Sudah 73 Tahun Indonesia Merdeka, Garabak Data Masih Tetap Terisolir

0
1171

SOLOK, JN– Meski sudah sudah 73 tahun Republik ini merdeka, namun sebahagian warganya banyak yang belum menikmati apa itu arti ‘merdeka’. Merdeka disini jelas bukan masih terjajah oleh bangsa lain, namun masih belum bisa menikmati makna dari kemerdekaan itu sendiri.

Salah satu nagari di Kecamatan di Kabupaten Solok, yakni nagari Garabak Data, di Kecamatan Tigo Lurah,  sampai saat ini belum pernah disentuh listrik, jalan beraspal, sarana dan tenaga kesehatan atau menikmati siaran televisi. Bahkan satu-satunya alat transportasi adalah dengan menggunakan kuda beban, yang tarifnya dibayar Rp. 4000 per kilo meter atau satu kilo barang dengan ongkos Rp 1500 sampai 2000.

Beginilah kondisi jalan menuju nagari Garabak Data dari Nagari Batu Bajanjang

Penduduk nagari Garabak Data berjumlah 2.600 jiwa, dan mengaku masih belum menikmati apa itu kemerdekaan. Wali nagari Garbak Data, Pardinal, kepada Koran Padang menyebutkan bahwa pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat tidak serius memperhatikan nagari Garabak Data.

“Kami benar-benar merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Lihat saja, zaman sekarang masih banyak warga kami yang tidak mengerti apa itu kendaraan, listrik atau televisi. Padahal negara ini sudah 73 tahun merdeka,” tutur Pardinal, Selasa (17/7)

Ditambahkannya, warga Garabak Data benar-benar buta tentang kemajuan technogy dan sampai sekarang warganya masih terisolasi dan miskin. Sehari-hari menurut Pardinal, warganya hidup dari bertani coklat, kopi, manggis, pisang, padi, karet dan lain sebagainya. Namun hasil pertanian dijual sangat murah kepada tengkulak, karena mereka jauh dari pusat kota dan kecamatan.

“Bayangkan saja, untuk keluar dari Garabak Data saja mau menuju kantor kecamatan, setiap warga harus mengeluarkan ongkos ojek Rp 150 ribu untuk satu kali jalan. Bagaimana kalau mau sampai ke Arosuka ibukota Kabupaten Solok atau ke Padang, mungkin ongkosnya sampai 500 ribu, belum termasuk biaya lain-lain. Makanya masyarakat Garabak lebih memilih diam di kampung dan jarang berpergian ke luar,” jelas Pardinal.

Nada memilukan dan gambaran potret kemiskinan yang disampaikan walinagari Pardinal, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah.

Pardinal juga menjelaskan bahwa sampai saat ini semua sarana jalan ke Garabak Data masih jalan tanah dan seadanya, sehingga akses transportasi ke daerah penghasil pertanian ini masih menggunakan kuda beban.

Walinagari juga menyayangkan janji Gubernur dan Bupati pada April 2014 lalu, sampai sekarang belum terelaisasi. Garabak Data adalah penghasil pertanian yang baik, Setiap petani di Garabak Data, minimal mempunyai 1500 batang kopi.

“Karena susahnya akses jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian, untuk mengangkut dan memasarkan hasil bumi, membuat masyarakat tidak bisa menjual hasil panen dengan harga tinggi,” jelasnya.

Tokoh masyarakat Tigo Lurah, Dani mengatakan  pemerintah Kabupaten Solok lebih serius melakukan pembangunan di nagari ini dengan memprioritaskan mana yang paling penting, utamanya membuka akses jalan menuju Nagari Garabak Data. Ribuan penduduk Garabak Data juga sangat berharap kepada anggota DPRD Kabupaten Solok, kususnya yang berasal dari Dapil III yang  meliputi Kecamatan Tigo Lurah dan kecamatan lainya serius memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Kalau pemerintah Kabupaten Solok tidak pernah serius memperhatikan dan membangun Nagari Garabak Data sebagaimana yang diharapkan masyarakat, dapat dipastikan selamanya penduduk Nagari Garabak Data akan merasa tidak hidup di negerinya sendiri,” tambah Dani (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here