi. Harus tetap di posisi semula untuk mengerjakan tugas lebih baik,” sebut Gita (18), Mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Sementara Wati, pelajar MAN 1 Solok, juga mengeluhkan lokasi yang jauh dari nagari dan harus melintas hutan sepanjang 5 Kilometer untuk sampai ke lokasi. Makanya mereka sering datang kesana secara berkelompok, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Kalau dengan bersama kita bisa meredam rasa takut dan kita juga bisa saling tolong menolong,” tambah Wati. Menurut Syaiful,  mendengar cerita Wati, dalam menembus perjalanan dalam rimba, pihaknya mengaku benar-benar terenyuh mendengarnya.


Apalagi mereka berangkat berkelompok menebus hutan untuk mencapai titik tersebut untuk mendapatkan signal atau  lima kilometer di jalanan yang sangat lengang dan kondisi jalan yang penuh lubang dan di beberapa titik ada longsoran. “Ini memang tugas kita bersama untuk mencarikan solusi, ditengah masalah bangsa kita yang sedang dihempas corona,” cetus Dani.

Untuk itu, kepada Camat dan Walinagari terkait, dipesankan untuk dilokasi tersebut  dibuat atau dibangun gedung permanen untuk mahasiswa dan pelajar mendapatkan signal.

Tigo Lurah yang terdiri dari 5 Nagari, merupakan Kecamatan paling luas di Kabupaten Solok serta merupakan pmekaran dari Kecamatan Payung Sekaki.

Penduduk kecamatan ini berjumlah 10.201 jiwa, terdiri dari 5.058 laki-laki dan 5.143 perempuan. Kepadatan penduduk 18 per kilometer persegi.

Kecamatan Tigo Lurah terdiri dari 5 nagari dan 20 jorong (jn01/wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here