Anggota Dewan Jangan Hanya Dekat Dengan Masyarakat Hanya Waktu Mau Mencari Suara Saja

0
194

SOLOK, JN- Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat di seluruh Indonesia, biasanya kalau calon anggota dewan atau Kepala Daerah, hanya akan dekat ke masyarakat, waktu akan ada Pemilihan anggota legislatif atau mau Pilkada, karena mereka butuh suara untuk mencapai tujuan mereka. 
Hal itu terjadi, baik bagi calon anggota dewan atau Kepala Daerah yang akan mengincar kursi di DPR, DPRD, DPD atau untuk menjadi calon Kepala Daerah. Meski tidak semuanya benar, namun lebih dari separoh fakta itu terbukti di lapangangan, habis manis sepah dibuang.
“Biasanya setelah keinginan mereka tercapai, rata-rata mereka banyal yang lupa dengan yang memilih. Mereka tidak lagi sadar, kalau mereka adalah dipercaya masyarakat untuk mewakili suara mereka menyampaikan aspirasi kepada pemerintah,” sebut tokoh masyarakat Kabupaten Solok, H. Hasan Basri, Senin (23/3).
Menurut Hasan Basri, ungkapan  kacang lupa kulitnya, sudah tidak aneh lagi bagi masyarakat kita. Rata-rata masyarakat mengumpat, mencela serta membenci wakil mereka, karena banyak prilaku wakil mereka yang sudah duduk,” sebut Hasan Basri.
Pihaknya juga tidak menyalahkan bahwa saat ini banyak terjadi bala dan musibah, hal itu tidak lepas dari ulah perbuatan manusia juga yang sering lupa Sang Pencipta Alam Semesta.

Disebutkan Hasan Basri, krisis kepercayaan masyarakat kepada pemimpin atau wakil mereka di DPRD, DPR RI atau DPD RI, adalah hal biasa. Namun kalau ditela’ah, lanjut Hasan Basri, bila orang tidak lagi amanah, maka tanggunglah dosanya di akherat kelak. “Saya tidak menuding semua anggota dewan atau pemimpin seperti itu, tetapi rata-rata dari yang kita lihat ya seperti itu tadilah,” jelas Hasan Basri.
Dosen Fakultas Hukum dari Universitas Indonesia (UI) Depok, Hartono, SH, MH, M. HUM, menyebutkan bahwa kebiasaan para wakil rakyat yang jauh berubah sebelum terpilih menjadi anggota legislatif atau eksekutif, tentu juga dipengaruhi prilaku wakil mereka yang setelah mereka duduk akan mendapat fasilitas yang jauh lebih ‘wah’ dari kebiasaan mereka sehari-hari sebelum terpilih, seperti fasilitas kendaraan, tidur di hotel berbintang. Semua kebutuhan dilayani atau yang lainnya, jelas salah satu penyebab pola hidup dan gaya berpikir mereka berubah.
 “Namun sebenarnya, kalau kita menyadari, semua fasilitas yang diberikan, adalah dalam rangka untuk melayani masyarakat, bukan hanya untuk kemewahan pribadi dan keluarga. Apalagi seorang wakil rakyat, tentu mereka harus sadar bahwa mereka diberi fasilitas untuk memperjuangkan rakyat yang mereka wakili,” terang Hartono .
            Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengajara kondang, Sanggap Sidahuruk, SH, MH, dimana banyak kasus perselingkuhan terjadi di kalangan anggota DPR dan DPRD , karena mereka sudah seperti raja dan semua kebutuhan dipenuhi, termasuk masalah makan, berpergian, waktu sidang. “Bahkan kita tidak tau kalau ada juga anggota dewan sampai ke mandi-mandi juga minta dilayani,” ujar Sanggap sambil berkelakar (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here