Fauzi Ella Siap Maju Menjadi Calon Wali Kota Solok Priode 2020-2025

0
254

SOLOK, JN-Kemungkinan adanya calon Walikota Solok dari jalur independen, bakal terealisasi. Salah satu tokoh Kota Solok, yang lama berkiprah di luar negeri, Fauzi Ella Sliano, B.Sc, E.E, MBA, menegaskan dirinya bakal maju di kontestasi Pilkada Kota Solok 2020. Pria yang akrab disapa Bujang Syamsidar tersebut, sebelumnya merupakan alumni SMA Don Bosco Padang yang melanjutkan studi S1 dan S2 ke Amerika Serikat. Saat ini, Fauzi menjadi pengusaha sukses yang menetap di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Di tengah kesibukannya, Fauzi selama ini senantiasa menyempatkan diri pulang kampung ke Kota Solok.

Keputusan Fauzi maju dari jalur independen, dipilihnya sebagai wujud kecintaannya membangun Kota Solok dengan merangkul semua kalangan. Fauzi menegaskan dirinya juga siap bekerja sama dengan pengurus, kader dan simpatisan partai politik.

“Konsep saya sederhana. Bagaimana Kota Solok bisa lebih maju ke depannya. Sehingga, potensi letak geografis yang strategis, ditambah potensi SDM yang mumpuni, bisa mengangkat perekonomian seluruh warga,” ungkapnya.

Fauzi juga menegaskan, dari pengalamannya bekerja di luar negeri, dirinya ingin membawa pembaharuan bagi Kota Solok. Menurutnya, selama ini Kota Solok masih jalan di tempat. Usaha banyak yang mandeg. Hal itu menurutnya Kota Solok belum bisa memanfaatkan potensi letaknya yang sangat strategis di persimpangan Sumbar. Salah satunya, Kota Solok bisa menjadi pusat grosir, seperti layaknya Pusat Grosir Tanah Abang atau Aur Kuning di Bukittinggi.

“Dari sisi ekonomi, letak strategis di daerah persimpangan, Kota Solok harus mampu memaksimalkan potensi. Misalnya, dengan adanya pusat grosir, orang Sumbar dan daerah lainnya tidak sekadar lewat di Kota Solok. Sehingga, perputaran ekonomi lancar,” ujarnya.

Dari sisi penataan kota, Fauzi menyatakan dirinya ingin membuat serangkaian perubahan yang terencana di Kota Solok. Salah satunya, dengan memaksimalkan fungsi pasar. Pemetaan dan penataan pasar harus jelas. Setiap komoditas, seperti daging, sayur, sembako, meski terkelompok dengan jelas. Sehingga tidak bertumpuk di satu tempat.

“Tugas kepala daerah adalah melaksanakan fungsi manajerial, mengatur dan mendelegasikan tugas. Sehingga, setiap kebijakan harus mampu menyentuh segala unsur,” ungkapnya.

Fauzi juga menyatakan dirinya ingin menjadikan Kota Solok sebagai pusat pendidikan di Sumbar dan Sumatera. Seperti membangun universitas yang benar-benar mampu menarik minat lulusan SLTA. Dengan menarik jumlah mahasiswa ribuan orang, efek perekonomian akan berjalan lancar.

“Birokrasi harus mendukung. Pemerintah harus memberi fasilitasi. Kota Solok harus menjadi contoh dan ikon,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fauzi menyatakan leadership, atau kepemimpinan sangat penting. Sebagai Finance Bussines Director perusahaan Dupont untuk area Asia Pasifik, Fauzi menyebutkan dirinya pulang karena ingin berbuat sesuatu bagi Kota Solok. Yakni mengubah etos kerja dan budaya kerja, menanamkan disiplin tinggi, serta kemauan berubah sesuai perkembangan zaman.

“Di manapun, leadership sangat penting. Dengam memaksimalkan potensi dengan menempatkan orang-orang pada posisi dan skill yang tepat. Sehingga, seluruh jabatan dipegang oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing. Prinsip pemimpin, tak harus silbuk, tapi menenej dengan tanggung jawab. Pemimpin tak harus pintar, tapi mengetahui ilmu manajemen. Yang terpenting adalah mampu mengelola SDM dan potensi,” ujarnya.

Jalur Independen

Pilihannya maju dari jalur independen, karena dirinya tidak mau terikat conflict of interest, atau konflik kepentingan. Menurutnya, money politics (politik uang), akan membuat kinerja amburadul. Sehingga, dirinya ingin berangkat dari awal, dengan fikiran yang menyatu. Komitmen dan bimbingan ke bawahan yang paling penting.

“Maju dari jalur independen, karena saya tak mau diatur dan tak mau didikte jika nanti ditakdirkan Allah menjadi kepala daerah. Sehingga, saya bisa bertanggung jawab penuh. Saya ingin menekankan komitmen dan disiplin tinggi terhadap aturan. Leadership tersebut harus dicerminkan ke bawah. Seluruhnya harus ada solusi. Seluruh standar operasional prosedur (SOP), harus berjalan dan dilewati dengan baik,” tegasnya.

