Nasib Tigo Lurah, Potensi Daerah Tinggi Namun Terabaikan

0
94
SOLOK, JN- Menyebut nama Tigo Lurah,  masyarakat Sumatera Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, pasti akan langsung berpikir bahwa daerah tersebut masih terisolir dengan kondisi akses jalan yang buruk.
          Hal itu benar apa adanya, Bahwa hingga saat ini Kecamatan Tigo Lurah di Kabupaten Solok, masih tetap menjadi kecamatan paling terisolir di Kabupaten Solok karena letaknya  yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka.
“Harus bagaimana lagi,  segala daya dan upaya sudah kita usahakan baik ke Bupati,  Gubernur dan juga ke anggota DPRD Kabupaten Solok dan Sumbar,  agar segera membangun Tigo Lurah,  minimal akses jalan yang layak. Namun kami masyarakat disini selalu diberi harapan palsu, ” jelas Pardinal, Senin (26/11), Walingari Garabak Data yang dikenal paling vokal memperjuangkan nagarinya kepada Pemerintah Daerah.
Namun menurut Pardinal,  meski daerahnya terisolir,  tetapi pihaknya tidak ingin terlena. Masalah yang akan terus ditingkatkan adalah tentang sumber Daya Manusia (SDM).  Sebab jika bicara sumber Daya Alam (SDA), Tigo Lurah tidak akan kalah dengan kecamatan lain di Kabupaten Solok.
“Meski kita berada jauh dari pusat kota, namun warga Garabak Data,  Kecamatan Tigo Lurah akan berusaha bangkit untuk setara dengan daerah lain. Saat ini setiap nagari di Kecamatan Tigo Lurah sudah memiliki SD dan SMP. Bahkan  di pusat kecamatan di nagari  Batu Bajanjang,  juga sudah ada sebuah SMA Negeri,” terang Pardinal. SDA bisa dikelola jika daerah memiliki SDM yang cukup.
Disebutkan Pardinal,  warga Garabak Data akan terus berjuang agar bisa sejajar dengan Nagari di Kecamatan lain di Kabupaten Solok, meski kurang diperhatikan.
Sementara Camat Tigo Lurah,  Sarmaini menyebutkan bahwa  yang menjadi kendala utama untuk menuju ke Tigo Lurah adalah bila musim hujan tiba, maka jalan akan terlihat becek dan seperti kubangan kerbau. “Kita akan berupaya memperjuangkan ini bersama-sama, baik ke Kepala Daerah atau DPRD agar langkah Tigo Lurah terbebas dari ketertinggalan bisa terwujud,” terang Sarmaini.
Salah seorang warga nagari Garabak Data, Jony (58). menjelaskan bahwa bila hujan turun, maka akses jalan menuju nagari di Tigo Lurah akan memilukan, terutama pada saat sekarang ini. “Saya kasihan sama anak-anak yang akan pergi sekolah terutama yang sudah SMP,  mereka harus jalan kaki puluhan kilometer dengan kaki telanjang. Itu semua demi pendidikan, ” jelas Jony,  yang mengaku belum pernah melihat kota Solok,  apalagi kota Padang.  Sebab sejak lahir selalu setia di Garabak Data dan tidak pernah keluar kecuali sekali ke Alahan Panjang karena ada saudaranya yang hajatan.
“Bila hujan dalam turun seperti saat ini, warga daerah ini tidak bisa bepergian ke luar kecamatan, karena kendaraan tidak bisa jalan di lumpur,” tambah Jony.
 Selain ke Garabak Data, jalan menuju nagari  ke Rangking Luluih juga belum beraspal. Jalan penuh tanjakan, dan licin saat musim hujan. Bukan saja kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun kesulitan mencapai pusat pemerintahan yang berada di Kapujan ini. “Namun jika dibandingkan dengan lima dan sepuluh tahun lalu, saat ini kondisi jalan ke Tigo Lurah sudah jauh lebih baik. Misalnya dari Sirukam, Kecamatan Payung Sekali hingga ke Simanau, nagari pertama di Tigo Lurah dari arah Sirukam ini, sudah banyak yang diaspal. Bahkan dari Simanau ke Kapujan aspalnya masih mulus karena baru saja diaspal. Termasuk jalan menuju kantor kecamatan dari Nagari Simanau juga sudah mulus karena baru siap dikerjakan. Namun masyarakat disana juga mencurigai pihak kontraktor,  karena minimnya pengawasan pengerjaan jalan,  maka kuat dugaan sarat kongkolingkong dalam pengerjaannya alias tinghinya korupsi dari pihak rekanan. “Hampir semua pengerjaan jalan ke ruas Tigo Lurah rawan penyimpangan,  karena kurang pengawasan dari pihak PU dan awak media,  terutama yang dikerjakan oleh grup Arpex milik pengusaha terkenal di Sumbar,” jelas warga setempat, Golek (43).
           Sebagai daerah paling terpencil, Tigo Lurah harus menjadi perhatikan khusus bagi Pemkab Solok. Karena setiap tahun tetap ada dana yang dialirkan ke Kecamatan ini. Hanya saja pembangunan jalan terkendala oleh posisi daerah ini sebagai hutan lindung dan masuk paru-paru dunia.  Karena itulah Nagari Garabak Data misalnya, hingga kini masih berjuang untuk menikmati jalan beraspal. Nagari yang berbatasan dengan Dhamasraya ini belum tersentuh aspal.
Namun kabar terakhir yang dihimpun media ini,  bahwa masalah hutan lindung sudah selesai izinnya.  Tinggal keseriusan Pemerintah Kabupaten Solok maupun Pemprov Sumbar untuk menganggarkan dana miliaran rupiah untuk membuka akses jalan ke nagari yang masih tertinggal ini agar bisa setara dengan daerah lain (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda