Deni Nofri Calon Tunggal PAW Wakil Ketua DPRD Kota Solok: Pernah Jadi Tukang Ojek Dan Tukang Baruak

0
1565

SOLOK, JN– Deni Nofri yang akrab disapa Pudung tidak pernah menyangka sebelumnya akan menjadi anggota dewan, apalagi sampai bergelut didunia politik. Pria kelahiran 11 November 1976 ini dulunya hanyalah seorang tukang ojek yang berpenghasilan ala kadarnya. Bahkan dulu Pudung mengira politik itu kejam, karena adanya dorongan dari kawan-kawan Pudung akhirnya masuk dunia politik, ternyata politik tidaklah sekejam yang dikiranya dulu.

”Dulu saya kira politik itu kejam, setelah digeluti ternyata tidak, ibaratkan mobil, politik adalah kendaraan yang laju serta arahnya bergantung kepada sopir. Intinya jika yang mengendari kendaraan itu orang baik hasilnya akan baik, jika orang kejam hasilnya kejam,”kata Pudung di rumahnya di Kelurahan VI Suku, Lubuk Sikarah, Kota Solok beberapa waktu yang lalu.

Pudung mencerikatan kisah hidupnya, ketika masih muda pernah menjadi tukang ojek, pedagang kaki lima (PKL), tukang parkir dan sebagainya. Tidak pernah sedikitpun niat untuk menjadi orang poltik. Apalagi, dengan basic hanyalah seorang pedagang.

Keinginan tumbuh dan berkembang didunia politik datang dari keadaan yang memaksa, terutama dari kalangan masyarakat VI Suku. Pudung memulai karir politiknya pada tahun 2009, dengan menjadi kader dari Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dengan perolehan suara pada caleg sebanyak 100 lebih, meskipun banyak namun masih belum cukup bagi dirinya untuk duduk di kursi anggota dewan.

Pada tahun 2012 Pudung memilih partai Demokrat sebagai kendaraan politiknya, karena kesamaan identik dengan adatnya, yaitu musyawarah dalam mengambil keputusan. Pudung yang kini berprofesi sebagai kontraktor, mengatakan hanya mencari kepuasan batin didunia politik.

“Yang saya cari Cuma kepuasan batin, apalagi saya didorong oleh masyarakat untuk masuk dunia politik, oleh sebab itu, harus bisa bermanfaat demi masyarakat membantu dan menolong sesama, dengan jalur politik ini saya berharap dapat bermanfaat untuk masyarakat banyak, disitulah letak kepuasan batinya,”kata Pudung.

Dari segi pendidikan Pudung bersekolah di SD Pertiwi yang sekarang SD 20 Sinapa, SMP 4 dan SMP 2 Muaro Labuah dan STM Negeri Solok jurusan Bangunan Air. Pudung mengaku tidak pernah punya tim dalam berpolitik, semuanya adalah sahabatnya, siapapun yang mendukungnya dianggap satu keluarga,”dapat membantu sesama adalah kepuasan batik bagi saya,” kata Pudung kepada Koran Padang.

Sebagai orang tua yang memiliki 4 orang anak, serta mencukupi kebutuhan keluarga melalui berdagang. Pudung tidak pernah bergengsi sekalipun, meskipun hanya sebagai tukang ojek, bahkan Pudung juga pernah menjadi tukang baruak.

”Bahasa kasarnya tukang baruak, dulu saya pernah jadi tukang ambil kelapa ditemani seekor baruak, sebutan kawan-kawan ya tukang baruak, hehe,”kata Pudung diriingi gelak tawa.

Menurut Pudung generasi muda di Kota Solok harus menahan gengsi, “saya lebih segan dengan generasi muda yang bekerja serabutan dengan jerih payah dan keringatnya sendiri, ketimbang anak-anak muda yang berbondong-bondong menjadi pegawai honor dengan gaji yang sedikit,”kata Pudung.

Menurut Pudung penghasilan seorang tukang baruak sangat besar, jika dilihat pekerjaan pasti dipandang sebelah mata oleh orang banyak. Namun, penghasilannya hampir sama dengan pengusaha tambang.

”Banyak pekerjaan lain, yang meskipun dipandang rendah namun sangat saya segani, apalagi dibalik itu semua untuk mencukupi kebutuhan keluarga, seperti tukang ojek, berdagang, PKL, tukang parkir, tukang sayur, dan tukang –tukang lainya, itu semua adalah pekerjaan yang sangat istimewa di mata saya, karena orang-orang itu tidak gengsi demi mencukupi kebutuhan keluarganya,”kata Pudung.

Berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak pernah membatas diri dalam bergaul adalah prinsip hidup Pudung. Bagi pudung tidak punya uang dirinya tidak pernah merasa miskin, jika kurang bergaul barulah dirinya merasa jatuh miskin.

”Saya kalau tidak punya uang tidak pernah merasa miskin, tapi kalau ada kawan atau kerabat yang sudah jarang ketemu itu saya merasa hampa, kadang telfon untuk bertemu dan sekedar ngobrol, canda dan tawa, bergaul membuat hidup saya lebih bahagia, punya banyak teman yang dianggap seperti keluarga sendiri,”kata Pudung.

Ketika mendengar Martin Jofari yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kota Solok serta anggota Partai Demokrat Kota Solok, meninggal dunia. Pudung mengaku sangat sedih, karena Martin merupakan kawan akrabnya selama berkarir di dunia politik. Dulu ketika pasangan Irzal Ilyas-Zul Elfian menang, Pudung yang masih berprofesi sebagai tukang ojek, diajak untuk ikut berpolitik, dan ketika di Demokrat Martin adalah sahabat Pudung.

Nama Deni Nofri memang banyak tak kenal, tapi kalau Pudung semua orang di Kota Solok mengenalnya. Martin Jofari adalah salah seorang yang selalu mendorong Pudung untuk tetap bekerja keras. Begitupun dengan Ketua Partai Demokrat Irzal Ilyas yang paling keras mendorong.

“Martin pernah berkata kepada saya semua orang adalah saudara, sementara Irzal Ilyas pernah berkata kita semua ini setara, perkataan-perkataan mereka menjadi dorongan bagi saya ketika dalam berpolitik, membuat saya semakin dewasa di dunia perpolitikan,”kata Pudung.

Berkawan dengan siapa saja, baik dunia hitam namun tak ingin terseret. Suasana kerja dibuat nyaman, agar hasilnya nyaman, seperti tukang, pekerja serabutan dan sebagainya. Pudung tak pernah ingin mengemis. Memberi manfaat kepada orang lain adalah kepuasan batin bagi dirinya.(Van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here