Saat ini, Fauzi dan rekan-rekannya sudah mengumpulkan sekitar 1.400 kartu tanda penduduk (KTP) beserta surat pernyataan dukungan. Meski belum semuanya terverifikasi, Fauzi menyatakan dirinya sangat gembira dengan tingginya animo masyarakat mendukungnya. Dalam pengumpulan KTP tersebut, dirinya selalu menekankan pentingnya kejujuran.

“KTP dan surat penyataan dukungan tersebut, merupakan salah bentuk mengukur penerimaan masyarakat. Kepada tim dan rekan-rekan, saya selalu menekankan agar KTP dan surat dukungan tersebut dikumpulkan dengan yang jujur dan benar. Jangan sampai, dukungan banyak, namun karena rekayasa, saat diverifikasi nanti, hasilnya tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Budaya Kerja

Selama 9 tahun kuliah dan bekerja di Amerika Serikat, Fauzi menyatakan disiplin, menghargai waktu menjadi kunci bagi kemajuan suatu daerah. Budaya malu tinggi, meski tak ada yang menegur. Tidak pernah malu belajar dan bertanya tentang pekerjaan, membuat akselerasi pembangunan suatu daerah berjalan sangat cepat.

“Setelah selesai kuliah strata 1 dan strata 2 di Amerika, saya memulai karier sebagai akuntan. Saat itu, saya tidak malu mengerjakan segala hal. Lalu menapak karier sebagai accounting sipervisor lalu finance director. Saya juga sempat bekerja di inchtesting service (seperti Sucofindo di Indonesia). Tiga tahun bekerja di inchtesting service, saya kemudian diterima di BNI, tapi tak mau dikontrak. Selanjutnya, saya bekerja di Bakrie Brothers, sebagai auditor. Kemudian ke DuPont, perusahaan Amerika Serikat yang bergerak di produksi pestisida, herbisida, pembasmi gulma, cat mobil, teflon anti lengket, lycra, hingga dacron. Saat itu, DuPont memakai sistem aplikasi akuntansi SAP. Dalam perkembanganya di Indonesia, DuPont bekerja sama dengan Maspion dan membuka pabrik di Sidoarjo,” ujarnya.

Selain sebagai Finance Manager di DuPont, Fauzi juga pernah bekerja di perusahaan Warner Lambert sebagai Finance Controller. Warner Lambert bergerak di bidang farmasi. Tahun 2000 perusahaan tersebut merger dan menjadi PT Pfizer Indonesia, perusahaan Amerika yang memproduksi obat-obatan. Di antaranya, Ponstan, Lipitor (obat kolesterol), Neurontin, Zithromax, Mylanta, Benadryl, hingga Viagra.

Sebelumnya, tahun 1999 Fauzi dipromosikan untuk menempati posisi sebagai Asia Pacific Business and Finance Director di bawah naungan Capsugel Incorporated Indonesia, perusahaan Amerika yang memproduksi Capsul. Perusahaan ini merpakan anak perusahaan dari PT Pfizer Indonesia.

Autobiografi

Fauzi Ella Sliano, B.Sc.E.E, MBA, lahir di Solok pada 27 Januari 1962, dari pasangan H. Nazir dan Hj. Syamsidar. Anak kelima dari 8 bersaudara ini, menempuh pendidikan di TK Aisyiyah Kota Solok. Kemudian SD di St. Fransiskus Bukittinggi dilanjutkan di SMP Frater Padang. Memulai SMA di SMA Don Bosco Padang, di tahun kedua, Fauzi pindah ke SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Usai tamat dari SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Fauzi melanjutkan pendidikan strata 1 (S1) di Indiana Instute Fort Wayne, Indiana, Amerika Serikat, dan berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Science dengan spesialisasi electrical engineering (B.Sc, E.E). Pendidikan magister (S2) didapatnya dari Northrop University, Los Angeles, dengan spesialisasi finance dan berhak menyandang gelar Master Bussines Administration (MBA). Saat itu, dirinya satu kampus dengan Ari Azwar Anas. Saat berkuliah di Amerika Serikat tersebut, Fauzi dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa Indonesia. Di bidang akademik, Fauzi juga masuk dalam buku mahasiswa berprestasi di kampus (sejenis hall of fame). Selama kuliah, dirinya juga diangkat menjadi asisten dosen dan asisten kepala laboratorium di dua kampus tersebut.

Di keluarga, Fauzi akhirnya menemukan jodohnya, yakni Dewi Indrajati, wanita keturunan Yogyakarta-Solo. Buah cinta mereka melahirkan tiga anak. Yakni Adam Keatsutrio yang kini menetap di Yogyakarta, Adis Azim Hayati di Jakarta, dan Muhammad Rizki Adimas yang kini menetap di Bogor. (rijal/01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda