Para Tokoh Nagari Berembuk Menentukan Hari Jadi Nagari Salayo

0
339

SOLOK, JN- Momentum Hari Jadi suatu nagari di Minangkabau sejatinya dimaknai sebagai adanya sakralisasi dari suatu proses pembentukan suatu wilayah nagari, sehingga dapat dipakai sebagai pemantik atau simbol spirit untuk memantapkan komitmen secara bersama bagi anak nagari sebagai masyarakat hukum adat.

Untuk menelusuri hari jadi Nagari Salayo Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumbar diselenggarakan diskusi dengan pakar/ahli sejarah dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Unand pada Sabtu (31/8) di Sekretariat BPN (Badan Permusyawaratan Nagari) Salayo. Hal itu dikatakan M.A.Dalmenda, Selasa (3/9) di Salayo.

Menda Pamuntjak salah seorang dari delapan tim inisiator mencari Hari Jadi Nagari. Keberadaan delapan tim inisitor tersebut berangkat dari rasa kepedulian terhadap nagari yang belum memiliki hari jadinya, sementara Nagari Salayo merupakan nagari tertua di Kubung 13 yang dikenal Salayo sebagai “Bapak”-nya Kubuang 13 yang ditandai adanya Balai Adat Nan Panjang Kubuang 13 terletak di Jorong Galanggang Tangah Nagari Salayo.

Adapun kedelapan orang tim inisiator Mencari hari jadi Nagari Salayo tersebut diantaranya adalah, Bustanul Arifin Dt. Bandaro Kayo, Jhoni Umar Dt.Sari Marajo, H. Mukhtar Duamin, SH. Dt. Rajo Aceh, Surjan Khatib Bandaro, Aswara Tuan Paduko Sati, Anten Dt. Lenggang Sati, M.A.Dalmenda Dt.Pamuntjak Alam dan Wirrianto Dt. Bandaro Kayo.
Sedangkan para pakar sejarah/ahli dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Unand diantaranya Dr.Zulqaiyyim, M.Hum, Dr. Midawati, M.Hum, Dr. Lindayanti, M.Hum, Drs. Syafrizal, M.Hum, Drs. Armasyah, M.Hum, Dra. Iriamma, M.Hum, Drs. Purwo Husodo, M.Hum, Dra. Enimay, M.Si, Witrianto S.S., M.Hum., M.Si, Nur Hiadayah.M.Hum (Mahasiswa S2 Sejarah FIB) dan Putra Masril Fajri, S.Hum (Mahasiswa S2 Sejarah FIB). Turut hadir Sekretaris KAN Salayo Yuliandri Dt. Pangulu Sati dan Ketua Bidang Aset dan Kekayaan Nagari KAN Salayo H. Muslim Harun Dt. Magek Bajoang. Saat diskusi tampil sebagai moderator Menda Pamuntjak Alam.

“Peringatan hari jadi suatu nagari harus disikapi secara arif, mendalam dan bijaksana. Momentum hari jadi tersebut sebagai refleksi untuk mengevaluasi bagi anak nagari lintas generasi sebagai pijakan untuk menatap dan mengisi pembangunan di masa mendatang, “ sebut Menda

Hari jadi bukanlah hari kelahiran suatu wilayah. Hakikat hari jadi lebih merupakan sebuah kesepakatan dari stakeholders yang didasarkan pada kenyataan unik dan mempunyai makna penting dari sebuah proses sejarah yang dialami oleh wilayah tersebut. Banyaknya aspek yang mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut maka diperlukan sebuah kajian yang multidimensi untuk kemudian dijadikan sebagai simbol utama secara historis yang menjadi dasar bagi penentuan hari jadi.

“Untuk penetapan hari jadi suatu nagari tidak hanya diperlukan kajian politik atau ekonomi semata melainkan juga pertimbangan aspek sosial dan budaya yang tumbuh berkembang dalam nagari, pemerintahan, dan peran masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan daerah tersebut, ” terang Menda Pamuncak Alam, yang juga duamini oleh Ketua Bidang Aset dan Kekayaan Nagari KAN Salayo H. Muslim Harun Dt. Magek Bajoang.

Lebih jauh dijelaskan Dalmenda, yang tidak kalah pentingnya adalah proses historis yang terjadi pada pada masa lalu juga sangat mempengaruhi penentuan hari jadi suatu nagari. Jika tidak ada masa lalu maka tidak akan ada masa sekarang. “Peristiwa bersejarah itu patut dikenang dengan diperingati sebagai refleksi terwujudnya idealisme, harapan-harapan, keselamatan, kesuksesan dan perjuangan tanpa henti bagi anak nagari demi meningkatkan kesejahteraan seluruh warganya.” ungkap kandidat doktor Ilmu komunikasi dan politik Unpad ini.

Untuk mematangkan konsep dan langkah strategis penelusuran hari jadi Nagari Salayo tersebut mengundang para pakar dan ahli sejarah dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Unand. Edukasi dan diskusi berjalan alot. Beberapa langkah strategis itu seperti yang disampaikan Zulqaiyyum bahwa untuk menentukan hari jadi nagari memuat 3 hal : Informatif, yaitu sesuatu informasi diberikan kepada masyarakat yang tidak menimbulkan pertanyaan kembali. Inspiratif, mampu menimbulkan rasa percaya diri bagi masyarakat dan Integratis, yaitu mampu menyatukan anak nagari atau masyarakat itu sendiri.

Sedangkan Armasyah menyarankan agar tim inisiator untuk menelusi kembali syarat berdirinya suatu nagari, seperti masjid nagari, balai adat nagari, pasar nagari dan gelanggang nagari. Dapat ditelusuri dari awal berdirinya secara tertulis atau pesan dari mulut ke mulut. Selain itu juga bisa ditelusuri model atau desain batu nisan pada pusara yang dianggap telah berusia ratusan tahun. Lindayanti menyarankan agar dibuka sejarah Kubuang 13 yang ditulis oleh Belanda karena dalam tulisan itu cukup lengkap membahas ke 13 nagari yang ada dalam Kubuang 13. Selain itu perlu pendekatan melaui buku sejarah dari para peneliti, tambo dan sejumlah wawancara dengan tokoh adat yang memahami tentang Nagari Salayo.

Diakui oleh Syafrizal, memang sulit untuk menentukan kepastian tanggal,bulan dan tahun hari jadi Nagari Salayo ketika tidak didukung oleh data yang akurat, namun demikian, kataya jalan terakhir pendekatannya melalui kesepakatan bersama berdasarkan data, informasi dan asumsi sehingganya mana yang lebih mendekati kebenarannya. Selain itu diperlukan data dan pembanding-pebanding lainnya.

“Hasil penelusuran tim inisiator akan diserahkan ke pakar sejarah FIB Unand untuk ditelaah dan dipelajari secara seksama berdasarkan kajian akademis sejarah. Selanjutnya digelar seminar tingkat Nagari Salayo agar diperoleh berbagai saran maupun krtikan demi penyempurnaan hasil telusuran sehingga pada akhirnya bisa ditetapkan,“ jelas Menda Pamuntjak Alam.
Acara diakhiri penyerahan kenang-kenangan sebagai cendera hati karya dari dosen FIB berupa 3 judul buku sejarah yang diserahkan oleh Zulqayyim kepada Yuliandri Dt. Pangulu Sati dan disaksikan anggota atau tim perumus yang hadir (jn01/tim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda