Cerita Anak-Anak Daerah Pinggiran: Kenal Nama Presiden Tidak Kenal Nama Bupati

0
128

SOLOK, JN- Ini bukan cerita dari nagari dongeng. Tetapi ini benar-benar kisah nyata dari kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah pelosok di Kabupaten Solok.

Meski tinggal jauh dari pusat keramaian dan hiruk pikuk serta bisingnya bunyi kendaraan, namun hidup di daerah terpencil ternyata jauh lebih tenang, aman dan damai. Rasa kebersamaan dan tradisi gotong royong, juga masih tetap dijaga dan dilestarikan.

Saat kunjungan media ini ke daerah terisolir di Jorong Tanjung Balik, Nagari Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, mendampingi Wakil Bupati Solok beberapa waktu lalu, ada kisah yang cukup mengharukan yang mungkin selama ini jarang mendapat sorotan dari awak media.

Meski tinggal di daerah terisolir dan jauh dari ibukota Kabupaten dan Provinsi, namun anak-anak yang tinggal di Sumiso, tergolong cukup cerdas. Malah mereka hafal nama Presiden dan Ibukota Negara dan ibukota Provinsi Sumbar. Namun sayangnya, ketika ditanya nama Bupati dan Camat setempat, mereka malah saling bertatapan kepada teman mereka.
“Siapa ya, saya tidak tau, ” jawab salah seorang anak yang bernama, Irdan (8).
Selain itu, mereka juga belum pernah bertemu dengan para pejabat tersebut dan juga mereka mengaku belum pernah pergi ke Ibukota Kabupaten Solok di Arosuka atau ke Kota Padang Ibukota Provinsi Sumatera Barat.

Selain itu, saat ditanya kepada anak-anak daerah tertinggal yang sedang mengikuti rombongan Wabup Solok, ke daearah mereka, saat menelusuri beberapa jorong di Sumiso, seperti Sungai Dareh dan Tanjiung Balik tentang cita-cita mereka, rata-rata menjawab ingin jadi polisi dan guru.

Lalu saat ditanya, siapa nama Presiden RI sekarang, maka dengan nada serentak mereka menjawab Bapak Jokowi. Lalu ketika ditanya dari mana tau nama tersebut, maka dijawab oleh anak-anak ini dari spanduk dan fhoto yang ada di sekolah. Begitu juga ketika ditanya kepada salah seorang anak yang bernama Reni(10), apakah dia tau siapa nama Gubernur Sumbar saat ini, maka langsung dijawab dengan dengan lancar yakni Bapak Irwan Prayitno dan sampai kepada nama presiden Jokowi mereka hafal.
Lalu ketika ditanya apakah mereka sudah pernah ke kota Solok atau ke kantor Bupati, hampir semuanya menjawab belum pernah. Alasan mengapa belum pernah ke Arosuka, maka dijawab orang tua tidak mau mengajak karena jaraknya jauh dari kampung mereka dan jalannya juga buruk masuk hutan.

“Kata bapak kalau mau melihat kantor Bupati, nanti saja kalau sudah SMP atau SMA. Sebab dari Sumiso ke Sirukam saja bisa menghabiskan waktu 5 sampai 6 jam baru sampai di kantor Bupati. Lagi pula kata beliau ongkosnya mahal kalau mau ke ibukota,” tutur Reni dengan polos.

Walinagari Sumiso, Tigo Lurah, Effendi, tampak sangat prihatin dengan kondisi anak-anak dan warganya yang berada jauh ibukota dan keramaian.

“Ya begitulah kondisi kami di sini, anak-anak masih lugu dan sangat alami. Mereka kalau siang sekolah, kemudian membantu orang tua di ladang. Pada waktu sore, mereka pergi mengaji. Tapi kita bersyukur jauh dari dunia internet yang banyak berdampak negatif bagi perkembangan anak-anak,” jelas Effendi.

Walinagari ini juga sempat bercerita bahwa sebelum ada bangunan SMA di Ibukota Kecamatan Tigo Lurah di Batu Bajanjang sekitar Empat tahun lalu, maka setamat dari SMP, banyak anak-anak di Sumiso yang menikah pada usia muda, sebab mau melanjutkan ke SMA sangat jauh karena harus ke kota Solok atau ke Salayo yang jaraknya bisa ditempuh 5 jam perjalan baru perginya saja. “Dari pada tidak ada kegiatan, maka para orang tua lebih memilih menikahkan anaknya setamat SMP. Namun sekarang sudah ada SMA jadi mereka bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi,” terang Effendi.

Namun pihaknya sangat berharap, agar Pemkab Solok memperhatikan kondisi jalan dari Tanjung Balik menuju ke Nagari Rangkiang Luluih yang sangat memilukan. Sebahagian jalan memang sudah diaspal, namun separohnya lagi masih jalan tanah.
“Anak-anak sekolah harus menempuh jalan itu, karena tidak ada jalan lain menuju ibukota Kecamatan. Selain itu, jalan juga harus melintasi hutan yang sepi dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama untuk anak perempuan, ” sebut Walinagari Effendi (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda