Oleh: WANDY

SEPINTAS jika dilihat di Jalan utama, Kabupaten Solok memang seperti daerah maju dan tidak ada lagi daerah tertinggal di Kabupaten bumi penghasil bareh tanamo itu.

Namun jika kita tengok lebih jauh kedalam, maka kita akan melihat Kabupaten ini bumi penghasil bareh tanamo ini, ternyata masih banyak terdapat daerah terisolir atau daerah tertinggal.

Di Selatan bagian Tengah Kabupaten Solok, sebut saja Nagari Sungai Abu dan Sariak Alahan Tigo di kecamatan Hiliran Gumanti, merupakan contoh nagari yang sampai saat ini belum bisa menikmati indahnya berkomunikasi dengan menggunakan HP. Bahkan dari nagari Talang Babungo, hanya ada satu jalan yang menghubungkan kedua nagari tersebut. Kalau jalan tersebut sempat ambruk, maka dipastikan kedua nagari itu akan makin terisolasi dari dunia luar. Mayoritas penduduk nagari Sariak Alahan Tigo dan Sungai Abu adalah bertani atau berkebun. Sementara lahan persawahan memang tersedia, namun tidaklah seluas yang ada di kecamatan lain, seperti Gunung Talang, Kubung, Bukit Sundi, X Koto Singkarak atau yang lainnya. Masyarakat di kedua nagari itu, sudah lama mendambakan agar pihak Telkomsel atau Indosat atau pihak XL untuk memasang tower Celluler di sana, namun sampai saat ini belum juga terealisasi.

Selain Sungai Abu dan Sariak Alahan Tigo, dari 74 nagari yang ada di Kabupaten Solok, kecamatan Garabak Data yang terdiri dari 5 nagari, juga tidak kalah hebatnya dengan Sungai Abu masalah ketertinggalan. Nagari Garabak Data misalnya, sampai saat ini masyarakatnya masih mengandalkan kuda beban sebagai alat transfortasi untuk mengangukt barang dan ongkosnya dibayar sesuai berat barang yang dibawa dan untuk satu kilometernya bisa dikenakan tarif Rp 3000/berat barang yang diangkut. Kalau berjalan kaki, maka dari nagari terdekat, Batu Bajanjang Baliak yang merupakan letak ibu kecamatan Tigo Lurah, bisa ditempuh sekitar 12 jam perjalanan. Begitu juga dengan nagari Sumiso, Rangkiang Luluih, Kipek, Simanau, Aia Luwo, Supayang dan Siaro-Aro. Kesemua nagari tersebut selain jauh dari pusat kota, masyarakatnya tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, karena tidak ada tower seluler tadi. Selain itu, jarak yang jauh dari ibukota Arosuka dan kondisi jalan yang rusak berat, membuat masyarakatnya lebih memilih berdiam di kampuang halamannya.

Dari nagari-nagari yang belum bisa disejajarkan dengan nagari tetangganya, bukan tidak ada masyarakatnya yang sukses dan berhasil di luar nagari mereka. Tapi karena kondisi di kampung halaman yang serba terbatas, membuat mereka lebih memilih menetap dan berkarir di tanah rantau.

Mantan Bupati Solok priode 2010-2015, Syamsu Rahim dan mantan Wakil Bupati Solok, Desra Ediwan Anantanur, juga sudah pernah memproklamirkan bahwa seluruh nagari yang ada di Kabupaten Solok sudah terlepas dari keterisolasian, namun nyatanya sampai saat ini masih banyak nagari di bumi penghasil bareh tanamo itu yang belum bisa menikmati kehidupan yang layak, belum merdeka secara technology, belum bisa menikmati kendaraan dengan jalan beraspal, belum ada jaringan celluler dan lain sebagainya.

Sekarang, apakah kita semua, pemerintah dan DPRD Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, akan terus tutup mata dan hanya mengatakan sekedar ikut prihatin dengan kondisi ini? Sudah saatnya kita bertindak dan berbuat. Mumpung Kepala SKPD belum ditunjuk, sebaiknya Kepala Daerah benar-benar menempatkan orang yang bisa berpikir untuk kemajuan Kabupaten Solok, termasuk memikirkan nasib nagari yang bisa dikatakan belum bisa menikmati kemerdekaan seutuhnya, seperti saudara-saudaranya di nagari tetangga. Mari kita bangun Kabupaten Solok dari seluruh penjuru mata angin, terutama bagaimana kita bisa membawa saudara-saudara kita yang tinggal di nagari terisolasi, bisa menikmati kemerdekaan seperti saudaranya yang sudah dulu maju dan berada di dekat ibukota Kabupaten dan dilalui jalur lintas. Semoga! (Penulis wartawan berdomisili di kabupaten Solok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here