Dialogis Berdimensi Politik dan Religius

0
82

Dialogis berdimensi politik dan relegius antara Prabowo dengan Ustad Abdul Somad (UAS) to dibuat tampak semakin nyata dilayar gelas TV One tadi malam, Kamis (11/4) tanyangan berdurasi 12 menit itu menjurus menjadi perbincangan hangat sehingga semakin terasa membakar aroma politik di tengah amuk gemuruhnya suasana masa pilpres yang memang sudah dipenghujung tenggat waktu pada 17 April mendatang. Dalam durasi yang tak begitu panjang itu, prabowo mengawali dengan memancing UAS menanyakan kondisi umat belakangan ini berangkat dari perjalanan relegius UAS berdakwah mengelilingi Indonesia.
Menimpali pertanyaan Prabowo, lantas UAS bertutur, bahwa kerapkali secara spontan ketika mengawali dengan ucapan salam pembukaan dakwah para Jemaah mengacungkan dua jari sebagai simbol yang diidentikkan bentuk dukungan mengarah pada Prabowo-Sandi. Diakui UAS, menyikapi fenomena demikian ia mengimbau agar jemaah tidak mengacungkan simbol dua jari, bernada pengingatkan yang dilakukanya itu karena tidak ingin ceramahnya dianggap mimbar ajang politik. Kata UAS dalam kapasitas sebagai dai dalam berceramah berupaya bersikap netral.
UAS dikaji dari lensa kacamata komunikasi politik menuturkan secara terbuka bahwa diakuinya pada setiap titik kunjungannya untuk berdakwah pada berbagai provinsi di Indonesia, sudah tak terbendung lagi bahwa rakyat memang membutukan Prabowo Subianto untuk memimpin Negara Indonesia. Tersematkan dalam pesannya yang dianulir oleh khalayak pemirsa bahwa secara senyap UAS telah menyatakan sikap politiknya untuk memberikan hak politik untuk mendukung capres 02.
Mendengar penjelasan itu, Prabowo berulang meyakinkan dirinya dengan menanyakan kembali pada UAS apakah itu terjadi pada setiap penjuru daerah masyarakat menyatakan dukungan demikian, kembali UAS dengan tegas menganggguk dan menegaskan berkata iya. Seakan Prabowo merasa “ Yakin lai, picayo indak” (punya rasa keyakinan tapi dilanda rasa keraguan) terhadap urain dalam penjelasan UAS sehingga ia terseret haru biru telah melanda hati dan mata batinnya.
Prabowo seperti tehenyak duduk dikursinya dengan duduk menyandar dan sedikit membungkukkan badan yang memperlihatkan sikap kerendahan hati di hadapan UAS. Gesturnya tubuhnya tak banyak bergerak meski dalam nuansa suka cita. Tatapan matanya tak lepas dari wajah UAS. Rona diwajahnya memperlihatkan ketakjuban menyimak tuturan kata dari UAS yang tentunya di luar perkiraannya mendapat dukungan kuat dari rakyat sebagai politisi untuk maju sebagai calon presiden.
Memang tak ada senyum tersungging dari bibirnya sekalipun lepas sekenanya. Larut dalam keseriusan, memang! Begitulah sosok Probowo memperlihatkan rasa hormat dan kesantunan pada ulama sekelas UAS. Roman garangnya berorasi bak singa podium itu seakan runtuh di hadapan UAS. Pesan dari komunikasi politik UAS menngisyaratkan kepada Prabowo dan umat keputusan politiknya untuk mendukung pasangan pilpres 02 Prabowo- Sandi. UAS secara terbuka memang tidak secara eksplisit menyatakan satu kata dan kalimatpun dukungan politiknya kepada Prabowo namun sempat mempertegas bahwa umat sudah jenuh dan menghendaki agar Prabowo menjadi presiden. UAS mengisahkan pada pelbagi pertemuannya dengan banyak para kiai, ulama dan ustadz yang selalu menyebut merasakan kemenangan Prabowo pada pilpres 2019.
Sedangkan pesan relegiusnya, ketika Prabowo menjadi presiden nanti, kata UAS, agar konsisten mentaati fatwa yang diberikan ulama demi kemakmuran serta kemaslahatan umat dengan bersikap adil dalam memimpin. Dipenghunjung dialog itu, Prabowo kepada UAS bertanya hal apa yang harus dilakukannya. Sejurus, UAS mengeluarkan tasbih hijau pucuk daun yang merupakan tasbih kesayangannya dan sebotol minyak wangi sebagai cendera hati sambil menasehatkan prabowo agar tasbih dan minyak wangi itu pada setiap malam melakukan dzikir dengan menyebut kalimah lailah ha illalah secara berulang kali untuk mengingat dan berserah diri pada Allah. Kata UAS lagi, “ Saya bukan orang kaya, jadi tidak bisa memberikan sesuatu. Saya berikan tasbih dan minyak wangi ini,” sebut UAS.
