H. Yulfadri Nurdin, SH: “Belum Tentu Saya Akan Ikut Mencalon Menjadi Bupati Solok Mendatang”

0
1278

SOLOK, JN- Pernyataan mengejutkan datang dari Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH, yang menyampaikan belum tentu akan ‘sata’ atau ikut Pilkada Kabupaten Solok tahun 2020-2025 mendatang.

Padahal sebelumnya, H. Yulfadri Nurdin, SH, sebagai petahana, digembor-gemborkan akan menjadi salah seorang calon kuat bakal Bupati Solok priode 2020-2025 mendatang.
“Ya, belum tentu saya akan ikut mendaftarkan diri untuk mencalon menjadi Bupati Solok mendatang, dengan beberapa alasan yang belum bisa saya jelaskan secara rinci disini, ” jelas Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH, Minggu (3/11).

Pernyataan itu, jelas sangat mengagetkan semua pihak, karena sebelumnya H. Yulfadri Nurdin sangat sering diberitakan akan ikut bersaing untuk ikut menjadi kandidat balon Bupati Solok berikutnya.

“Saya sangat ingin berbakti untuk negeri ini. Namun melihat peran saya sebagai Wakil Bupati selama Empat tahun terakhir tidak terlalu luas bisa membantu masyarakat karena ruang lingkup saya dibatasi, tentu akan membuat kepercayaan publik kepada saya akan menurun. Meski itu bukan kemauan saya, ” sebut H. Yulfadri Nurdin.
Disebutkan Wabup, pada setiap acara resmi, jika Bupati berhalangan hadir, maka perintah untuk mewakili akan langsung turun ke Sekretaris Daerah atau ke Asisten atau staf Ahli, bukan kepada dirinya sebagai Wakil Bupati.

“Ya, seharusnya kalau Bapak Bupati berhalangan hadir, kan surat perintah mewakili sebuah acara akan turun kepada saya. Tetapi hal itu tidak ada saya terima. Pada hal waktu masih mencalon dulu, Bapak Bupati pernah bilang akan selalu berbagi pekerjaan secara bersama. Tetapi itu sekedar pemanis cerita, ” sebut H. Yulfadri Nurdin.

Disebutkan H. Yulfadri Nurdin, dalam penyusunan daftar nama untuk menjadi pejabat eselon seperti untuk Kepala Dinas atau yang sederajat dengan Kepala Dinas atau bahkan untuk Kabag dan Kasi pada sebuah Dinas, dirinya juga seakan tidak dianggap karena tidak dilibatkan. Yang lucunya lagi para Kepala Dinas sangat dibatasi berhubungan dengan dirinya.

Sebagai contoh, dalam pembangunan kantor Bupati yang baru dengan anggaran besar Rp 44 Milyar, dirinya sangat tidak setuju dan menentang pembangunan gedung tersebut. Termasuk untuk kelanjutan pembangunan Taman Hutan Kota Sukarami (THKW).

“Kenapa saya menentang pembangunan kantor Bupati, karena saya rasa itu belum mendesak dan gedung yang lama masih layak. Yang mendesak saat ini adalah perbaikan jalan ke daerah tertinggal seperti ke Sariak Alahan Tigo, Sungai Abu, Pasilihan, Tigo Jangko, Kubung, Kuncir, Aripan dan hampir diseluruh Nagari yang ada kecamatan di Tigo Lurah. Selain itu, banyak kondisi sekolah di seluruh Kabupaten Solok yang sudah rusak, termasuk sarana dan pelayanan kesehatan yang sangat memilukan, ” terang H. Yulfadri Nurdin.

Pernyataan ketidak suka itu sudah disampaikan Wabup H. Yulfadri Nurdin kepada Bapak Bupati secara tertulis sejak bangunan kantor Bupati tersebut masih dalam perencanaan. “Saya juga mengirim pesan itu di grup WA pemda, agar pembangunan kantor Bupati ditunda dulu karena banyak yang mendesak yang dibutuhkan masyarakat. Tetapi semua diam,” sebut Yulfadri Nurdin. Bahkan dalam surat resmi Wabup ke Bupati, hal itu juga disampaikan secara jelas, termasuk kelanjutan pembangunan taman Hutan Kota.
“Saya bukan tidak setuju taman Hutan Kota dilanjutkan pembangunnya. Namun harus terencana dan ada maketnya. Sehingga masyarakat juga tau dan bisa mengawasinya, ” terang Yulfadri Nurdin.

Atas dasar itulah, pihaknya menyatakan belum tentu akan ikut mencalon menjadi Bupati Solok. Sebab pihaknya yang rajin turun ke lapangan, selalu ditagih janji kampamye oleh masyarakat. Sementara uang untuk APBD untuk merealisasikan janji ke masyarakat terkuras untuk membangun kantor Bupati.
“Jadi jujur saya malu jika ditagih janji terus oleh masyarakat. Ya uang untuk membangun jalan atau sarana pendidikan dari mana lagi, ” sebut H. Yulfadri Nurdin.
Namun pihaknya masih berharap, agar pada sisa waktu masa jabatan satu tahun kedepan, pemimpin harus lebih banyak mendengar jeritan masyarakat.
“Menjadi pemimpin itu tidak gampang, dan kita harus siap menerima keluhan 24 jam, ” pungkas H. Yulfadri Nurdin (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda