Sutan Hardi Yulis Anggota DPRD Kota Solok: Masyarakat Solok Hidup Dengan Damai dan Harmonis

0
695
Sutan Herdi Yulis

SOLOK, JN–Buntut dari persekusi yang ramai diberitakan dimedia dan menimpa seorang dokter di RSUD Kota Solok, berjalan panjang. Dokter RSUD Kota Solok yang bernama dr. Fiera Lovita, usai meninggalkan Ranah Minang 2 Minggu lalu, mengadu ke Komnas HAM dan juga melakukan jumpa PERS di Jakarta. Akibabnya, dalam sekejam dokter umum yang sehari-hari bertugas di RSUD Kota Solok itu, menjadi terkenal di medsos dan menjadi artis dadakan.

Dampaknya, Kapolresta Solok yang sangat dicintai warganya, AKBP Susmelawati Rosya menjadi korban dan dicopot dari jabatannya oleh kapolri, Tito Karnavian, karna dinilai lamban dalam menyelesaikan dan tidak memberikan rasa aman terhadap dugaan persekusi kepada warganya. Namun masyarakat Solok sangat menyayangkan, pencopotan Kapolresta Solok yang dinilai sepihak menimbulkan kegaduhan di masyarakat, karena sampai saat ini Solok masih aman dan damai. Tidak sama dengan yang diberitakan di media sosila, media cetak dan elektronik.

Akibab pernyataan dokter Umum asal Solok ini yang berbeda-beda, menimbulkan kegelisahan di masyarakat. Kota kecil Solok yang selama ini aman dan hanya dikenal lewat berasnya, kini mendadak populer akibab tidak aman dan pernyataan sang dolter yang dinilai sangat kontrduktif atau berlawanan dengan kejadian yang sesungguhnya.

Selain masyarakat dan mahasiswa di Solok melakukan orasi dan menyatakan Solok masih aman dan jauh dari yang diberitakan di media di beberapa tempat di Solok seperti Simpang Surya dan di kantor oramas lainnya, anggota Komisi III DPRD kota beras, Sutan Hardi Yulis, menilai pernyataan dokter Lovita sudah bikin masyarakat gelisah. “Saya lahir dan besar di kota Solok. Sampai saat ini kota Solok aman dan masyarakatnya suka tolong menolong dan tidak ada teror kepada warganya seperti yang saat ini berkembang. Tapi akibab pernyataan buk dokter di media terlalu eforia, maka Solok mendadak seolah-olah kacau dan tidak aman,” terang , kepada KORAN PADANG, Kamis sore (8/6) di DPRD kota Solok.

Meski Kapokresta Solok AKBP Susmelawati Rosya menajdi korban akibab persekusi ini, namun yang terpenting bagaimana masyarakat kota Solok meyakinkan publik dan Kapolri bahwa Solok tenang dan penuh cinta damai. “Tidak ada yang berubah dengan Solok sampai saat ini. Tapi sejak pernyataan dokter Lovita di berbagai media, alhirnya orang lain menilai Solok kacau. Sekali lagi saya katakan itu tidak benar, kalau tidak percaya datanglah ke Solok,” ucap Sutan Herdiyulis, politisi dari Golkar ini.

Issu Solok tidak aman dan menjadi tranding topic di media elektronik dan cetak, membuat masyarakat kota Solok gerah. Bahkan mungkin untuk megembalikan Kapolresta Susmelawati Rosya ke jabatannya sudah tidak mungkin, namun dunia harus tau kalau tidak terjadi apa-apa di Solok. “Pencopotan AKBP Susmelawati Rosya yang begitu cepat, sangat disayangkan kita sayangkan, termasuk berbagai elemen masyarakat yang ada di kota dan Kabupaten Solok dan juga termasuk media. AKBP Susmelawati dinilai cukup baik dan cepat tanggap dalam menangani berbagai kasus yang terjadi di Solok. Bapak Kapolri mungkin memandang lain, karena gencarnya berita tentang Solok tidak aman di media, makanya beliau mencopot Kapolresta Solok. Namun sebenarnya kota Solok sampai saat ini masih aman. Buk Kapolres sangat baik kok,” tambah Sutan Herdi Yulis. Dokter Prita hijrah ke Jakrata, maka kasus ini seolah-olah besar. Padahal tidak ada ormas yang dituduhkan melakukan teror kepada dokter tersebut yang berlebihan.

Ditmbahkannya, tidak gaduh dan tidak ada Ahok Effect ataupun apalah namanya. Polres Solok Kota tegas, transparan dan melayani serta melindungi. Saya warga Solok merasakan itu. Kalau mau lihat bagaimana keberhasilan petugas keamanan di Polres Solok Kota dibawah kepemimpinan AKBP. Susmelawati Rosya, datanglah ke Solok tanya warganya,” pungkas Sutan Herdi Yulis

Pencopotan Kapolresta Solok, terkait aksi persekusi yang menimpa seorang dokter di RSUD Solok bernama Fiera Lovita. Fiera diintimidasi dan diancam oleh ormas tertentu karena status di salah satu media sosial. Menurut ormas itu, dr. Fiera Lovita dianggap melecehkan tokoh ormas itu. Walau sebenarnya dr. Fiera sudah meminta maaf, namun teror, ancaman sekaligus intimidasi masih diterima Fiera hingga saat ini, sesuai paparan dr. Fiera Lovita dibeberapa media sosialnya dan saat menggelar jumpa pers beberapa waktu lalu dengan media nasional di Jakarta, baik cetak maupun elektronik.

Anggota DPR RI asal Solok, Epyardi Asda, Minggu lalu di Solok sangat menyayangkan pencopotan Kapolresta Solok yang dinilai cukup baik dalam menangani berbagai kasus. “Saya melihat Solok sangat aman gatakan bahwa Solok aman, kalau ada yang menyebut Solok tidak aman ini sangat menyakitkan dan prematur. Kalau pencopotan ini tidak kita protes, berarti Solok memang tidak aman. Tapi sampai saat ini saya tinggal di Solok sangat aman kok. Ini terlalu berlebih-lebihan,” jelas Epyardi Asda (wandy)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here