Dipenghunjung dialog, UAS dengan cloosing statement meminta kepada Parabowo jika terpilih jadi presiden nanti akan dua hal. “ Pertama, jangan undang saya ke istana dan biarkanlah ulama-ulama yang dekat berada di Jakarta dan kedua, jangan beri saya jabatan. Biarkan saya berdakwah hingga ke tengah rimba karena itu tugas saya, “ UAS mengakhiri.
Menjumpai UAS adalah bagian dari strategi komunikasi politik (strategic political communications) Prabowo dengan mengampil peran sosialisasi politik dengan menggunakan komunikasi bermedia yang dijembati oleh media televisi agar pendekatan dan tingkat lobi dan negosiasi politiknya dengan UAS terbuka,terukur yang kemudian dihadirkan di ruang publik pada ujung perjuangan sebagai capres. Apakah terjadinya dialog itu karena faktor kebetulan belaka atau dadakan dan atau memang sudah dirancang bangun sebelumnya sebagai suatu bagian dari strategi pamungkas dari politik kubu capres 02. Entahlah! Ibarat air mengalir, Prabowo membiarkan dan menyaksikan perkelanaan UAS berceramah dari ujung ke ujung wiilayah yang ada di NKRI. Maka di penghujung perjalanana politiknya mendatangi UAS selaku ulama meminta tausiah dan petunjuk, meski Prabowo – sandi telah mengantongi tiket pilihan dan dukungan dari hasil ijtima para ulama.
Secara tersirat, prabowo telah melakukan manuver politik yang cerdas dan bermartabat dengan mencari legitimasi politik untuk meraih kekuasaan yang bisa jadi bagi kubunya atau umat menganggap apa yang disajikan UAS dari kisah pengalaman perjalanan relegiusnya berdakwah belakangan ini seakan itu “Proklamir dari suara rakyat” atau “Tanda tangan dan cap stempel basah dari rakyat”, jika benar maka itu sah-sah saja karena proses dialogis berkomunikasi dengan komunikatif itu terjadi atau dihadirkan di ruang publik tanpa rekayasa dan rekapaksa yang kemudian disaksikan jutaan pemirsa televisi TV One di Indonesia maupun mancanegara.
Menyoal politik tidak terbantahkan jika berujung pada kepentingan, namun setiap ada kepentingan belum tentu selalu berafiliasi dengan politik. Jika ditarik ujung tali dan pangkal talinya dapat dipuntal benang merahnya bahwa di dalam politik selalu didapati unsur kepentingan sehingga politik menjadi bagian terpenting yang tidak terpisahkan dari kepentingan. Meski demikian, dapat dipahami bahwa politik tidak sama dengan kepentingan. Hakikatnya, strategi politik dengan bersilatrrahmi kepada UAS adalah semata kepentingan politik namun Prabowo bernasib mujur, dia dalam upaya sekali merenggkuh dayung ternyata dua pulau tersinggahi yaitu dukungan politik dan tausiah untuk pengisi rohani untuk memperteguh iman dan takwa sebagai seorang muslim.
Sisi lain, politisi papan atas selevel Prabowo terlihat berhasil melakukan personal branding secara baik dan tepat untuk berdialog dengan UAS dengan menimbulkan persepsi positif bagi umat. Terbangunnya branding Prabowo tidak terlepas dari citra politik (political brand) yang telah dibangun oleh bos besar partai Gerindra ini dengan pengalaman empiriknya di gelangggang politik nasional dan internasional.
Lantas, bagaimanakah kubu 01 Jokowi- Kiai Ma’ruf Amin menyikapi atas peristiwa fenomenal dan heroik yang dilakukan kubu 02 Prabowo –Sandi? Akankah sanggup silaturrahmi politik ala Prabowo dengan UAS akan sanggup menggerusi popularitas 01 secara signifikan? Lagi dan lagi, entahlah! Campur tangan Allah melalui takdirnya akan terjadi pada 17 April. Bravo untuk Indonesia Damai (penulis adalah M.A.Dalmenda
Dosen Fisip Unand /Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komuniasi Unpad Bandung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda