Ratusan Warga Jawi-Jawi Guguk Turun ke Kali Untuk Mangalah

0
251

SOLOK, JN- Dalam rangka menyambut Hari jadi Kabupaten Solok yang ke 106, Pemerintah dan masyarakat Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, ramai-ramai turun ke Kali Alahan Mati, yang membelah Nagari Jawi-Jawi Guguak menjadi dua.

Kali Alahan Mati, merupakan bagian dari Sungai Batang Lembang dan mengalir terus ke Danau Singkarak dengan melintasi Kota Solok.

Menurut Walinagari Jawi-Jawi Guguak,
Laswir Malin Putiah, tradisi mangalah memang sudah dilaksanakan di Nagari tersebut semenjak ratusan tahun lalu. Kebanyakan penduduk turun ke kali pada saat musim kemarau, karena kondisi air kali akan menyusut.

” Dengan adanya momentum hari jadi Kabupaten Solok yang ke 106 ini, kami bersama perangkat nagari, tokoh masyarakat, pemuda, pemudi dan bahkan anak-anai kembali ingin mengingatkab tradisi mengalah menangkap ikan ke Kali dan ini sudah menjadi budaya di Nagari ini sejak dulu, ” terang Laswir, Senin (1/4).

Mangalah, yang bermakna menutup salah satu bagian kali yang bercabang dengan jerami basah atau tanah dan sebelumnya ditambah batu-batu besar. Setelah airnya berkurang atau bahkan nyaris kering, maka akan dilepas tuba ikan, yang dibuat dari kulit pohon Langkisau. Biasanya tuba ikan dari pohon kayu ini diambil di hutan dengan cara bergoro dan sebahagian warga lagi mengeringkan salah satu sungai atau kali yang bercabang.

“Setelah kali kering, maka tuba akan dilepas dan segala jenis ikan air tawar yang ada di kali tersebut akan mabuk dan keluar dan itulah yang ditangkap warga, ” terang Laswir.
Disebutkannya, ikan yang hidup di Kali Batang Lembang sangat beragam, seperti jenis ikan kecil dan besar yang orang disana menyebutnya dengan ikan tali tali, salarian, situkah, lanjiang, tilan, udang, baung, lele, mujahir, gariang dan lainnya.

Disebutkan Laswir, selain untuk memeriahkan ulang tahun Kabupaten Solok, Kegiatan ini merupakan simbol dari kerukunan antar masyarakat yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita yang telah terdahulu.

“Sejatinya tradisi ini adalah menyatukan tali persaudaraan khususnya antara masyarakat yang ada di Empat jorong ini. Tradis ini sudah turun temurun digelar disini. Semua turun ke kali dengan rasa senang dan mereka rukun bersaudara tidak ada perbedaan. Ini bukti toleransi antar warga yang berlangsung sejak dulu,” sebut Laswir.

Sayangnya saat ini, dengan kemajuan zaman, ikan banyak yang punah karena adanya racun tiodan, portas dan yang paling berbahaya adalah Setrum ikan.
Namun masyarakat ada yang patuh ada yang mencoba melanggar, meski kali yang melintas di Nagari itu sudah dilarang untuk meracun atau menyetrumnya.

Tradisi ini menurut Walinagari, akan kita singkronkan dengan program Kampung Wisata Budaya, berdasarkan aspek kebudayaannya Nagari Jawi Jawi Guguk masih sangat kental, juga masih belum cukup tersentuh oleh kebudayaan luar, dan itu harus dilestarikan dengan mengembangkan wisata budaya, agar masyarakat juga punya peran dalam melestarikan hal tersebut.

“Nagari Jawi Jawi Guguk sudah ditetapkan sebagai salah satu kampung
Wisata budaya oleh Kementerian Pariwisata RI, ” sebut Laswir.

Laswir juga menyebutkan bahwa para wisatawan akan diajak berbaur dengan masayarakat, seperti menjalani cara hidup warga Jawi-Jawi Guguak, seperti mandi di sungai untuk laki-laki, di pancuran untuk perempuan, kemudian pengunjung akan diajak ke sawah, lalu mereka juga diajak bermain permainan anak nagari, memainkan kesenian tradisional, dan duduk di lapau pada malam hari, agar mereka bisa merasakan langsung bagaimana keseharian warga Jawi-Jawi, dan diharapkan mereka mendapatkan pengalaman baru selama berada di Jawi-Jawi dan termasuk tradisi tubo langkisau ini akan kita agendakan setiap tahunnya.

Walau tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun, namun sempat berhenti dejak dua puluh tahun lalu, dikarenakan masyarakat ingin menangkap ikan dengan cara yang mudah, mengunakan zat kimia, seperti putas dan setrum. Kini tradisi ini kembali dihidupkan kembali, sebagai budaya daerah lokal untuk dilestarikan.

Sebelum tradisi Tubo dilaksanakan, para pemudan dan tokoh masyarakat setempat bahu membahu mengangkat batu guna mebelah sungai, dengan menutupi dengan jerami yang sudah busuk, dan peralatan laiinya, seperti trapal alat tradisional lainnya, berikut meramu racun tradisional untuk disebar di sungai tersebut.

Nah, ramuan alami peninggalan nenek moyang warga setempat itulah yang kemudian digunakan untuk meracuniikan di sungai itu. Racun khusus ikan itu dijulukinya “Racun Tubo Langkisau”. Tubo sendiri sebenarnya adalah kata lain dari Tuba.

Tuba, dalam bahasa ilmiah disebut Derris Elliptica, merupakan jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai peracun ikan. Akar tanaman Tuba ini memiliki kandungan rotenone, sejenis racun kuat untuk ikan dan serangga.

Setelah tuba dilepas, ratusan warga turun ke kali yang airnya sudah nenyusut.
Dusaay itulah ratusan orang yang telah lama menanti di pinggir sungai kemudian dengan suka cita berenang menceburkan diri ke sungai alahan mati untuk berebut ikan. Ratusan orang itu adalah penduduk empat jorong di Nagari Jawi jawi itu.

” Ini benar-benar menghibur dan ikan dapat pula, ” tutur Sukarmi (50) warga setempat.

Suasana tampak semakin meriah, setelah Ikan-ikan habitat air tawar yang telah keracunan itu menjadi sasaran tangkapan keroyokan para warga baik tua maupun muda. Ada yang menggunakan tangguak, keranjang dan tangan kosong untuk menangkap dan mengumpulkan ikan yang kelabakan nyaris sekarat itu.

Setidaknnya ratusan orang akan berebut menangkap ikan di sepanjang kali sepanjang lebih kurang 1 kilometer.

“Pokoknya seru sekali. Sudah lama tradisi mengalah dengan mengunakan tubo ini tak kami lihat, biasanya warga mengalah disungai mengunakan zat kimia, seperti putas dan lainya, kami kangen tradisi ini dan ingin menontonnya,” ucap Jasril (46) warga setempat. (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda