Fashion Show Anne Avantie Lecehkan Suntiang Minangkabau

0
624
SOLOK, JN– Atas nama kreasi seni, kembali dilecehkan  suntiang meyerupai khas yang biasa dikenakan perempuan Minangkabau saat perta perkawinan. Pelecehan itu terjadi dalam suatu peragaan busana  dikenakan Sophia Latjuba  saat fashion show Anne Avantie yang bertajuk “Sekarayu Sriwaderi” di Jakarta Convention Center, pada Kamis 29 Maret 2018.
Rasa dan bahasa  keprihahatinan itu diungkapkan  M.A.Dalmenda Dt. Pamuntjak Alam selaku Koordinator BAKABA (Bangun Karakter Banagari) forum diskusi masyarakat Salayo, Solok pada Sabtu (7/4) di Salayo. Suntiang yang dikanakan tidak didukung dengan pakain  gaya modern bagian depan sebelah atas yang nyaris terbuka dan begitu juga bagian belakang yang sangat jauh dari sebagaimana mestinya busana  perempuan Minangkabau saat mengenakan suntiang.
Dijelaskan Menda Pamuntjak, suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan  Minangkabau  Sumatera Barat.    Minangkabau yang kental dengan filosfi adatnya berlandaskan ABS dan  BSK atau Adat Bersendikan Sya’ra dan Sya’ra Bersendikan Kitabullah.  Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofis tersebut tak lekang dipanas dan tak lapuk dihujan sekalipun zaman bergeser menunju moderinisasi.
    “Suntiang bukan semata hiasan di kepala pengantin, makna lainnya pemakaian suntiang bagi anak daro adalah suatu bentuk tanggunggjawab yang akan dipikul dipundak  anak daro dalam berumahtangga,keluarga dan lingkungannya. Dalam rumah tangga seorang perempuan berperan sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya yang harus dijaga keutuhan rumah tangganya, “ sebut Dosen Komunikasi Politik Fisip Universitas Andalas.
    Sementara, lanjut Menda Pamuntjak sapaan akrabnya, ketika perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki anak disebut sebagai bundo kanduang. Sosok seorang bundo kanduang memiliki sifat yang arif dan bijaksana yang bakal menjadi suri tauladan bagi kerabat keluartga dan kaumnya. Sedangkan ketika perempuan masih lajang, dia adalah bunga dalam lingkungan tempat tinggalnya yang harus terjaga dengan baik tingkah lakunya.
    Sekiranya itu benar adalah suntiang sebagai identitas perempuan Minagkabau yang dikenakan, maka jelas kita sebagai masyarakat Minangkabau sangat layak untuk merasa prihatin dan bahkan protes atas aksi tersebut. Sebagai masyarakat Minangkabau  harus prihatin dengan melayangkan protes terhadap piuhak penyelenggara. Agar bisa tersalurkan sikap protes tersebut, setidaknya pihak yang lebih berkopenten seperti Dinas Kebudayaan Prov.Sumbar bisa merespon kegelisahan masyarakat untuk disampaikan pada pihak penyelenggara.
    “Sebagai anak nagari atau masyarakat hukum adat kita harus peduli tehadap hal seperti itu. Siapa lagi jika kalau bukan kita sebagai masyarakat Minangkabau yang akan menjaga dan mengawal nilai-nilai tradisi dan kebudayaan yang masih kita warisi hingga saat ini. Semoga peristiwa itu tidak terulang lagi jika para perancang busana bisa saling menghargai tradisi dan budaya suatu daerah. Semoga saja hal itu tidak ada unsur kesengajaan dari Anne Avantie “, tegas mantan Kabag Humas Pemko Padang Panjang ini (wandy/Agus Haryadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here