Tigo Lurah Tak Pernah Lelah Berjuang Minta Kesetaraan

  • Whatsapp

SOLOK, JN- Sampai saat ini Kecamatan Tigo Lurah di Kabupaten Solok, masih tetap menjadi kecamatan paling terisolir di Kabupaten Solok karena letaknya  yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka.

Sarmaini, Camat Tigo Lurah

Meski berada jauh dari pusat kota, namun Kecamatan Tigo Lurah akan berusaha bangkit untuk setara dengan daerah lain. Saat ini setiap nagari di Kecamatan Tigo Lurah sudah memiliki SD dan SMP. Bahkan  di pusat kecamatan di nagari  Batu Bajanjang,  juga sudah ada sebuah SMA Negeri. “Kita akan terus berjuang agar Tigo Lurah tetap bisa sejajar dengan kecamatan lain di Kabupaten Solok,” jelas Camat Tigo Lurah, Sarmaini, SH, Sabtu (13/4). Saat ini menurut Sarmaini, yang menjadi kendala utama untuk menuju ke Tigo Lurah adalah bila musim hujan tiba, maka jalan akan terlihat becek dan seperti kubangan kerbau. Akibabya, selain jalan becek, kendala lain yang utama dalah semak juga sudah menjorok kejalan dari kanan kiri. Dicemaskan, kalau ada pengendara yang kebanyakan anak sekolah bila mengalami kecelakaan atau slip tidak ada yang tau karena jarak dari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki menuju nagari terdekat di Tigo Lurah yakni Simanau cukup jauh dengan kondisi jalan yang sempit dan jelek serta berada di tengah hutan.

“Kita akan berupaya memperjuangkan ini bersma-sama, baik ke Kepala Daerah atau DPRD agar langkah Tigo Lurah terbebas dari ketertinggalan bisa terwujud,” terang Sarmaini.

Salah seorang Warga nagari Simanau, Rini (21) juga menjelaskan bahwa bila hujan turun, maka akses jalan menuju nagari di Tigo Lurah akan memilukan. “Bila hujan dalam turun seperti saat ini, maka kami tidak bisa bepergian ke lura kecamatan, karena kendaraan tidak bisa jalan di lumpur,” jelas Dirinya tidak bisa membayangkan kalau kampungnya masih berada di Garabak Data, yang belum tersentuh jalan beraspal dan jaraknya cukup jauh dari Simanau. Selain ke Garabak Data, jalan menuju nagari  ke Sumiso juga belum beraspal. Jalan penuh tanjakan, dan licin saat musim hujan. Bukan saja kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun kesulitan mencapai pusat pemerintahan yang berada di Kapujan ini. “Namun jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu, saat ini kondisi jalan ke Tigo Lurah sudah jauh lebih baik. Misalnya dari Sirukam, Kecamatan Payung Sekali hingga ke Simanau, nagari pertama di Tigo Lurah dari arah Sirukam ini, sudah banyak yang diaspal. Bahkan dari Simanau ke Kapujan aspalnya masih mulus karena baru saja diaspal.

Sebagai daerah paling terpencil, Tigo Lurah menjadi perhatikan bagi Pemkab Solok. Karena setiap tahun tetap ada dana yang dialirkan ke Kecamatan ini. Hanya saja pembangunan jalan terkendala oleh posisi daerah ini sebagai hutan lindung dan masuk paru-paru dunia.  Karena itulah Nagari Garabak Data misalnya, hingga kini masih berjuang untuk menikmati jalan beraspal. Nagari yang berbatasan dengan Dharnasraya ini belum tersentuh aspal. Pemerintah Kabupaten Solok maupun Pemprov Sumbar pernah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membuka akses jalan ke nagari ini, tetapi gagal terwujud karena tidak adanya izin pemanfaatan lahan tersebut dari pusat. Kabar terakhir yang diperoleh dari Pemda Kabupaten Solok dan Sumbar, tahun  ini untuk Tigo Lurah sudah dianggarkan dana diatas Rp 15 Milyar Rupiah (wandy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *