Bawaslu Tolak Gugatan Pilkada Iriadi-Agus Syahdeman, Lanjut ke PTUN Medan

0
1438

SOLOK, JN- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Solok, hari Minggu sore (11/10), menggelar sidang putusan sengketa yang diajukan Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Iriadi-Agus Syahdeman (ASD).
Pada Sidang tersebut Bawaslu memutuskan menolak gugatan bakal pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Solok, Iriadi Dt. Tumanggung -Agus Syahdeman. 
Gugatan itu dilayangkan bakal paslon  Iriadi-ASD, sebab sebelumnya mereka ditolak Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Solok yang menyatakan pasangannya Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
Sidang Bakal calon Bupati Solok 2021-2025, Iriadi dt. Tumanggung dan pasangannya Agus Syahdeman, mengadukan KPU Kabupaten Solok kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Pengaduan itu dilakukan Iriadi-Agus Syahdeman (ASD), terkait dibatalkannya pasangan itu menjadi calon bupati karena gagal pada tes kesehatan yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atau dianggap Tifak Memenuhi Syarat(TMS).

“Bawaslu sudah memproses pengajuan permohonan sengketa kami dan sudah memverifikasi dan memutuskan paslon kami tidak memenuhi syarat formil dan materil,” kata Agus Syahdeman.

Pihak mengajukan permohonan sengketa pada Senin (28/9) lalu, namun setelah ditolak KPU dan Bawaslu, mereka akan naik banding ke PTUN Medan.
“Bapak Iriadi orangnya sehat dan bugar dan tidak pernah memasang cincin di jantungnya. Jadi itu tidak ada alasan beliau sakit jantung,” sebut Agus Syahdeman.
Pihaknya berharap akan ada keadilan du PTUN Medan agar pasangannya bisa mencalon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Solok.
Pada kesempatan berbeda, Komisioner KPU Sumbar Izwaryani menyebut, KPU sudah melalui tahapan sampai penetapan calon sesuai peraturan. Meski begitu menurut dia, KPU akan menghormati apapun nanti keputusan yang diambil Bawaslu dan PTUN.
“Kalau menang gugatan ya kita akan laksanakan apa yang menjadi keputusan PTUN ,” kata Izwaryani.Saat ini, pasangan calon kepala daerah di Sumbar termasuk dari Kabupaten Solok sudah memasuki masa kampanye sejak Sabtu (26/9).
 Sbelumnya pihak Iriadi dan Agus Syahdeman sangat menyayangkan keputusan KPU yang mengirim pengacara yang tercatat sebagai memakai pengacara Tim Pemeriksa Daerah (TPD), yakni
Dr. Aerma Deva,SH.MH.
“Dengan memakai pengacara TPD, apakah ini tidak akan mempen2garuhi keputusan majelis. Dan apakah tidak ada pengacara lain di Solok?,” sebut Agus Syahdeman, Minggu (4/10/2020).

Dengan memakai pengacara Dr. Aerma Deva,SH.MH yang sampai ini masih Tim Pemeriksa Daerah (TPD) apakah ini tidak akan mempengaruhi keputusan majelis?.  Tapi sampai akhir pesidangan dari info  Prof Muhamad selaku ketua DKPP Sumbar, Baliau akan di non aktifkan.
” Yang menjadi tanda tanya kenapa KPU memakai pengacara yang jelas beliau anggota TDP yang kerjanya mengawasi Bawaslu dan KPU, bukan DKPP tapi TDP?,” tanya Agus Syahdeman.
Disebutksn Agus Syahdeman, di hari pertama waktu tahapan musyawarah mufakat sudah di ingatkan tim pengacara kami agar tidak memakai Pengacara TDP. Tapi beliau bersikeras mau juga jadi PH KPU, karena katanya tidak ada aturan hukum yang mengatur dia selaku anggota TDP menjadi PH.Agus Syahdeman juga mempertanyakan bahwa sidang juga belum maksimal menerapkan protokol kesehatan tidak jaga jarak juga nampaknya belum maksimal di terapkan.

Menurut Agus Syahdeman, pihaknya yakin, KPU Kabupaten Solok sebagai penyelenggara Pilkada, adalah orang-orang pilihan yang integritasnya tidak perlu diragukan lagi. “Mereka adalah orang pilihan yang berkomitmen memajukan demokrasi Tanah Air. Tetapi di fakta persidang musyawarah penyelesaian sengketa pemilihan dengan Pemohon pasangan Iriadi-Agus Syahdeman di Baswalu, KPU Kabupaten Solok menggunakan pengacara oknum Tim Pemeriksa Daerah atau TPD yang punya konflik kepentingan dalam masalah ini. Dan kabarnya tadi sudah non aktifkan,” terang Agus Syahdeman.
Namun kedepan pihaknya berharap, sebagai wasit, berlakulah adil, berpegang teguhlah kepada aturan per undang-undagan yang ada, agar demokrasi ini tumbuh dan berkembang sesuai dgn harapan, juga agar image yang berkembang di masyarakat,  terutama di kalangan pendukung Paslon Iriadi-ASD, bahwa ada yang berkepentingan, dan tangan-tangan ghaib yang tidak menginginkan Iriadi-ASD sebagai kompetitor di Pilkada Kabupaten Solok 9 Desember mendatang.

Ketua KPU Kabupaten Solok, Ir. Gadis, saat dihubungi masalah ini menjawab bahwa sebaiknya masalah tersebut ditanyakan saja ke Bawaslu. Saat dihubungi Ketua Bawaslu Kabupaten Solok, Afri Memori tidak bisa dihubungi karena yang bersangkutan tidak mengangkat Handphone.
Sebelum itu, KPU Solok tanggal 25 Septembet 2020 lalu, sudah mengundi nomor urut pasangan calon Bupati dan calon wakil bupati Solok.
Nomor urut 1 jadi milik Nofi Chandra-Yulfadri, nomor urut 2 Epyardi Asda-Jon Firman Pandu dan nomor urut 3 untuk Desra Ediwan Anantanur-Adli (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here