Penggunaan Pestisida Yang Tidak Terkendali, 60 Persen Lebih Petani Lembah Gumanti Alami Gejala Neurotoksik

0
646

SOLOK, JN- Sekitar 60% petani penyemprot sayur di Kanagarian Alahan Panjang, Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti dan sekitarnya, mempunyai riwayat gejala neurotoksik.

Penelitian ini pernah dilakukan pada bulan Februari 2017, oleh Aria Gusti dan Ira Desnizar, dari Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang.

Penelitian tersebut menurut Aria Gusti dan Ira Desnizar, bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala
gangguan syaraf pada petani penyemprot yang menggunakan pestisida di Kanagarian Alahan Panjang dan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.
Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Sementara subyek penelitian adalah sebanyak 75 responden. Penarikan sampel dilakukan secara random. Variabel yang dikaji dalam penelitian ini
meliputi jenis pestisida, komposisi pestisida, pemakaian alat pelindung diri, dan gejala neurotoksik. Instrument
penelitian menggunakan kuesioner Q18 versi Jerman. Analisis data menggunakan uji Chi-square pada taraf
signifikasi 5%.

Hasilnya, menunjukkan bahwa sebanyak 62,7% petani penyemprot sayuran pernah mengalami gejala
neurotoksik. Hasil analisis statistik menunjukkan ada hubungan signifikan antara jumlah dan komposisi
pestisida yang digunakan dengan gangguan neurotoksik pada petani sayuran (p-value <0,05). Sedang kebiasaan pemakaian alat pelindung diri tidak berpengaruh terhadap kejadian gangguan neorotoksik.

Penelitian itu juga mendapat kesimpulan bahwa jumlah dan komposisi pestisida berhubungan secara signifikan dengan gangguan neurotoksik pada petani sayuran di Kanagarian Alahan dan sekitarnya.

Atas dasar itulah, Wakil Bupati Solok, sengaja mengunjungi para petani di Sungai Nanam dan Alahan Panjang, dan mencoba berdialog dengan para petani dalam menggunakan pestisida.

“Kita harus mencari solusi, agar bahaya zat kimia bagi petani dan lingkungan sekitar tidak semakin meluas. Dan ini perlu waktu yang panjang, sebab para petani kita sudah akrab dengan zat kimia atau pestisida ini, ” sebut H. Yulfadri Nurdin, saat menggelar dialog dengan petani, Senin (15/7) di Alahan Panjang.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa hampir seluruh petani sayur dan hultikultura di Kecamatan Lembah Gumanti dan daerah penghasil sayur di Kabupaten Solok, rata-rata menggunakan pestisida.
Arti dari pestisida yakni bahan atau zat kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik yang berupa tumbuhan, serangga, maupun hewan lain di lingkungan kita.

Berdasarkan jenis hama yang akan diberantas, pestisida digolongkan menjadi insektisida, herbisida, nematisida, fungisida, dan rodentisida.

“Cepat atau lambat petani kita tentu bisa terkena gejala Neurotoksik akibat
paparan Pestisida pada petani sayuran di Kabupaten Solok. Dan itulah yang harus kita carikan solusinya. Sebab pestisida ini sangat berbahaya untuk petani dan lingkungan, ” sebut H. Yulfadri Nurdin.

Salah satu cara menurut Wabup, mungkin bisa dengan cara mengganti pestisida organofosfat dengan pestisida yang tidak berbahaya untuk kesehatan seperti pirethroid. Petani sayur disarankan muntuk mengunakan alat pelindung diri pada aktivitas pencampuran dan penyemprotan pestisida.

Wabup juga menjelaskan bahwa saat ini tokoh-tokoh Sumbar sudah memberi julukan baru bagi kecamatan Lembah Gumanti yang mana Lembah Gumanti diganti menjadi Lembah Tengkorak, akibat tingginya pemakaian zat kimia setiap harinya di daerah itu.

Sementara itu, salah seorang tokoh rantau Kabupaten Solok, Maigus Tinus, yang juga Sekjen Ikatan Keluarga Perantau Kabupaten Solok, yang ikut bersama Wakil Bupati Solok, menyampaikan rasa prihatinnya yang dalam.
“Kalau masalah ini tidak segera dicarikan solusinya, akan sangat berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Selain itu, pestisida dan zat kimia yang digunakan petani, juga bisa merusak ekosistim yang ada di danau Kembar. Sebab saya lihat limbah kimia merambah kemana-mana,” sebut Maigus Tinus.

Tokoh rantau ini juga berjanji akan membantu membicarakan hal ini dengan para perantau Kabupaten Solok yang ada di jakarta, termasuk kepada pengurus Ikatan Keluarga Minang (IKM) Sumbar (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda