SOLOK, JN- Disebabkan akses jalan yang buruk menuju sekolah yang dipimpinnya, seorang Kepala Sekolah Dasar di SDN 11 Pianggu, Kecamatan IX Koto Sungai Kasi, mundur dari Jabatannya dan rela menjadi guru biasa di sekolah yang lain.

Guru dan Kepsek Berprestasi tersebut bernama Elni Maslen ,S.Pd, dan sudah banyak membawa perubahan untuk SD negeri 11 Pianggu. Namun baru bertugas sekitar 20 bulan di sekolah tersebut, Kepsek Elni Maslen mendapat mutasi menjadi Kepsek SDN 09 Pianggu, meski masih di Kecamatan IX Koto Sungai Lasi. Perpindahan Kepsek tersebut sesuai dengan SK Bupati Solok Nomor 821.2/812BKPSDM-2020 tanggal 03-01-2020 tentang guru diberi tugas Sebagai Kepsek.
Kepindahan Kepsek tersebut, dusambut rasa sedih dan tangis haru oleh majelis guru dan Komite Sekolah yang menilai Kepsek Elni Maslen sudah sangat berprestasi membawa SD negeri 11 sejajar dengan sekolah lain di Kabupaten Solok.
“Buk Kepsek Elni sudah membawa perubahan yang banyak untuk sekolah ini, namun sangat disayangkan beliau sudah dipindahkan ke sekolah lain. Tetapi karena lokasi sekolahnya sangat jauh dan kondisi jalan yang sangat buruk, beliau memilih mundur menjadi Kepsek dan menjadi guru biasa yang lebih dekat ke rumah beliau, ” terang Ketua Komite Sekolah SD negeri 11 Pianggu, Salmi Hayati, yang diamini oleh Gusnita orang tua murid dan warga
Rabu (15/1).

Kepindahan Kepsek berprestasi dan murah senyum tersebut, disambut rasa sedih dan haru oleh siswa komite, wali murid dan majelis guru SDN 11 Pianggu.

Karena dipindahkan terlalu jauh dari kediaman, akhirnya Kepsek menolak untuk menurut Sekolah baru dengan cara tidak menghadiri undangan Sertijab yang digelar pada hari Kamis tanggal 9 Januari 2020 di SDN 04 Taruang-Taruang. Bahkan beliau rela mengundurkan diri jadi kepala sekolah dan memilih untuk mengabdi jadi seorang guru yang dikarnakan dituasi jalan yang akan beliau lalui dari hari kehari dan juga tidak mengizinkan bagi fisik beliau yang meggunakan sepeda motor untuk pergi ke sekolah.

Salmi Hayati mengaku sangat sedih karena atas mundurnya Kepsek berprestasi tersebut.
“Keputusan tersebut beliau ambil memang dengan berbagai pertimbangan yang menurut isi hati beliau baik. Akhirnya beliau rela kehilangan pangkat serta jabatan dari pada beliau hadir kapan perlu saja yang ujung-ujungnya kena umpat bagi warga dan gaji yang beliau terima tidak akan berkah dengan hasil umpat masyarakat tadi,” terang Salmi Hayati.

Disebutkan Salmi, yang paling mereka sesali adalah tidak sesuai bukti dan kenyataan dari himbauan semasa kampanye waktu Pilkada dulu, dimana waktu itu dalam sosialisasi slalu ngomong kalau ada PNS yang bertugas diluar daerah/yang jauh dari tempat tinggal, akan dipindahkan ke lokasi tempat kerja yang dekat dari tempat tinggal nya. Toh pada kenyataannya sekarang, malah yang dekat yang diperjauhkan dari tempat tinggal nya. Dicontohkannya, Kepsek dari SDN 24 Selayo yang putra daerah asli Selayo, malah dimutasi ke SDN 12 Pianggu di Cubadak dan akhirnya beliau juga menolak dan bersedia untuk jadi guru biasa. Kemudian ada lagi kepala sekolah yang kosong di SDN 14 Sungai Jambur dan sampai saat ini tidak ada yang mengisinya. “Tetapi kenapa yang sudah senang kok diacak-acak?,” tanya Salmi Hayati.

Dia juga mencontohkan bahwa untuk kecamatan IX koto Sungai Lasi sampai saat ini sudah 3 sekolah SD yang tanpa memiliki kepala sekolah.

