Milyaran Rupiah Terbuang Percuma Gedung Dibangun Mewah Tetapi Tidak Difungsikan

0
647

SOLOK, JN- Meski sudah berulang kali diberitakan di media, baik cetak maupun elekronik, namun hingga hari ini nasib gedung mewah yang dibangun di Komplek Kantor Bupati Solok di Arosuka, seperti tidak jelas dan ada tuannya.

Bahkan sehari-hari, pemandangan yang tidak asing lagi bagi pegawai dan anggota dewan di kantor DPRD Kabupaten Solok yang baru adalah, melihat para anjing liar ikut berkeliaran di kantor baru yang tidak terurus, karena letak kantor baru tersebut bersebelahan dengan kantor dan ruang sidang utama Kantor DPRD Kabupaten Solok yang lama.

Anahnya lagi, disaat anggota dewan bersidang ataupun tidak, sekelompok anjing liar hampir setiap hari berada disitu. Bahkan mereka juga tau, kapan anggota dewan bersidang dan mereka menunggu dengan setiap sisa-sisa makanan yang tidak habis oleh anggota dewan. Mungkin juga mereka ikut bersidang bagaimana mendapatkan sisa makanan yang dibuang oleh para anggota dewan dan pegawai yang bertugas disana.
“Jumlah mereka akan bertambah banyak, jika ada anggota dewan yang bersidang, sebab biasanya mereka akan dapat sisa makanan dari anggota dewan. Aneh juga, para anjing itu tidak merasa takut dan malah sudah rutin menghuni gedung itu setiap hari,” ujar salah seorang penjaga kantor DPRD Kabupaten Solok, Hendro, Senin (2/9).
Ditambahkan Hendro, jika malam hari tiba, dari gedung itu juga akan terdengar suara jeritan menangis dan minta tolong serta kadang juga terdengar suara lemparan benda-benda keras dari dalam gedung tersebut.
Kantor DPRD Kabupaten Solok yang baru, dibangun oleh Pemko Solok di Kompleks Kantor Bupati Solok di Arosuka, dengan maksud akan ditukar gulingkan dengan Pemkab Solok, hingga saat ini berakhir tidak jelas dan sudah dibangun lebih dari lima tahun lalu.

Karena tidak tuntasnya masalah tukar guling antara aset Pemda Kabupaten Solok dan Pemerintah Kota Solok masalah tukar guling aset Kabupaten yang ada di kota, maka sampai saat ini salah satu bangunan gedung DPRD yang diperuntukan untuk Kabupaten Solok dan dibangun dengan APBD kota Solok, hingga kini masih terkatung-katung, alias tidak jelas statusnya. Bahkan hampir semua dinding, atap dan halaman mulai keropos. Dan tidak ada upaya penyelamatan aset negara yang dibangun dengan APBD itu. Selain itu, di sekeliling bangunan kantor, tampakan tumpukan sampah dan juga rumput liar setinggi lebih Satu meter.
Bangunan yang dibuat megah dua lantai yang berdiri di Komplek Perkantoran Arosuka atau tepatnya berada persis di belakang kantor DPRD Kabupaten Solok sekarang, belumlah jelas. Menurut informasi yang beredar, bangunan tersebut dibangun oleh Pemerintah Kota Solok, untuk maksud tukar guling dengan aset Kabupaten Solok yang ada di Kota beras itu.
Meski sudah berlarut-larut, namun sampai saat ini masalah tukar guling aset Pemerintah Kabuapaten Solok dan kota Solok belum juga ada titik terangnya. Kabarnya bangunan bergonjong itu dibangun dengan dana APBD kota Solok tahun 2014 lalu, sengaja dibuat di Arosuka oleh Pemko Solok, dengan maksud bisa untuk tukar guling antara aset kota Solok dan Pemkab Solok. Namun setelah rampung dibangun sejak dua tahun lalu, kabarnya Pemkab Solok yang waktu itu masih di pegang Bupati Syamsu Rahim, tidak mau menerima aset tersebut karena nilainya tidak sepadam dengan nilai aset Kabupaten yang ada di kota. Bahkan ada juga yang menyebut karena kurang harmonisnya hubungan Bupati Solok waktu itu, Syamsu Rahim dengan Walikota Solok masa itu, Irzal Ilyas Dt. Lawik Basa. Berbagai cerita muncul dari gedung yang belum jelas milik siapa itu.
Menurut tokoh masyarakat Kabupaten Solok, Ossie Gumanti, saat ini gedung ruang sidang yang dibangun Pemko Solok itu, seperti bangunan tua yang banyak hantunya, seram dan sudah berlumut. Dibeberapa bagian seperti diatap, tampak sudah mulai rusak, sementara sekeliling gedung sudah ditumbuhi semak liar. Kalau siang, tampak puluhan ekor anjing liar juga tampak bersidang disana.