“Kami berharap, semoga sesegera mungkin ada solusinya. Kenapa beliau buk Elna mengambil keputusan seperti ini? Jawabnya ya karena beliau tak pernah untuk minta-minta jabatan serta minta-minta untuk dipindahkan. Kalau orang yang meminta-minta jabatan, apapun keputusannya, mereka harus bersedia menerima dimana ditempatkan asalkan dapat jabatan. Tetapi bagi seorang ibuk Elni Maslen, itu tak pernah beliau lakukan karna beliau bekerja untuk sebuah pengabdian,” sebut Salmi Hayati panjang Lebar.

Karena prestasi beliaulah yang menjadikan beliau sukses dan berhasil membawa beliau menjadi seorang kepala sekolah.

“Kesedihan karna ditinggal seorang pemimpin yang Kharismatik, tentu sangat kami rasakan. Kami mengucapkan terimakaih atas pengabdian serta kebersamaan ibuk Elni Maslen selama kurang lebih 2 tahun bertugas di SDN 11 Pianggu,” sebut Salmi Hayati lagi.

Kehilangan buk Elni Maslen sangat dirasakan masyarakat Pianggu, karena Jasa dan semangat kerjanya amat luar biasa. “Perpisahan ini ibarat kehilangan kompas, kami tak tahu arah kemana. Semoga setelah berpisah, kita dapat kembali bersama beliau lagi karena ikatan yang kuat. Bagi kami Beliau adalah Seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, baik, ramah dengan tutur sapa yang manis, disiplin mudah bergaul dan bisa merangkul masyarakat untuk saling bekerjasama. Beliau bukan seorang atasan yang hanya menyuruh mengerjakan sesuatu saja, melainkan merangkul untuk bisa meraih kesuksesan bersama,karna beliau seorang pemimpin yang hebat dan berprestasi yang hadir bersama kami untuk membuat sebuah perobahan,” cerita Salmi Hayati.

Sementara pengakuan buk Elni Maslen, pihaknya mengaku memiliki fisik yang sudah tidak kuat lagi untuk naik turun bukit dengan jalan terjal.

“Saya tidak begitu mahir bersepeda motor. Sementara jalan menuju sekolah baru kondisinya buruk dan naik turun serta sepi. Jadi saya putuskan mundur dari Kepsek dan menjadi guru biasa saja di sekolah lain yang dekat dari lokasi tempat tinggal saya. Ini demi alasan keamanan dan keluarga, ” sebut
Elni Maslen.
Meski menurut Elni Maslen, bahwa tugas seorang pemimpin sangat berat dengan banyak undangan yang serba mendadak pula. Dicontohkannya, seumpama beliau baru sampai di SDN 09 Pianggu, lalu masuk telpon ada acara di Korwil atau di Kabupaten, pasti beliau akan turun lagi kebawah dengan menempuh jalan yang begitu kurang pas untuk seorang perempuan yang memiliki fisik yang sudah mulai agak berkurang dikarenakan sudah sering jatuh diturunan, semasa beliau menjadi Kepsek di SDN Bukit Bais dulu.

“Tangan saya sudah tidak kuat dan suka kram sewaktu mengendarai sepeda motor, jelas membuat membuat saya merasa tidak sanggup untuk ditugaskan disana. Prinsip saya adalah lebih menyayangi badan serta keluarga dari pada jabatan yang mengandung resiko serta mengancam nyawa saya, ” tutur Elni Maslen dengan raut muka polos.
Ditambah lagi sekolah baru tidak dilalui bus atau angkot dan yang ada hanya ojek. “Sementara nungguin ojek datang, lamanya mintak ampun. Nanti kalau kelamaan nungguin ojek serta tumpangan, jelas akan mempengaruhi aktifitas saya dan dijamin tidak maksimal,” sebut Elni Maslen.

Ketua DPRD kabupaten Solok, Jon Pandu berharap agar pada saat mutasi akan digulirkan, tolong perhatkan juga kondisi fisik Kepsek dan mempertimbahkan jarak jauh dekat seorang Kepsek dengan sekolah yang akan diugaskan.
“Dengan adanya kasus atau penempatan buk Elni Maslen ini, maka ini jelas salah satu kelalaian tugas Dinas BKPSDM dan Dispora Kabupaten Solok, ” tutur Jon Pandu.
Disebutkannya, kasus buk kepsek mundur, merupakan salah satu contoh kecil kelalaian dinas pendidikan dan BKPSDM
(wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here