Bahkan sesuai cerita beberapa petugas Satpol yang bertugas di Kantor DPRD Kabupaten Solok, kalau malam dari ruang kosong bangunan itu, sering terdengar suara-suara aneh dan bahkan kadang seperti lemparan besi. “Iya benar, kalau malam tiba, kami sering sekali mendengar suara-suara lemparan besi atau kadang seperti ada suara orang berbicara yang sumbernya dari bangunan tersebut,” jelas salah seorang petugas Satpol PP yang bertugas di sana.

Sangat disayangkan, sesuai pantauan media ini, hampir seluruh bangunan rusak berat, mulai dari atap, dinding, hingga halaman ditumbuhi semak belukar dan tumpukan sampah.
“Yang namanya bangunan kalau tidak dihuni, maka akan cepat rusaknya. Coba saja rumah kita tidak dihuni selama satu Minggu, maka pasti akan kotor dan terasa seram, ” jelas Ossie Gumanti, tokoh masyarakat Kabupaten Solok, saat berbincang dengan awak media di lokasi gedung tersebut.
Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber prihal nasib bangunan itu menyebutkan bahwa mantan Bupati Solok, Syamsu Rahim enggan menerima gedung itu disebabkan dana yang dipakai untuk pembangunan berbeda jauh dari anggaran yang disepakati dalam MoU tukar guling. Anggaran yang disepakati untuk pembangunan gedung ini bernilai Rp 6 milyar. Sementara dari tender yang dilakukan Pemko Solok pembangunannya hanya bernilai Rp 4.791.909.000.- yang dimenangkan oleh PT. Agira Harapan Mandiri. Sementara selisih nilai yang ada sejumlah Rp 1.208.091.000.- Selain itu, hubungan kedua pemimpin kota Solok dan Kabupaten Solok waktu itu tidak harmonis.

Ossie berharap, agar gedung tersebut bisa difungsikan agar milyaran uang negara tidak terbuang sia-sia. ” Jika perlu usut tuntas, siapa yang terlibat bermain disana. Tapu kalau dibiarkan, akan terasa mubazir puluhan juta bahkan Milyaran rupiah uang rakyat yang terbuang di sana,” sebut Ossie Gumanti.

Ketua DPRD Kabupaten Solok, Jon Pandu, ketika diminta tanggapannya masalah gedung itu, enggan berbicara banyak karena tidak terlalu memahami banyak masalah tersebut. Namun Jon Pandu menginginkan gedung itu segera bisa dipakai secepatnya, karena DPRD Kabupaten Solok memang sudah membutuhkan ruang sidang yang lebih baik dari yang sekarang. “Mungkin tepatnya tanya saja ke Bapak Walikota Solok karena Pemko yang membangun dan beliau lebih memahaminya,” tutur Jon Pandu.
Sementara Mantan Ketua DPRD Kabupaten Solok priode 2014-2019, H. Hardinalis Kobal, SE, MM, sewaktu berbincang dengan KORAN PADANG di Arosuka, juga sudah sering menyarankan agar Pemko Solok dan Pemkab Solok segera menuntaskan masalah bangunan ini dan segera duduk baropok dengan difasilitasi oleh pemerintah provinsi seperti Gubernur atau Sekda Sumbar. “Kita dari Pemkab Solok yang diwakili Sekda baru-baru ini memang sudah pernah duduk membicarakan hal ini dengan Pemko Solok dan Kejari serta pihak terkait membicarakan masalah ini, namun yang seharusnya lebih serius tentu Pemerintah Kota Solok, sebab titik masalahnya ada di Pemerintah Kota Solok,” jelas H. Hardinalis. Mantan Ketua DPRD yang dekat dengan semua lapisan masyarakat ini, juga menyebutkan bahwa dalam pertemuan itu pihak Kajari menganjurkan agar permasalahan itu dibawa saja ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumbar dan hal itu dilakukan oleh kedua pemerintah daerah terkait.
Hardinalis juga menjelaskan bahwa secara pribadi waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah tahun 2016 lalu, dirinya pernah berdiskusi dengan mantan Sekdaprov Sumbar waktu itu, yakni Ali Asmar untuk menuntaskan masalah ini.

“Saya meminta kepada Bapak ali Asmar waktu sekamar dengan saya agar segera menyelesaikan masalah tukar guling gedung DPRD ini antara Pemerintah Kabupaten Solok dan Kota Solok. Tapi sampai sekarang belum ada realiasainya, padahal waktu di Mekkah, beliau satu kamar dengan saya dan berjanji akan menuntaskan masalah ini. Tapi sampai sekarang kok masih ngambang,” jelas H. Hardinalis Kobal. Namun dia berharap agar keseriusan Pemko Solok untuk menyelesaikan masalah ini sangat diharapkan. Apalagi hubungan kedua Pemerintah itu saat ini sangat harmonis, namun itu menurutnya tergantuang niat kedua pemimpin yang bertetangga dan bersaudara itu (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda